Jelang Lebaran, Permintaan Produk Ikan Olahan Meningkat 40%

NERACA

Bandung – Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementrian Pertanian (Kementan), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan perwakilan dari komisi IV DPR telah melakukan inspeksi mendadak (Sidak) pada pasar tradisional dan modern di wilayah Karawang dan Bandung pada Senin dan Selasa (21-22/7).

Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP), KKP Saut P Hutagalung mengatakan dari hasil pantauan kami selama 2 hari ini baik dipasar tradisional maupun pasar modern di Karawang maupun Bandung ketersedian kebutuhan akan ikan terpenuhi, hanya saja menjelang lebaran ikan produk peningkatannya sangat signifikan bisa mencapai 40%. “Dari pantauan, dan kali saya ngobrol dengan para penjual ikan basah maupun ikan olahan, yang ada kenaikan signifikan pada saat ini H-7 pada produk ikan olahan,” katanya saat ditemui Neraca di pusat perbelanjaan Pasar Cairingin dan Carrefour Kiaracondong Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/7).

Walaupun permintaan untuk ikan basah maupun ikan beku ada kenaikan, lanjut Saut, akan tetapi kenaikannya tidak terlalu besar seperti ikan olahan yang hanya dikisaran 7-10 saja. “Menjelang lebaran, biasanya masyarakat lebih memilih produk olahan karena praktis. Apalagi untuk wilayah Jakarta, Bandung, dan sekitarnya biasnya karena lebaran banyak yang membeli untuk stok persediaan hingga sampai dan setelah lebaran,” imbuhnya.

Adapun untuk harga dan stok, lanjut Saut Jawa Barat merupakan sentra produksi ikan terutama ikan budidaya jadi stok tidak mengkhawatirkan, tinggal harga saja ada kenaikan tapi tidak terlalu signifikan hanya dikisaran 10%, bahkan ada yang di bawah itu. “Kalau stok aman hingga selesai lebaran nanti, harga memang ada kenaikan tapi masih wajar karena memang mau lebaran saja,” ujarnya.

Namun memang, untuk ikan laut ada kenikan karena memang pasokannya yang sedang menurun, karena ada beberapa daerah yang cuacanya lagi tidak bagus, nelayan tidak melaut belum lagi ini mau lebar pasti para nelayan juga ingin merayakan lebaran jadi bukannya tidak ada pasokan. Tapi harganya saja yang lebih mahal. “Ikan budidaya baik harga maupun pasokan aman, hanya saja ikan laut yang ada kenaikan cukup signifikan,” ucapnya.

Tapi dengan minimnya pasokan ikan laut, menghadapi lebaran masyarakat tidak perlu khawatir akan. Karena bisa membeli produk ikan olahan seperti baso,sosis, somay ,empek-empek,abon,otak-otak,nuget dan kaki naga yang banyak tersedia dipasaran baik di pasar tradisional maupun pasar modern, “Produk ikan olahan seperti inilah yang cukup digemari masyarakat. Karena produk ini dinilai praktis dimasak dan harganya relatif murah membuat masyarakat mudah menerimanya,” katanya.

Dan dari pantauan ini juga, Saut menilai kondisi pasar sekarang sudah jauh lebih baik dari pada 2 tahun yang lalu, produk ikan olahan, dari hasil tes bersama dengan Kementan dan BPOM semuanya tidak mengandung formalin. Ini berarti mencermainkan kesadaran dari pengusaha akan kesehatan masyarakat. “Sekarang sudah jauh lebih baik, tahun-tahun kemarin setiap kali dites produk ikan olahan selalu mengandung formalin, sekarang sudah tidak lagi. Dengan begitu produk perikanan selama ramdhan dan lebaran 2014 aman, dan sehat,” terangnya.

Stok Pangan Aman

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron, mengatakan Stok kebutuhan pokok masyarakat seperti beras, produk holtikultura, buah-buahan, ikan dan daging tersedia hingga pasca Lebaran aman. Dan harga-harga kebutuhan pokok masyarakat menjelang Lebaran relatif stabil kecuali daging sapi dan daging ayam yang naik sekitar 10%. “Dari pantauan kami, stok kebutuhan pangan untuk masyarakat sampai dengan lebaran nanti aman,” katanya,

Namun, kata Herman, memang ada kenaikan harga menjelang lebaran, tapi ini masih dianggap wajar, karena masih berkutat pada angka 10%. "Ini diakibatkan demand masyarakat yang naik, makanya ada kenaiakn haraga hingga10%, tapi kenaikannya ini relatif wajar, karena mau lebaran" ujarnya.

Selain ketersedian dan harga, pihaknya juga fokus pada keamanan bahan pangan. Pasalnya, selama beberapa sidak yang dilakukannya, ditemukan sejumlah sampel bahan pangan yang terindikasi ada zat yang membahayakan di dalamnya seperti formalin, boraks, dan zat pewarna tekstil.

Dari adanya temuan tersebut, maka sosialisasi dan pembinaan harus dilakukan pemerintah. Karena sesuai UU No 18/2012, produsen yang memproduksi bahan pangan melampaui ambang batas tertentu yang membahayakan tentu ada sanksinya, “Makanya setelah temuan ini, akan menjadi fokus kami kedepan, untuk dapat memperbaikinya sehingga tidak ditemukan lagi hal serupa untuk tahun-tahun mendatang,” paparnya.

Related posts