Pakan Pasta, Revolusi Dalam Industri Perbenihan

Tekan 80% Ketergantungan Pada Cacing Sutra

Jumat, 25/07/2014

NERACA

Sleman – Penerapan teknologi di sektor perikanan budidaya memang sungguh diperlukan. Hal ini terkait erat dengan efisiensi biaya produksi dan mengikis ketergantungan pada kondisi alam serta iklim. Demikian pula di bidang pakan ikan pada industri pembenihan ikan. Guna menyiasati kelangkaan cacing sutra sebagai pakan utama dalam pembenihan ikan air tawar, perekayasa dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara telah menemukan pakan ikan berbentuk pasta untuk mensubstitusi bahkan memangkas ketergantungan pada cacing lembut yang produktivitasnya sangat tergantung dari alam tersebut.

“Ini adalah terobosan yang sangat luar biasa. Ini adalah suatu revolusi di pembenihan ikan air tawar. Karena kita tidak lagi tergantung dengan cacing sutra yang sangat langka dan terbatas. Untuk perkembangannya sendiri ikan bagus, normal, bahkan lebih murah biayanya. Lebih murah dari penggunaan cacing sutra. Cacing sutra bisa dibudidayakan tapi tetap terbatas. Kalau hujan dan banjir akan langka juga,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto di Desa Paten, Kecamatan Triadi, Kebupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (23/7).

Sejauh ini, sambung Slamet, budidaya ikan air tawar ini sangat tergantung dengan cacing sutra, sehingga dengan pakan pasta ini para pembudidaya atau produsen benih tidak akan tergantung lagi pada cacing sutra. “Karena kita tahu bahwa kalau hujan dan banjir itu cacing sutra akan hanyut dan menurun. Kalau itu terjadi benih-benih ikan air tawar akan turun drastis,” tambah Dirjen Slamet.

Dijelaskan Slamet, dengan pelet pasta ini, para pembudidaya khususnya di pembenihan ikan air tawar tidak perlu takut lagi kekuarangan cacing sutra. “Karena kalau pun tergenang dan banjir, kita masih bisa memproduksi benih-benih air tawar. Menurut pengalaman pelaku usaha pembenihan, pakan pasta ini bisa menekan 80% ketergantungan dari cacing sutra,” sebut Slamet.

Dirjen Slamet juga memaparkan, keunggulan dari pakan ini pasta ini adalah menghasilkan benih yang relatif seragam, sehingga mampu mengurangi kanibalisme. Selain itu dengan menggunakan pakan pasta ini, benih menjadi lincah, sehat dan cepat tumbuh karena benih mengkonsumsi pakan pasta tersebut didasar kolam, sehingga terhindar dari kematian karena adanya fluktuasi suhu yang ada di permukaan air.

Bahan baku yang diperlukan cukup sederhana yaitu telur bebek, telur ayam ras, gandum, susu skim, potato powder, tepung kedelai, backing powder dan air sedang bahan tambahannya yaitu vitamin (C, B12, A, D), microalgae, attractant, enzim, na-benzoat dan mineral mix. Melalui formulasi pakan yang tepat sesuai kebutuhan benih ikan dan dibimbing oleh para perekayasa yang senantiasa siap membantu pembudidaya, Slamet yakin bahwa pakan ini akan mampu meningkatkan produksi benih ikan yang mungkin selama ini masih jadi kendala dibeberapa wilayah budidaya.

Pada kesempatan yang sama, perekayasa yang juga ahli nutrisi ikan dari BBPBAP Jepara Fairus Mai Soni mengatakan, kandungan protein dari produk pakan berupa pasta ini bisa mencapai 60%. “Kandungan proteinnya 60%. Bukan hanya proteinnya yang dibutuhkan, tapi komposisi diet dan kecernaannya. Perkembangannya dan kecernaannya sangat bagus untuk pasta ini. Bahkan bisa 90% tingkat kehidupannya. Biayanya lebih murah, karena dengan pasta ini untuk 100 ribu benih lele bisa mencapai biaya Rp 600 ribu, sementara dengan cacing sutra bisa Rp 1,2 juta,” jelas Fairus.