Agar Perjalanan Mudik Tidak Celaka

Sabtu, 26/07/2014

Agar Perjalanan Mudik Tidak Celaka

Tradisi mudik ternyata tidak hanya berlangsung di Indonesia saja. Tapi, juga terjadi di beberapa Negara lain, seperti Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India. Yang berbeda, mungkin manajemen mudiknya.

Di India, mudik dilakukan dalam rangka Deepavali. Di Tiongkok, pulang kampung bersama itu biasanya menjelang Tahun Baru China. Sedangkan di Amerika Serikat, mudik dikaitkan dengan peringatan Thankgiving Day yang jatuh pada bulan Desember.

Peringatan Deepavali di India diperingati selama lima hari berturut-turut dalam bulan Ashwayuja dalam kalender Hindu. Biasanya jatuh pada Oktober atau November. Deepavali diyakini sama seperti Idul Fitri atau Lebarannya kaum muslim di Indonesia.

Sedangkan mudik di Indonesia lebih banyak dilakukan saat menjelang Lebaran atau Idul Fitri tiba. Penduduk muslim di kota-kota besar pulang di kampung halamannya untuk mengunjungi orang tua dan sanak kerabat lainnya. Dalam catatan Kementerian Perhubungan, pelaku mudik terbanyak terjadi di kawasan Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Pada 2014, diprediksi pemudiknya Jabodetabek sebanyak 13,42 juta orang atau 41% dari jumlah penduduknya, yaitu sebanyak 32,62 juta jiwa. Tujuan mudik antara lain di kawasan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Yogyakarta. Pemudik terbanyak berikutnya adalah dari kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan (Gerbangkertosusila), sama-sama 41% dari jumlah penduduknya, yaitu 4,22 juta jiwa dan 10,4 juta jiwa. Lalu, dari kawasan Bandung Raya sebanyak 3,43 juta jiwa atau 41% dari penduduknya sebanyak 8,42 juta jiwa.

Ada 12 titik asal pemudik, . Enam di kawasan Jawa. Selain Jabodetabek, Gerbangkertosusila, dan Bandung Raya, empat lainnya adalah Serang-Cilegon, Kedung-Sepur, dan Jogmantul (Jogja, Sleman, Bantul).

Sedangkan, arus mudik di luar Jawa, biasanya berasal dari Mebidangro (Medan-Binjai-Deliserdang-Karo), Bandar Lampung, Banjarmasin, Samarinda-Balikpapan, Maminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar) dan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan). Pemudik tahun ini mencapai 27,89 juta jiwa atau 34% dari 72,91 juta jiwa.

Persoalan yang menghantui para pemudik adalah sulitnya menjangkau daerah tujuan. Gagalnya pemerintah menyediakan sarana transportasi umum missal yang memadai, menyebabkan para pemudik memilih kendaraan pribadi yang daya angkutnya jauh lebih rendah. Jadi, jumlah kendaraannya jauh lebih banyak. Biasanya hanya mampu mengangkut satu keluarga, baik berupa sepeda motor dan mobil.

Tahun lalu, jumlah sepeda motor yang dipakai untuk mudik mencapai 2,79 juta unit dan mobil pribadi 1,65 juta unit. Sementara itu, kapasitas angkut kendaraan umum mencapai 44,5%, kendaraan pribadi motor 21,5%, mobil pribadi 23,8%, naik bus 23,7%, kereta 9,2%, dan pesawat udara 7,8%. Banyaknya jumlah kendaraan pemudik ternyata tak sebanding dengan kapasitas jalannya. Akibatnya, jalanan macet dan rawan kecelakaan.

"Kami mengajak pemudik lebih waspada. Ada lima aspek utama dalam mengatasi permasalahan mudik seperti keamanan, keselamatan, keterjangkauan, dan kultural,” kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, di sela diskusi ‘Mudik Selamat, Meredam Petaka Jalan Raya’ yang didakan Independent Bikers Club (IBC) di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, aspek keamanan dan keselamatan merupakan faktor vital yang wajib diwaspadai ketika mudik. Sebab, jumlah kecelakaan dan korban kecelakaan saat mudik tetap tinggi, walaupun cenderung menurun dari tahun ke tahun.

Dari 3.675 kasus kecelakaan, sebanyak 795 orang tewas pada 2013. Tahun sebelumnya, terjadi 5.233 kasus kecelakaan dengan korban tewas mencapai 908 jiwa. “Untuk menekan fatalitas kecelakaan, sinergi antara para pemangku kepentingan keselamatan jalan selama mudik Lebaran, mesti terus dipertahankan sepanjang tahun,” tutur Edo Rusyanto, ketua umum Road Safety Association (RSA) di tempat sama.

Menurut Edo, yang tak kalah pentingnya adalah, keharusan para pemudik untuk mempersiapkan perjalanannya dengan sebaik-baiknya agar perjalanan lancar dan tak terjadi kecelakaan. Kecelakaan terbesar korbannya adalah para pengedara sepeda motor. “Sepeda motor merupakan moda transportasi yang paling rentan terlibat kecelakaan. Kecelakaan lalu lintas sepanjang tahun 2013 lalu yang melibatkan sepeda motor mencapai 119.560 unit atau sebesar 71%,” ujar Edo.

Bambang menjelaskan, upaya agar perjalanan mudik aman, para pengendara sepeda motor diimbau agar tidak menggunakan sepeda motor untuk jarak jauh. Dia pun berharap makin banyak perusahaan, termasuk perusahaan otomotif untuk menyelenggarakan mudik bersama. “Lebih baik, sepeda motornya diikutkan dalam mudik bersama dan diangkut dengan truk atau kapal dan pemiliknya naik bus,” kata Bambang.

Harso Kurniawan, ketua umum IBC pun mengingatkan agar para bikers yang mudik harus memperhatikan kaedah safety riding (keselamatan berkendara). Antara lain dalam bentuk kelengkapan kendaraan, kelengkapan pengendara dan pemboncengnya.

“Upaya lainnya, adalah berupa penegakan hukum dan aturan lalu lintas, dilakukan penindakan tilang terhadap setiap pelanggar lalu lintas agar menimbulkan efek jera serta mengurangi probabilitas timbulnya kecelakaan, kata Bambang, mantan ketua umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). (saksono)