Garuda Stop Rute Rugi Dan Remajakan Armada

Kamis, 24/07/2014

NERACA

Jakarta – Pertengahan tahun ini, kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Malah sebaliknya, maskapai pelat merah ini malah membukukan rugi akibat belum mampu menekan efisiensi.

Oleh karena itu, tahun ini perseroan bertekad untuk terus meningkatkan efisiensi dengan memperkuat pasarnya di domestik dan secara reguler mengevaluasi kinerja rute, dan menutup rute yang merugi. Garuda juga sudah bergabung dengan SkyTeam Maret lalu untuk memperkuat pasar di 1.064 destinasi baru di 178 negara,”Garuda akan mengurangi kapasitas sementara ini melalui penghentian operasional pesawat tua yang boros bahan bakar dan menunda kedatangan pesawat yang dipesan," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Rabu (23/7).

Garuda juga akan meningkatkan kegiatan sales dan marketing secara agresive khususnya penumpang corporate, bisnis dan leisure. Garuda juga mengurangi belanja modal (Capex) pada tahun ini hingga US$ 54 juta.Di samping itu, Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan market share-nya di pasar domestik menjadi 28,9%, dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 28%.

Pasar penumpang pesawat udara domestik Garuda pada periode Januari–April 2014 mengalami pertumbuhan sebesar 5%, jauh lebih baik dibandingkan maskapai lain yang rata-rata mengalami peningkatan kurang dari 1%.

Masih belum pulihnya perekonomian dunia hingga saat ini juga menyebabkan penurunan kinerja maskapai dunia lainnya khususnya di Asia Pasifik. Beberapa di antaranya hingga semester I/2014 ini masih mengalami kerugian dan sebagian mengurangi produksi (ASK/Availability Seat Kilometer) dan mengandangkan pesawat–pesawat mereka.

Beberapa bencana di dalam negeri sepanjang 2014 ini juga memberikan kontribusi terhadap kurang baiknya kinerja masakapai misalnya bencana Gunung Kelud di Jawa Timur dan bencana asap di Sumatera. Akibat bencana tersebut, hingga dua minggu beberapa pesawat Garuda tertahan di Surabaya, Jogjakarata, dan Solo, dan penerbangan ke kota-kota tersebut dihentikan. Termasuk juga penghentian penerbangan di beberapa kota di Sumatera akibat asap beberapa waktu lalu.

Bukukan Rugi Rp 2,4 Triliun

Sebagai informasi, pada semester pertama tahun ini Garuda Indonesia berhasil meraih pendapatan operasi (operating revenue) sebesar US$ 1,73 miliar atau meningkat sebesar 0,7% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1,72 miliar. Namun mengingat ekonomi belum pulih, serta Garuda dan Citilink juga sedang melakukan investasi besar dalam dua tahun terakhir, yang juga menekan profit perusahaan, maka pada semester I/2014 ini Garuda mengalami kerugian sebesar US$ 211,7 juta atau setara Rp2,4 triliun.

Kata Emirsyah Satar mengatakan, saat ini perseroan sedang giat giatnya melakukan investasi untuk memperkuat fondasi perusahaan dan meningkatkan daya saing perusahaan khususnya menghadapi kebijakan ASEAN Open Sky 2015."Pada tahun 2014 ini Garuda mendatangkan 27 pesawat baru untuk menopang jaringan penerbangannya, sementara pada tahun 2013 lalu Garuda mendatangkan 24 pesawat dan tahun 2012 lalu mendatangkan sebanyak 22 pesawat,”ungkapnya.

Pesawat-pesawat ini digunakan untuk memperluas jaringan penerbangan Garuda Indonesia di Internasional dan hingga pelosok nusantara untuk meningkatkan konektivitas dan mendukung peningkatan perekonomian daerah terpencil.

Selain itu, penurunan profit Garuda juga ditekan persaingan yang semakin ketat serta oleh situasi ekonomi dunia yang belum pulih. Saat ini nilai rupiah masih terdepresiasi hingga 20% terhadap mata uang dolar AS (USD), dan seiring masih tingginya harga bahan bakar, yang berpengaruh pada tingginya biaya operasional dimana biaya untuk bahan bakar mencapai hingga 40% dari biaya operasional Garuda, maka membuat Garuda masih merah. (bani)