Menyelamatkan si Kuda Besi

Sabtu, 26/07/2014

Dari data yang dirilis Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) 2014, di seluruh dunia, terdapat 83,64 juta unit sepeda motor. Jumlah itu menguasai 81% jumlah kendaraan bermotor yang ada.

Selebihnya, mobil 11,24 juta unit atau 115 dari total jumlah kendaraan bermotor. Lalu, bus sebanyak 2,26 juta unit di seluruh dunia atau hanya 2% jumlah kendaraan yang ada. Dan truk menduduki posisi tiga besar dengan jumlah 5,60 juta unit atau 6% populasi kendaraan bermotor.

Sedangkan populasi sepeda motor terbanyak di Tiongkok yaitu sebanyak 23,05 juta unit, menyusul India sebanyak 14,81 juta unit. Bagaimana dengan Indonesia? Populasi sepeda motor di Indinesia mencapai 7,77 juta unit atau mayoritas populasi di kawasan Asean yaitu sebanyak 11,08 juta unit. “Sebanyak 57% penduduk di Indonesia merupakan pasar yang potensial krena konsumennya kelas menengah ke bawah,” tutur Ketua Umum AISI Gunadi Sindhuwinata.

Mengapa pasar sepeda motor di Indonesia sangat besar? Setidaknya ada tiga alasan mendasar. Pertama, sepeda motor merupakan transportasi yang murah dan terjangkau. Kedua, penyediaan sarana transportasi umum massal, karenanya di kota-kota di Indonesia sangat terlambat atau kurang sama sekali. “Ketiga, adanya kemudahan membeli sepeda motor dengan cara kredit,” kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Hal itu juga dibenarkan Didi Asdi, seorang pegawai sebuah bank di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Menurut dia, dengan sepeda motor, jelas bisa menghemat biaya dan waktu. “Sepeda motor juga praktis untuk keperluan apa saja, apalagi bebas macet,” kata dia.

Data Global Status Report on Road Safety yang dibuat Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2013, menyebutkan, dengan populasi terbesar di dunia, tingkat kematian pengguna sepeda motor di Asia tertinggi di atas rata-rata dunia, yaitu 6,5 kematian tiap 100 ribu penduduk.

Sejumlah upaya sudah ditempuh sejumlah negara untukmemperkecil risiko kecelakaan sepeda motor. Malaysia, memperkenalkan jalur khusus sepeda motor pada 1980. Hasilnya, adanya jalur khusus itu mampu menurunkan tingkat kecelakaan sebesar 39% dan tingkat fatalitas hingga 83%.

Program Motorcycle Blackspot di Australia pada 2010, mampu menurunkan 24% risiko kecelakaan. Program itu menangani tiga masalah, yaitu pertama, mencegah kecelakaan di satu titik atau jalur tertentu. Kedua, mengatasi kawasan persimpangan, dan ketiga, rute jauh.

Di Tiongkok, beberapa kota telah menerapkan kebijakan larangan sepedamotor. Di antaranya, penghentian penerbitan izin sepeda motor baru di Ghuangzhou pada 1998 dan di Wuhan pada 2002. Pemerintah juga melarang sepeda motor melintas di jalan-jalan utama, salah satunya di Ghuangzhou pada 2004. Sepeda motor juga dilarang di daerah pusat kota, seperti di Beijing pada 1985, Xi’an pada tahun 2000, Tianjin pada 2006, dan Haikou di 2010.

Pada 2007, Ghuangzhou, Shenzhen, dan Dongguan pada 2007 mearang sepenuhnya sepeda motor. Empat kota mengeluarkan larangan izin sepeda motor buatan non-Tiongkok, yaitu di Tianzhi, Shantou, Nanning, dan Dongguan.

Yang lebih komprehensif dalam mengatur sepeda motor adalah di Taiwan. Pembenahan yang dilakukan pemerintah Taiwan antara lain, perbaikan sarana dan prasarana angkutan umum secara menyeluruh. Berikutnya, mengatur dan menerapkan kenaikan tarif parkir. Lalu, kewajiban memakai helm, memisahkan jalur sepeda motor dan pemakai kendaraan roda empat. Satu lagi, pengaturan two-stage left turn di persimpangan lampu merah.

Pemerintah Ho Chi Minh di Vietnam, mulai membatasi pemakaian sepeda motor di kota-kota besar seperti Hanoi dan Ho Chi Minh. Sepeda motor juga dilarang memasuki area yang tingkat kemacetannya tinggi di pusat kota. Sebagai gantinya, pemerintah Vietnam akan membangun delapan jalur Metro di Hanoi serta 6 jalur Metro dan 3 jalur ligh rail di kota Ho Chi Minh.

Tertib Lalu Lintas

Bagaimana di Indonesia? Polisi dan Dinas Perhubungan (Dishub) telah membuat area khusus sepeda motor di belakang garis stop. Contohnya di kota Depok. Jalur khusus sepeda motor sudah diterapkan di kawasan Bandar udara Soekarno-Hatta maupun di kawasan Jalan Jenderal Sudirman-Jalan MH Thamrin. Di Jakarta Pusat.

Menurut Bambang, ada delapan alasan mengapa membeli sepeda motor dan mobil di kota-kota besar di Indonesia. Sebanyak 26% yang membeli sepeda motor menyatakan, karena lebih nyaman, lebih cepat (22), dan lebih selamat (13%), nyaman 10%, dan sebagai bukti keberhasilan (9%). Sedangkan yang membeli mobil, alasannya, karena nyaman (22%), aman dn lebih cepat (15%), fleksibel 13 tahun, serta lebih murah (11%).

Sudah cukupkah? Tidak. Upaya sudah ditempuh untuk mengurangi kemacetan. Kepala Dishub DKI Jakarta Muhamad Akbar sedang mengupayakan uji coba electronic road pricing (ERP). “Regulasi yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kemacetan saya rasa kurang serius,” ujar Gunadi kepada Neraca.

Pemda DKI Jakarta pernah berencana melarang sepeda motor melaju di kawasan jalan protokol. Namun, usulan itu ditentang komunitas bikers. Mereka beralasan, yang selama ini menciptakan kemacetan di Ibukota justru mobil pribadi. “Jadi batasi dulu operasi mobil pribadi, baru motor,” kata Harso Kurniawan, ketua Independent Bikers Club (IBC).

Bahkan, IBC bersama komunitas motor lainnya lebih banyak melakukan gerakan penyadaran agar tertib di jalan raya melalui program Safety Riding Goes to School. “Yang paling susah adalah penyadaran agar tertib d jalan, seperti berhenti di belakang garis setop, tidak menyerobot trotoar, tidak memodifikasi sepeda motor yang membahayakan keselamatan diri dan orang lain,” kata dia. (saksono)

Statistik KECELAKAAN DI INDONESIA

JENIS 2009 2010 2011 2012 2013

------------------------------------------------------------------------------------------------

Total Kecelakaan 62.960 109.319 109.776 117.949 100.106

Total Kematian 19.979 31.234 31.185 29.544 26.416

Luka Berat 23.469 46.851 36.767 39.704 28.438

Luka Ringan 62.936 93.702 108.811 128.312 110.448

-------------

Sumber Polri