"Terbiasa dengan Bisnis Sejak Kecil"

Rachmad Widjaja Sakti, Director of Product & Marketing PT Speed Up Technology

Sabtu, 26/07/2014

Memiliki keluarga dengan background pengusaha, membuat 80% obrolan yang ada diisi dengan pembicaraan mengenai bisnis. Alhasil Rachmad Widjaja Sakti pun lihai mengembangkan bisnis perusahaannya berbekal background tersebut .

NERACA

Istilah “Bisa karena biasa” mungkin terdengar klise di telinga, tetapi pada kenyataannya memanglah demikian, Director of Product & Marketing PT Speed Up Technology, Rachmad Widjaja Sakti juga mengutarakan hal yang sama, dia mahir berbisnis karena dibiasakan berbisnis dalam keluarga sejak kecil.

Menurut dia, kamahiran meramu strategi bisnis yang dimilikinya saat ini dikarenakan dia telah terbiasa meramu strategi bisnis sejak kecil. Maklum, keluarganya berasal dari kalangan pengusaha makanya pembicaraan waktu lenggang pun tak jauh-jauh dari urusan bisnis.

“Dari kecil kita sudah dibiasakan berbicara mengenai bisnis, dengan kata lain kalau ada sepuluh pembicaraan, delapannya pasti berbicara mengenai bisnis, kebiasaan seperti inilah yang terus ditanamkan di otak saya,” kata dia.

Tak heran sejak lulus kuliah di California State University Fresno Bachelor of Science (BSc), Industrial Engineering (2000), dia langsung direkrut perusahaan manufacturing technology terkemuka Silicon Valey. Bekerja selama dua tahun di sana, membuat dia banyak belajar dan berkompetisi dengan berbagai kalangan mengenai dunia teknologi.

“Kebetulan saya lulus dengan kumlaude dari Universitas California State, makanya langsung ada perusahaan yang merekrut saya, dua sampai tiga tahun di sana, saya lalu putuskan untuk kembali ke Indonesia,” jawab Rachmad.

Pada 2003, Rachmad kembalinya ke Indonesia dan membangun bisnis, saat itu dia melihat teknologi internet sedang booming, tidak ingin ketinggalan dia pun punya niatan untuk ikut main mengembankannya bisnis teknologi tersebut dengan menciptakan Speed Up modem 3G.

“Kita lihat tahun itu telekomunikasi dan internet sedang, saya lalu buat modem 3G yang masih berupa dongel,” tegas dia.

Pada 2012, atau sejak Ipad meluncur, tren broadband connectivity pun menjadi berubah, siapa sangka kali itu ternyata broadband connectivity bisa diganti dengan produk macam Ipad. Lagi-lagi tak ingin ketinggalan, pihaknya pun menikuti tren tersebut dengan membuat tablet, kali pertama membuat tablet pihaknya menggandeng Qualcomm.

“Sejak Ipad meluncur, tern berubah menjadi seperti itu, makanya kita juga buat tablet pertama kita waktu itu bersama Qualcomm,” tegas dia.

Lantas pada 2011-2013 Rachmad merasa kalau hanya bermain di hardware saja sudah kurang menarik, dia pun membuat Speed Up Studio yang notabene adalah aplikasi store, dimana aplikasi yang ada di dalamnya dapat dikonversi ke tablet android. Yang membanggakan, kata Rachmad adalah dari total 1 juta aplikasi yang ada, 80% diantaranya adalah karya anak bangsa dan dapat dibeli dengan cara pemotongan pulsa secara langsung.

“Karya anak bangsa ada 80% loh di dalamnya, selain itu juga aplikasi yang diinginkan konsumen dapat dibeli tanpa menyertakan credit card atau debit, konsumen hanya tinggal oke saja untuk dipotong pulsanya,” jelas dia.

Mengisi Kekosongan Pemain

Strategi yang diusung Rachmad dan timnya dalam memanangkan persaingan adalah dengan mengisi kekosongan pemain. Artinya, mereka fokus bermain di satu produk berdasarkan kebutuhan pasar yang ada di Indonesia, jadi semuanya diserahkan pada maunya costumer Indonesia.

Alhasil terciptalah produk-produk unggulan dengan harga murah. Seperti produk yang baru saja mereka luncurkan bersama rekan kerja mereka Intel, yakni SpeedUp Fun yang kabarnya diharga di bawah Rp1 juta.

“Kita lihat pemain di situ kosong walau sebenarnya peluangnya sangat besar. Orang-orang di luar sana banyak yang mengatakan itu luar biasa murah, karena kalau disetarakan dalam kurs dolar itu hanya berharga sekitar US$80,” kata Rachmad.

Meski demikian, dia menolak dikatakan kalau Speed Up fokus untuk membuat produk-produk murah. Pasalnya, saat ini pun ada produk mereka yang berharga lumayan mahal. Intinya, semua disesuaikan dengan pasar yang ada di Indonesia, sementara saat ini pihaknya melihat kekosongan di situ, makanya dia mencoba mengisinya.

“Fokus kita itu bukan fokus di sisi barang murah. Karena kalau seperti itu kan jatuhnya trader jadinya, dan kita tidak mau seperti itu. Pokoknya kita berupaya mengisi ruang kosong, seperti tablet yang baru kita lucurkan beberapa waktu lalu, setelah berdiskusi dengan intel ditemukan bahwa market ini kosong, makanya kita main di situ,” tegas Rachmad menyangkal.

Ke depannya, seperti diutarakan Rachmad, Speed Up akan mengembangkan beberapa produk seperti smartwacth, beberapa tablet serta mengambangkan konten. Dia pun optismistis akan produk yang tengah dikembangkannya nanti, tetapi semua itu masih enggan dirincinya.

“Kita akan perkuat penjualan, kita juga tengah mengembangkan beberapa produk, pada intinya kita tahu segmen mana yang sedang kita kembangkan. Tapi, saya belum mau merincinya seperti apa nantinya. Kita konfiden, kita jalan. Yang pasti nantinya kita ingin SpeedUp Studio di bundling produk internasional,” kata dia.

Go Internasional

Dengan menggandeng beberapa perusahaan kelas dunia, Speed Up berencana melebarkan sayap masuk industri teknologi dunia, atau dengan kata lain mereka ingin go internasional. Ya, perusahaan lokal ini tengah mempertimbangkan membangun pabrik di wilayah Indonesia di waktu mendatang.

Bahkan, saat ini pihaknya sedang melakukan kalkulasi pembangunan pabrik, mulai dari seberapa besar kapasitasnya hingga pekerjaan apa yang nantinya mampu dilakukan di fasilitas, maklum untuk membangun pabrik dikatakan Rachmad setidaknya membutuhkan dana investasinya bisa sekitar Rp1 triliun. “Semua sedang proses,” tegasnya.

Rachmad menargetkan sebelum 2015 berakhir sudah ada pabrik Speed Up di Indonesia. Dimana saat ini masih dalam tahapan pencarian lokasi dan perhitungan bisnis, kebijakan pemerintah seperti PPnBM dan kebijakan lain akan mempengaruhi pengambilan keputusan pembangunan pabrik.

Intinya, Rachmad ingin ada brand lokal yang mendunia. Makanya sejak beberapa waktu lalu, Speed Up menyatakan akan mulai melirik pasar internasional, dengan mengekspor produk ke luar negeri seperti Amerika dan negara lainnya. Dengan produk yang sama tetapi spesifikasi agak berbeda.

“Karena kan kalau di sini asalkan murah spek seadanya masih laku, tetapi di sana punya standar-standar tersendiri, misalnya RAM-nya minimal harus 1GB, di sini RAM 512 MB masih laku di sana tidak akan dilirik,” jelas dia.

Hobi dan Kerja

Bagi orang dengan kesibukan seperti Rachmad, antara hobi dan pekerjaan biasanya tidak akan seimbang. Maklum, seseorang super sibuk tak akan sempat melakukan apa yang ia gemari untuk melepas lelah. Lantas bagaimana dengan sosok Rachmad Widjaja Sakti? Menurut dia, meskipun kesibukannya cukup padat dia tak pernah melupakan hobi yang telah lama dilakukan. Yakni bermain basket.

Maklum, sejak duduk di bangku SMA dan hijrah negeri Paman Sam, olahraga basket lah yang sedang tren di sana. Meski demikian, itu bukanlah alasan mengapa Rachmad memilih olahraga basket. Menurutnya, cedera karena permainan ini lebih kecil dari olahraga lain semisal olahraga sepakbola.

“Saya tidak suka main sepakbola karena takut keseleo, main basket pun tak lepas dari itu sebenarnya. Tetapi, risikonya lebih kecil daripada bermain sepakbola, itu makanya saya pilih olahraga ini,” bebera dia.

Selain itu, dalam permainan bola basket juga terdapat falsafah hidup yang akan banyak bermanfaat dalam dunia kerja. Salah satunya adalah teamwork, dengan olahraga ini atlet terbiasa melakukan teamwork.

“Michael Jordan pun kalau main walau agak individualistis pasti akan melakukan lemparan terhadap kawan, kalau tidak tidak akan menang timnya, dan dia bahkan bisa dikmeluarkan dari tim,” sebut Rachmad yang juga hobi traveling dan membaca buku.

Maka dari itu, dalam hidupnya pun dia berpegang teguh pada prinsip bermain basket. Dimana dia (manusia) membutuhkan manuasia lainnya dalam kehidupan, untuk itu sebagai manusia harus bisa bersosialisasi dan menjalin networking dengan orang lain.

“Makanya, kalau Anda perhatikan setiap kali kita launching kita tidak pernah bekerja sendiri, kita selalu bekerjasama dengan perusahaan lain, misalnya dengan Intel sekarang ini untuk produksi tablet, atau dengan Electronic City untuk memasarkan produk, atau dengan perusahaan lainnya,” tutup dia.