Menghapus Jejak Roda

Sabtu, 26/07/2014

Setiap hari pada 2011 hingga 2013, ada sebanyak 80-an orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Padahal, dari data, terungkap, kebanyakan korban adalah para kader pemimpin bangsa, kaum muda yang masih enerjik dan produktif.

Itulah keprihatinan seorang Edo Rusyanto yang selama tujuh tahun bergelimang dalam kegiatan penyadaran tertib berlalu lintas. Bahkan, sepeda motor pertama yang dikendarainya, Honda Kharisma, diberi tulisan besar-besar pada bagian magic jar, istilah box sepeda motor, ‘Bersahabat, Santun di Jalan’. Itu adalah motto dari organisasi bikers yang pernah dipimpinnya, Independent Bikers Club (IBC).

Perjalanan panjang selama tujuh tahun sejak 2007 itu dirangkumnya dalam sebuah buku berjudul ‘Menghapus Jejak Roda’. Apa makna dari judul itu? Edo bersama komunitasnya, baik di IBC maupun di Road Safety Association (RSA) yang dia pimpin sekarang, berharap tak ada lagi bekas roda kendaraan yang mengalami kecelakaan di jalan raya akibat teledor atau tidak tertib hingga menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Dia pun mengutip data yang dikeluarkan Polri sepanjang 23 tahun sejak 1992 – 2013, sebanyak 300 ribu orang tewas dan sebAnyak ,5 juta orang lainnya menderita luka berat dan ringan. Pemicu kecelakaan itu antara lain menerobos lampu merah, melawan arus untuk menghindari antrean panjang kendaraan, hingga akibat mengebut dan tak bisa mengendalikan kendaraannya.

Apa saja yang sudah dilakukan Edo dan direkam dalam kemasan berita maupun di blognya? Saat bersama IBC, rekaman kegiatannya antara lain mengadakan kampanye safety riding di sejumlah sekolah maupun di Kelompok Belajar sambil Bermain ‘Alang’alang’ di Ciawi. Bersama komunitas bikers, dalam acara Indonesia Consummunity Expo (ICE) 2009, Edo memprakarsai Deklarasi Keselamatan Jalan Lintas Komunitas. Di antara komunitas yang ikut menandatangani deklarasi itu adalah IBC, Pulsarian, Honda Tiger Mailing List (HTML), Yamaha Yupiter Owner Club (YJOC), Karisma Honda Cyber Community (KHCC), Bismania, Panther Mania, Nebeng.com, dan Suara Transjakarta.

Nyaris di setiap malam Minggu, Edo mengadakan kopi darat ke sejumlah komunitas maupun atas nama RSA menggelar diskusi tentang kasus-kasus keselamatan di jalan raya. Kampanye keselamatan di jalan bahkanjuga dilakukan di komunitas pengajian Majelis Rosulullah yang bermarkas di Masjid Al-Munawarah, Pancoran, Jakarta Selatan, tiap Senin malam. Dia prihatin karena simpatisan Majelis Rosulullah yang datang dari berbagai penjuru tempat di kawasan Jabodetabek itu sangat sedikit yang memakai helm pengaman. Maka jadilah ‘Gerakan Anak majelis Rosulullah Sadar Helm dan Mematuhi Peraturan Berlalu LIntas’.

Untuk meredam fatalistas di jalan raya tersebut, diperlukanlah regulasi pemerintah dan penyediaan sarana transportasi umum massal. Perlunya, untuk mengurangi kepadatan kendaraan di jalan raya yang menyebabkan kemacetan di mana-mana. Edo pun bersyukur, telah diboncengi Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono saat hendak menyiapkan jalur khusus sepeda motor di jalur alternatif mudik sepanjang 46 km di ruas Tanjung Pura hingga Cikalong di Kabupaten Kerawang. (saksono)