Tolak Hasil KPU Bikin Panik Investor

Laju IHSG Ikut Merada

Rabu, 23/07/2014

NERACA

Jakarta – Diluar ekspektasi pelaku pasar yang memperkirakan hasil pemilu presiden yang di umumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan diterima pasangan yang kalah, rupanya di luar dugaan. Terlebih pernyataan pasangan capres Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa yang menolak hasil pilpres, membuat panik pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga memicu aksi jual. Alhasil, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup anjlok 43,602 poin (0,85%) ke level 5.083,521.

Kata analis pasar modal dari PT Anugerah Sekurindo, Bertoni Rio, melemahnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, didorong adanya kekhawatiran investor terhadap kondisi politik yang masih cukup panas,”Kondisi politik yang masih cukup panas menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar modal. Salah satu kubu calon presiden menyatakan penolakannya terhadap hasil pemilihan umum presiden (pilpres) pada 2014 ini sehingga memicu keraguan investor terhadap kenyamanan investasi di Indonesia," ujarnya di Jakarta, Selasa (22/7).

Dia mengemukakan bahwa yang diharapkan investor di dalam negeri yakni kenyamanan dalam melakukan investasi. Sikap salah satu calon presiden itu sempat mengganggu psikologis investor sehingga mengambil posisi lepas saham.

Kendati demikian, lanjut dia, hal tersebut hanya bersifat sesaat. Menjelang penutupan perdagangan saham sesi II pada Selasa ini investor kembali melakukan aksi beli."Aksi beli bukan hanya dari investor domestik, namun didukung juga aksi beli investor asing yang membukukan pembelian bersih mencapai Rp6 miliar pada Selasa ini, meski memang pada penutupan perdagangan indeks BEI tidak mampu bertahan di area positif atau turun sebesar 43,60 poin," paparnya.

Merespon kepanikan pelaku pasar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Tanjung meminta para pelaku pasar tetap tenang dan tidak mengambil langkah spekulatif terkait kondisi perpolitikan saat ini, setelah salah satu capres mengundurkan diri dari ajang pemilu presiden,”Ini adalah sebuah keniscayaan dan kenyataan. Saya mengimbau seluruh rakyat Indonesia dan pelaku pasar, dunia usaha, domestik, swasta dan asing, untuk bisa menerima kenyataan yang ada,”ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengakui, respon investor terhadap aksi penolakan hasil perhitungan pilpres itu masih akan mewarnai pergerakan IHSG BEI ke depannya,”Laju IHSG BEI berotensi melemah kembali, namun diharapkan pelaku pasar dapat lebih rasional dan memanfaatkan pelemahan untuk mencari saham-saham yang berfundamental baik," kata Reza.

Sebaliknya, analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menuturkan, koreksi indeks BEI pada Selasa (22/7) ini sifatnya masih wajar, secara teknikal IHSG BEI masih berada di atas level batas bawah (support). Kemudian, lanjut dia, secara fundamental arus dana asing juga masih terlihat cukup baik. Masuknya dana asing itu tidak lepas dari kondisi ekonomi dan politik Indonesia yang masih cukup terkendali pasca pengumuman hasil pilpres,”Jika hasil dari pesta demokrasi kita sudah terpapar dengan jelas dan aman, potensi saham-saham di dalam negeri menguat cukup terbuka. jika ada koreksi itu pun wajar," ucapnya. (bani)