Dompet Dhuafa Kelola Dana Umat Rp230 Miliar

Sepanjang 2013

Kamis, 24/07/2014

NERACA

Jakarta- Lembaga amil zakat Dompet Dhuafa mengelola Rp230 miliar dana umat sepanjang 2013 yang disalurkan kepada beberapa portofolio utama, yakni kebencanaan, wilayah kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pertanian sehat, pemberdayaan berbasis kewilayahan dan pengembangan sosial."Dalam mengelola dana umat, kami lebih menekankan sesuatu yang berkelanjutan dan memiliki dampak berkepanjangan," kata Direktur Pengembangan Sosial Dompet Dhuafa, Nana Mintarti di Jakarta, Selasa (22/7).

Dia mengatakan, dari ke tujuh portofolio utama tersebut, Dompet Dhuafa memiliki dua program besar yang menjadi perhatian pada 2013, yakni wilayah kesehatan dan pendidikan.Pada wilayah kesehatan, Dompet Dhuafa mendirikan rumah sakit gratis di atas tanah seluas 13 hektar yang terletak di Parung, Bogor, Jawa Barat yang dapat dimanfaatkan sebagai pelayanan kesehatan bagi umat yang membutuhkan.

"Dalam mengelola wilayah kesehatan, kami juga berkolaborasi dengan program BPJS pemerintah. Misalnya membayarkan iuran bagi masyarakat yang kurang mampu," kata Nana.Untuk program pendidikan, Dompet Dhuafa memiliki sebuah sekolah gratis setingkat SMP dan SMA yang letaknya berdampingan dengan RS gratis di Bogor dan program bea siswa serta pendidikan non formal seperti kursus menjahit, tata rias rambut dan wajah.

Berbekal keterampilan melalui sekolah non formal tersebut, lanjut Nana, para siswa bisa membuka usaha untuk menopang perekonomian yang akan bermanfaat bagi kehidupan mereka.Selain dua program besar pada 2013 tersebut, Dompet Dhuafa juga tetap menjalankan lima portofolio lain dalam mengelola dana dari umat tersebut, misalnya kebencanaan, di mana penyaluran dananya dilakukan langsung ke tempat terjadinya bencana untuk dapat dimanfaatkan para korban.

Untuk wilayah pemberdayaan ekonomi, Nana mengatakan bahwa pihaknya menjalankan program pengembangan perekonomian melalui pemberian modal bagi pengusaha mikro dan petani di Indonesia.

"Para pengusaha mikro seringkali sulit mendapatkan modal dari bank. Padahal mereka hanya membutuhkan modal di bawah Rp1 juta. Oleh karena itu, kami masuk dan menyalurkan modal untuk pengusaha mikro dan para petani," kata Nana.

Portofolio

Selanjutnya, portofolio pemberdayaan berbasis kewilayahan yang dilakukan dengan memberi pendampingan terhadap satu wilayah tertentu dengan jenis usaha yang sama.Misalnya, kata Nana, usaha pembuatan gula merah di Kulonprogo, Yogyakarta, yang diberi pembinaan untuk meningkatkan nilai tambah gula merah tersebut menjadi gula semut yang diminati oleh masyarakat internasional.

Sementara itu, portofolio untuk pengembangan sosial dilakukan dengan intervensi sosial yang sifatnya santunan untuk bantuan kedaruratan, pembinaan ke lembaga pemasyarakatan dan siraman rohani.

Menurut dia, porsi penyaluran dana umat untuk menjalankan seluruh portofolio tersebut adalah 30%-40% untuk kesehatan, 30%-40% untuk pendidikan, 30% untuk pengembangan ekonomi dan sisanya untuk kebencanaan dan sosial."Persentase tersebut bisa berubah, tergantung pada program yang ingin dicapai. Namun, kesehatan dan pendidikan kerap menjadi prioritas, karena merupakan hal yang paling penting," tandasnya. [ardi]

Topik Terkait

kelolagulamerah