DPK BTN Tumbuh di Atas Rata-rata Industri

Likuiditas Kuat Sokong Bisnis Perumahan

Rabu, 23/07/2014

NERACA

Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan pencapaian dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 22,61% atau Rp101,345 triliun pada semester I 2014, dibanding posisi yang sama tahun lalu yang hanya Rp82,656 triliun. Sementara pertumbuhan rata-rata industri dalam negeri sekitar 12,36%. Ini artinya, pertumbuhan DPK BTN melampaui rata-rata industri.

Direktur Utama BTN, Maryono menjelaskan, industri perbankan pada tahun ini mengalami sejumlah tekanan. Tekanan terbesar, lanjut dia, datang dari kenaikan biaya dana (cost of fund) yang merupakan imbas dari ketatnya likuiditas dan naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).

Di samping itu, dirinya melihat kondisi perekonomian nasional juga mengalami perlambatan. ”Dalam kondisi seperti ini bank cenderung berhati-hati, terutama dalam menyalurkan kredit agar tidak terjebak pada kredit macet atau fraud,” ungkap Maryono, dalam acara buka puasa bersama media di Jakarta, Senin (21/7).

Berdasarkan kinerja semester I 2014, kredit dan pembiayaan yang disalurkan BTN mencapai Rp106.584 triliun. Kredit ini mengalami pertumbuhan 16,61% dibanding posisi yang sama pada 2013 yang sebesar Rp91,403 triliun. Komposisi kredit tersalur masih 88,07% pada pembiayaan perumahan (housing loan) atau sekitar Rp93,870 triliun.

Sementara sisanya 11,93% disalurkan pada pembiayaan nonperumahan (nonhousing loan) yang mencapai Rp12,714 triliun. Dengan komposisi tersebut, maka kinerja semester I 2014 masih menunjukkan konsistensi BTN pada bisnis inti (core business) dalam pembiayaan industri perumahan.

Meskipun dalam kondisi likuiditas yang cukup ketat, BTN masih dapatkan meningkatkan interest income sebesar Rp6,467 triliun, naik dari posisi yang sama di 2013 sebesar Rp5,188 triliun. Maryono melanjutkan, interest expense tercatat sebesar Rp3,791 triliun. Sementara other operating income sebesar Rp390 miliar dan other operating expense sebesar Rp2,324 triliun. Laba bersih BTN pun tercatat sebesar Rp539 miliar.

Pembiayaan subsidi

Lebih jauh Maryono mengaku bahwa BTN tetap akan menyalurkan pembiayaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah atau subsidi. Hal tersebut guna mendukung program pemerintah di bidang perumahan.

”Ini karena track record Bank BTN selama ini telah membuktikan sepanjang sejarah kebijakan pemerintah tentang program rumah rakyat, Bank BTN selalu menjadi pemimpin dengan kontribusi lebih dari 95%. Ini sejarah dan fakta yang tidak bisa dipungkiri karena telah terbukti dan bermanfaat bagi rakyat banyak,” tegasnya.

BTN, imbuh Maryono, akan tetap fokus pada pembiayaan perumahan, termasuk pembiayaan perumahan non subsidi untuk memperkuat posisi sebagai market leader KPR. Termasuk pengembangan kredit nonperumahan bermargin tinggi secara selektif.

Komposisi KPR bersubsidi per 30 Juni 2014 sebesar 34,11% atau Rp31,174 triliun, tumbuh dibanding posisi yang sama tahun lalu sebesar 29,5% atau Rp26,966 triliun. Sementara untuk KPR nonsubsidi sebesar 46,12% atau Rp42,155 triliun, meningkat dari posisi yang sama di 2013 sebesar 37,79% atau Rp34,539 triliun. Kredit selebihnya tersalur untuk mendukung konstruksi sebesar 14,22% atau Rp12,995 triliun, dan sisanya 8,26% untuk kredit terkait perumahan sebesar Rp7,456 triliun.

Housing bank

Seraya mempertegas, Maryono berujar bahwa sejatinya BTN sejak awal berdiri telah di-design pemerintah sebagai bank perumahan. Hal ini dapat dilihat dari bisnis utamanya yang diharapkan mendukung program pemerintah dalam bidang perumahan nasional. Padahal, sambung Maryono, nama BTN sejak lahir adalah Bank Tabungan Negara, namun core business-nya adalah pembiayaan perumahan.

”Sejak awal berdiri Bank BTN memang sudah dikondisikan seperti sekarang. Bank BTN selalu menjadi andalan pemerintah untuk pemenuhan rumah rakyat. Saya tegaskan, dalam business plan sangat jelas bahwa Bank BTN fokus pada bisnis housing bank. Kami sudah siap dengan seluruh infrastruktur, SDM dan teknologi untuk mendukung bisnis sebagai housing bank,” tutup Maryono. [kam]