Arus Mudik Dorong Ekonomi Daerah

Jumat, 25/07/2014

Fenomena mudik ini adalah buah dari urbanisasi dan aglomerasi ekonomi. Urban bias terjadi dalam proses pembangunan ekonomi Indonesia. Model pembangunan yang bias ke kota berdampak terhadap konsentrasi tenaga kerja dan penduduk terutama di kota-kota metropolitan dan besar yang menjadi pusat pemerintahan, industri, maupun perdagangan.

Kota-kota ini menjelma menjadi magnet luar biasa bagi tenaga kerja, industri, jasa, mal, dan perusahaan. Kekuatan sentripetal akibat aglomerasi menyebabkan aktivitas ekonomi terkonsentrasi secara geografis di kota metropolitan dan besar. Pada 2000, persentase penduduk yang berada di perkotaan Indonesia mencapai 42%. Pada 2015, angka urbanisasi ini diperkirakan mencapai 57,8%.

Aliran dana yang dibawa para pemudik tentunya bila dialokasikan pada usaha yang produktif yang dapat mempunyai efek pengganda yang luar biasa. Selain dana terserap untuk biaya perjalanan pulang balik, di daerah tujuan pemudik, yang mayoritas perdesaan, dana ikut juga dikucurkan. Dengan adanya mudik tersebut paling tidak ekonomi perdesaan bisa menggeliat sesaat.

Menurut data Bank Indonesia, uang yang beredar pada Ramadan dan Idul Fitri tahun lalu mencapai Rp 103,1 triliun. Nilai itu meningkat Rp 17,4 triliun dibandingkan dengan realisasi 2012. Sementara data BI menunjukkan, jumlah uang yang beredar di masyarakat mencapai sekitar Rp 506 triliun. Peningkatan peredaran uang itu disebabkan faktor meningkatnya kebutuhan masyarakat, terutama selama Ramadan dan Idul Fitri.

Seandainya uang yang harus dipegang oleh masing-masing pemudik rata-rata sekitar Rp 5 juta, dan jumlah pemudik diasumsikan sekitar 17 juta orang, maka uang yang beredar sudah sekitar Rp 85 triliun. Ini belum termasuk transaksi RTGS. Bayangkan saja, bila para pemudik menyisihkan dana dengan niat untuk zakat, infak, sedekah (ZIS) sebesar minimal Rp 100 ribu per pemudik, maka setidaknya terkumpul Rp 1,7 triliun. Jumlah sebesar ini bisa digunakan untuk mendirikan perusahaan penjaminan kredit daerah (Jamkrida) yang hanya butuh modal awal Rp 50 miliar atau membiayai beasiswa sekian ribu pelajar/mahasiswa.

Besarnya dana yang tersebar dalam masa mudik tidak hanya menghidupkan ekonomi perdesaan, tetapi juga mendongkrak ekonomi perkotaan. Kenyataan ini disebabkan oleh masa Lebaran, sifat konsumtif masyarakat mengalami kenaikan sehingga laju pengeluarannya dananya bisa memancar ke segala arah.

Untuk membuktikan kesuksesannya hidup di kota, para pemudik biasanya membeli sepeda motor, TV, lemari es, Hp, play station, baju muslim, sepatu dan lain-lain. Pemberian uang untuk keluarga di daerah perdesaan sering juga dialokasikan untuk membeli barang-barang tersebut.

Sungguh sayang apabila arus dana mudik tidak dimanfaatkan untuk pembangunan daerah. Ataukah memang kita hanya menyaksikan dan menjadi pemudik yang ikut menyumbang kemacetan jalanan? Ingat, tujuan berpuasa adalah agar bertakwa. Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu senang maupun susah sesuai ajaran agama Islam. Nah, mari kita manfaatkan momentum mudik sekaligus untuk mengembangkan ekonomi daerah asal kita.