Ekspor Produk IKM Ditargetkan Tumbuh 9%

Rabu, 23/07/2014

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk dari Industri Kecil dan Menengah (IKM) bisa tumbuh sekitar 9% atau mencapai angka US$21,34 juta. Hal itu didasarkan tingginya volume produksi dan nilai jual dari produk kreativitas dari para pengusaha. Hal itu seperti dikatakan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah Kemenperin Euis Saedah di Jakarta, Selasa (22/7).

Pada tahun lalu, lanjut Euis, nilai ekspor produk industri kecil mencapai US$19,58 juta atau sekitar Rp226,7 miliar. Sedangkan untuk nilai produksi industri kecil ditaksir mencapai Rp753 triliun dengan kontribusi 10% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan 3,9 juta perusahaan serta menyerap 10,3 juta tenaga kerja

Potensi ekspor produk industri kecil, menurut Euis, bisa lebih besar ketimbang data yang tercatat oleh pemerintah. Sebab, banyak perusahaan yang memasarkan produknya ke luar negeri melalui paket-paket kecil atau melalui pameran berskala internasional. “Negara yang menjadi tujuan ekspor industri kecil adalah Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan Singapura. Awalnya, hanya suka produk kerajinan, tapi belakangan produk fashion buatan industri kecil cukup diminati,” paparnya.

Euis menambahkan, untuk bersaing di pasar global, pihaknya berniat fokus pada pengembangan industri kecil dan menengah. “Beberapa sektor yang menjadi fokus adalah makanan, mode, keramik, dan kerajinan lantaran sumber daya produk tersebut banyak terdapat di Indonesia,” ujarnya.

Sebelumnya, Euis juga menjabarkan bahwa produk-produk industri kecil dan menengah yang mampu ekspansi ke pasar ekspor relatif masih rendah. Tercatat, dari 3,7 juta unit usaha IKM di Indonesia hanya 5% atau 185.000 IKM yang mampu menembus pasar ekspor. “Di bawah 5% dari 3,7 juta (Versi Badan Pusat Statistik)," katanya.

Euis menjelaskan, sulitnya produk-produk IKM menembus pasar ekspor karena banyak hambatan di negara tujuan ekspor. Salah satunya biaya bongkar muat yang harus ditanggung. Ia mencontohkan produk makanan IKM dipersulit pengiriman ekspor di pelabuhan negara tujuan. “Dari Bandung misalnya ada kue-kue. Biasanya dia ekspor tidak apa-apa, tapi tiba-tiba dia suruh bayar ongkos bongkar kontainer US$ 1.000, uang segitu untuk IKM bisa dipakai bermacam-macam. Saya nggak etis menyebut negaranya mana,” papar Euis.

Pemerintah berjanji akan menjembatani dan mencarikan solusi untuk kendala ini. Juga membimbing para IKM agar lebih banyak lagi yang bisa memasarkan produknya ke negara lain. Selain ekspor, Kementerian Perindustrian juga mendorong pemasaran produk-produk IKM agar bisa masuk ke toko-toko ritel besar di Indonesia. “Seperti Carrefour, 7-Eleven dan Giant sudah ngobrol sama saya. Yang pasti Carrefour siap memasukkan barang-barang seperti mainan anak ber-SNI, saya minta jangan sampai disusahkan,” tutup Euis

Soal pertumbuhan industri IKM, Euis memprediksi bahwa pertumbuhannya bisa mencapai 9-10%. IKM , kata dia, selama ini sangat bergantung pada pada IKM kerajinan, tetapi belakangan industri fesyen berhasil menyalip pertumbuhan kerajinan. Menurutnya, selama tiga tahun belakangan, industri fesyen bisa tumbuh skeitar 9%-10%. “Kreatifitas itu terus meningkat. Saya yakin bisa tumbuh 9% atau lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu. Sekarang ini, IKM itu bukan hanya di Kemenperin, tetapi hampir di setiap kementerian ada program untuk IKM,” kata Euis.

Pihaknya optimistis produk IKM dalam negeri bisa bersaing dengan negara Asean lainnya pada saat masyarakat ekonomi Asean (MEA) 2015 berlaku. Bahkan, bila dibandingkan dengan produk China, produk IKM Indonesia lebih bagus dibandingkan dengan China. “Kalau soal kecepatan produksi, boleh China menang, tetapi kalo kualitas dan kreatifitas, Indonesia lebih baik,” tegasnya.

Adapun kelemahan dari sektor IKM adalah tidak memiliki data ekspor yang baik. Sebagian besar ekspor tidak tercatat dengan baik oleh pemerintah. “Sampai sekarang belum tercatat dengan baik, misalnya ada yang pameran ke luar negeri berapa pendapatannya dan sebagainya, banyak yang tidak memberi tahu,” paparnya.

Sentra Kerajinan

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pihaknya segera membentuk sentra-sentra kerajinan IKM agar masing-masing daerah memiliki spesifikasi kerajinan sendiri. Pemusatan IKM untuk mendorong perkembangan kerajinan tangan ke depannya.

“Kita sedang menyiapkan sentra-sentra kreatif industri. Sentra-sentra itu sudah diidenfitikasi, seperti di Bali, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Sumatra Barat dan beberapa provinsi lain. Sehingga diharap industri kreatif di dalamnya bisa tumbuh berkembang dengan baik,” ujar Hidayat.

Menurutnya, sedikitnya sentra IKM membuat produsen kerajinan tangan di sebagian daerah kesulitan memasarkan produknya. Padahal, produk kerajinan tangan tersebut bisa melanglang buana di luar negeri. Ia mencontohkan, banyak produk kerajinan bernilai ekspor dari Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang harus terbang melalui Bali.

“Untuk sekarang (ekspor melalui Bali) biarkan saja dulu. Selanjutnya harus dibuat branding program sendiri, ini bisa dilakukan bersama Kemenperin. Karena Yogyakarta bukan hanya ekspor furnitur, tapi juga handycraft (kerajinan tangan) dari perak yang punya market baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.