Pintar Mengelola Keuangan Menjelang Idul Fitri

Hindari Pemborosan

Sabtu, 26/07/2014

Lebaran sangat identik dengan peredaran uang dalam jumlah besar. Selain konsumsi yang terus mengalami peningkatan, Lebaran kerap dibarengi dengan pembagian tunjangan hari raya (THR). Dalam skala makro ada plus minus dari THR ini. Namun, akan bisa merugikan jika pengelolaannya tidak tepat.

NERACA

Pengelolaan keuangan ini sangat tergantung dengan keinginan dari setiap orang yang menjadi kebutuhan di bulan Ramadhan. Satu hal yang perlu dicermati adalah meskipun tengah melakukan ibadah puasa, namun bulan puasa identik dengan meningkatnya konsumsi dan belanja masyarakat.

"Hal ini yang perlu diperhatikan baik-baik, dan kalau bisa budaya seperti itu harus ditinggalkan. Setiap ada perayaan keagamaan, maka di saat itu pula potensi harga kebutuhan mengalami kenaikan secara signifikan. THR memperburuk kenaikan harga barang tersebut. Nah, perlu dicamkan baik-baik bahwa idealnya, secara kuantitas konsumsi seharusnya tidak mengalami kenaikan dibandingkan dengan hari biasanya. Namun yang terjadi justru sebaliknya," tutur ekonom, Gunawan Benjamin.

Kata Gunawan, masyarakat kerap latah jika puasa harus dipenuhi dengan makanan-makanan mewah yang belum tentu semuanya akan bermanfaat bagi tubuh. Kondisi seperti inilah yang kerap membuat masyarakat menghabiskan uang besar namun manfaatnya kurang bisa didapatkan.

Menurut Gunawan, strategi yang bisa dilakukan saat Ramadhan dan Lebaran adalah dengan memilah mana konsumsi kebutuhan yang perlu dipenuhi dan mana yang tidak.

"Uang yang digunakan untuk membeli gorengan dalam jumlah banyak saya pikir kurang bermanfaat. Kita kerap mengganti (substitusi) makanan atau minuman sehari-hari padahal substitusinya justru tidak memberikan efek positif dan justru menghamburkan banyak uang. Selain itu, air putih secara esensial lebih banyak manfaatnya bagi tubuh ketimbang dibelikan es campur atau minuman sejenisnya. Ini hanya masalah selera, dan biayanya pun lumayan besar. Sehingga mengendalikan selera akan banyak menghemat pengeluaran kita," jelasnya.

Untuk sejumlah bahan kebutuhan pokok memang menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Upaya yang harus dilakukan untuk mencoba keluar dari jebakan harga pangan nan mahal dengan menumpuknya jauh hari sebelum perayaan keagamaan memang bisa efektif.

Bila menumpuknya harus dipenuhi dengan berhutang terlebih dahulu akan lebih baik dibanding membeli secara kontan di saat Ramadhan atau idul fitri itu sendiri. Syaratnya kebutuhan akan pangan tersebut harus terukur.

Kebutuhan akan bahan pangan lainnya seperti daging sulit bagi kita untuk menghindari kenaikan harga. Namun berperilakulah secara bijak dengan menggantinya dengan sumber protein lainnya. Lagi-lagi pengendalian diri dalam memilah kebutuhan itu sangat penting disini.

Untuk kebutuhan sandang ini juga relatif paling banyak dilakukan menjelang perayaan. Dan yang harus diketahui, harga sandang akan mengalami kenaikan secara signifikan bahkan bisa melampaui 100% dibandingkan harga normal biasanya.

"Nah, lagi-lagi disini bila kita bisa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan saya pikir kita bisa memilah mana yang harus dibeli dan mana yang tidak," kata Gunawan.

Bertepatan dengan kenaikan kelas seperti saat ini, sambung Gunawan, sebaiknya pengeluaran yang tidak perlu untuk Lebaran bisa dihilangkan.

Utamakan pemenuhan kebutuhan untuk sekolah seperti seragam, buku, tas dan sepatu sekolah terlebih dahulu. Lebaran seharusnya tidak disikapi secara berlebihan dengan banyak menghamburkan uang.

Gunawan menganjurkan, masyarakat menggunakan uang secara bijak. Ramadhan seharusnya identik dengan esensi ibadah masyarakat, bukan justru konsumsinya yang diutamakan. Dalam kondisi ini, yang paling penting adalah jangan membudayakan kebiasaan konsumsi.