Sido Muncul Bukukan Laba Rp 174,22 Miliar - Kinerja Semester Pertama

NERACA

Jakarta – Perusahaan jamu PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) berhasil mencatatkan laba bersih semester pertama tahun ini melesat tajam 86,75% dibanding periode yang sama tahun lalu Rp174,22 miliar. Hal tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (23/7).

Disebutkan, naiknya laba bersih tersebut tidak dibarengi berlawanan dengan angka penjualan perusahaan. Namun, menurunnya sejumlah beban dan naiknya pendapatan keuangan serta pendapatan lain-lain mendukung bertambahnya laba bersih perusahaan.

Penjualan perusahaan jamu tersebut pada enam bulan pertama tahun ini turun 1,75% menjadi Rp1,12 triliun dari enam bulan pertama tahun lalu sebesar Rp1,14 triliun. Sementara beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp727,78 miliar dari Rp690,61 miliar.

Akibatnya laba kotor perseroan susut menjadi Rp391,75 miliar dari Rp447,96 miliar. Namun, turunnya beban penjualan dan pemasaran menjadi Rp103,58 miliar dari Rp173,53 miliar, beban keuangan menjadi Rp4,31 miliar dari Rp7,08 miliar dan melonjakanya pendapatan keuangan menjadi Rp50,38 miliar dari Rp2,02 miliar dan pendapatan lain-lain menjadi Rp133,23 miliar dari Rp19,29 miliar menambah capaian laba bersih.

Laba per saham dasar meningkay menajdi Rp22 per lemar dibadning periode yang sama tahun lalu Rp13 per lembar. Sementara siang ini, harga saham SIDO berada di Rp800 per lembar atau naik 10 poin dibanding penutupan kemarin di Rp790 per lembar.

Adapun jumlah aset per akhir Juni 2014 sebesar Rp2,65 triliun, dengan total utang Rp217,12 miliar. Jumlah tersebut menurun dibanding akhir tahun lalu, di mana aset perusahaan sebesar Rp2,95 triliun, dengan total utang Rp326,05 miliar.

Belum lama ini, perseroan telah mengakuisisi pabrik farmasi Berlico di Yogyakarta senilai Rp 150 miliar. Rencananya kedepan, Sidomuncul akan memperbesar pabrik farmasi ini sehingga akan memberi kontribusi keuntungan yang signifikan bagi perseroan kedepan.

Direktur Utama Sidomuncul, Irwan Hidayat mengakui, sebelumnya Berlico bukanlah pabrik besar. Bahkan, belum ada produk andalan yang dihasilkannya begitu populer di kalangan masyarakat. Tetapi, dia menegaskan bahwa kepopuleran produk yang dihasilkan pabrik farmasi tidaklah penting,”Yang penting, saat diambil alih Berlico statusnya baik-baik saja, ya artinya sudah untung. Yang penting lagi nanti pabrik farmasi ini bisa menghasilkan untung lebih besar dari yang ada sekarang," ujarnya di Surabaya kemarin.

Dirinya menegaskan, pihaknya berambisi membesarkan pabrik farmasi Berlico pasca diakuisisi sehingga akan menjadi salah satu usaha yang memberi kontributor keuntungan yang signifikan buat korporasi,”Dengan manajemen yang baik, kami yakin perusahaan ini bisa jadi lebih besar lagi,”ungkapnya.

Dia menambahkan, proses akuisisi Berlico sudah selesai dengan nilai akuisisi mencapai Rp 150 miliar. Meski demikian, proses pengambilalihan perusahaan, baru akan dilakukan pada tiga bulan ke depan. Akuisisi ini menjadi bagian dari strategi perseroan untuk mengembangkan sayap bisnisnya ke bisnis farmasi. (bani)

Related posts