Lebih Untung Budidaya Cacing Sutra Ketimbang Padi

Penopang Industri Hulu Akuakultur

Jumat, 25/07/2014

NERACA

Sleman – Budidaya cacing sutra merupakan peluang bisnis yang begitu menjanjikan. Potensi bisnis yang besar ini telah dibuktikan langsung oleh anggota Asosiasi Cacing Sutra Yogyakarta (ACY). Bahkan, dibanding dengan menanam padi, misalnya, budidaya cacing sutra jauh lebih menguntungkan. Kalau produktivitasnya lagi bagus, ACY bisa produksi cacing sutra sebanyak 50 liter per hari.

“Dibandingkan dengan pertanian, ini akan jauh lebih baik dari pertanian seperti padi. Per hari kalau lagi prima pendapatan bisa dapat Rp 750 ribu. Kalau sedang kondisi surut bisa Rp 300 ribu per hari,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto dalam kunjungan kerja di Dusun Gancahan VII, Desa Sidomulyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (23/7).

Kalau dihitung berdasarkan pendapatan harian tersebut, maka dalam sebulan asosiasi yang punya lahan satu hektar itu bisa mengantongi Rp 22, 5 juta. Jika dikalikan 12 bulan alias setahun, pendapatan mereka bisa mencapai Rp 270 juta. Angka ini tentu sangat jauh dari pendapatan petani padi yang berkisar Rp 90 jutaan dalam setahun.

Namun demikian, Slamet menjelaskan, budidaya cacing sutra di wilayah DIY ini belum bisa memenuhi permintaan pasar yang sangat besar, terutama dari pelaku usaha perbenihan ikan. Apalagi, budidaya cacing sutra masih sangat dipengaruhi oleh intensitas hujan dan kekeringan atau musim kemarau.

“Kendalanya alam. Karena banjir, kekeringan, itu juga kendala. Itu yang membuat produksinya belum stabil. Sehingga saya melihat ini adalah salah satu upaya untuk secara berkelompok untuk mensuplai UPR (unit pembenihan rakyat), pembenihan air tawar,” jelas Dirjen Slamet.

Modal dari usaha budidaya cacing sutra ini pun sangat simpel. Hanya butuh lahan, aliran air dan pupuk fermentasi sebagai pakan. Namun, karena faktor alam tadi, produktivitas cacing sutra terbilang fluktuatif. “Makanya kita mencari teknologi, dari sirkulasi, dan lainnya. Kalau kita lihat, ini kan sumber air, kalau dimanfaatkan, luar biasa. Ini kan nutriennya terbuang, sehingga perlu ada satu tandon yang dikumpulkan dan ditarik lagi ke atas. Ini mungkin bisa menggunakan plastik. Kalau resirkulasi, terbuang juga berapa persen melalui rembesan,” ungkapnya.

Budidaya cacing sutra yang begitu menjanjikan ini, sambung Slamet, memang belum tersentuh teknologi. “Jadi ini sebetulnya belum tersentuh dengan teknologi. Ini sebenarnya peluang dari para perekayasa, peneliti, pembudidaya cacing ini untuk memenuhi kebutuhan pembenihan. Ini bisnis baru yang bisa dilakukan,” imbuh Dirjen Slamet.

Cacing sutra, sebagaimana pakan pelet, merupakan kebutuhan utama dalam industri perikanan budidaya. Biaya pembelian cacing bagi para pembenih ikan bahkan bisa mencapai 60% dari total biaya produksi. “Belum ada teknologi terapan yang bagus. Memang sudah dilakukan rekayasa dan teknologi. Masih mencari tempat yang ideal. Bagaimana tempatnya tidak bau, bagaimana sirkulasi air bisa digunakan lagi. Karena air yang terbuang pun masih mengandung nutrien,” kata Slamet.

Dijelaskan Slamet, cacing sutera adalah pakan alami yang paling banyak digunakan oleh pembenih sekaligus merupakan komoditas yang paling di cari oleh pembenih. Kebutuhan yang tinggi akan cacing sutera ini terkadang menemui kendala apabila datang musim hujan sehingga pasokan dari alam berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. ACY sendiri memasok kebutuhan cacing sutera di unit pembenihan lele, sidat, patin dan gurame.

Kepada wartawan, dalam kesempatan itu, Ketua ACY, Suhardi mengatakan, produktivitas cacing sutra di tempatnya memang terkendala oleh lingkungan dan alam. Pasokan air masih menjadi kendala, apalagi di musim tanam padi seperti saat ini, karena petani sedang giat-giatnya memanfaatkan air. Sementara jika menggunakan pompa, biaya produksi cacing sutra akan membengkak. Namun demikian, dia percaya ke depan produktivitas cacing sutra akan lebih baik, asal pakan berupa fermentasi dan air mencukupi.

Dalam catatan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, budidaya cacing sutra merupakan inovas budidaya cacing sutera yang telah dikembangkan di beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB) di Sukabumi, Tatelu dan Jambi. Inovasi ini merupakan terobosan yang dikembangkan untuk mengatasi keterbatasaan ketersediaan cacing sutera dari alam.