Presiden Baru Harapan Baru, Junjung Tinggi Demokrasi Indonesia

Oleh : Alexa Christina, Peneliti di Lembaga Analisa Politik dan Demokrasi (LAPD)

Rabu, 23/07/2014

Kita semua adalah teman, kita semua adalah sahabat dan kita semua adalah saudara. Kita semua memiliki keyakinan bahwa kita semua menginginkan bangsa ini tumbuh menjadi bangsa yang besar, bangsa yang berdaulat dan bangsa yang mandiri.

Kita harus punya pilihan, pilihan boleh beda dan kita sudah terlatih hidup di bangsa yang berbhineka tunggal eka. Masing-masing dari kita memiliki pemikiran dan pendapat serta cara yang berbeda untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia seperti yang kita inginkan.Hal tersebut mau tidak mau dan harus diakui. Namun, jangan sampai hal itu justru menjadikan pertemanan kita semakin jauh atau bahkan sampai terpecah-belah.Saat masa kampanye, kita semua memiliki pandangan dan pendapat tentang calon yang kita usung masing-masing. Semua calon adalah baik. Kita semua memiliki pemikiran yang sama bahwa calon pilihan kita adalah yang terbaik.

Dua tokoh pemimpin ini adalah dua sosok pemimpin terbaik, best of the best, dari keseluruhan stock pemimpin yang kita punya. Karena mereka merupakan yang terbaik, tentu saja keduanya layak memimpin negeri ini, dan membawa Indonesia menuju ke gerbang kesuksesan. Menjadikan Indonesia sebagai negara ampuh dan berpengaruh di dunia.

Dua sosok pemimpin hebat ini dicintai dan dimiliki oleh seluruh rakyat negeri ini dari Sabang sampai Merauke. Inilah pemilu dengan tingkat ownership rakyat yang paling tinggi dalam 70 tahun perjalanan sejarah negeri ini. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di Indonesia dimana rakyat pemilih begitu terlibat, begitu peduli, dan begitu merasa bertanggung-jawab terhadap keberhasilan pemilu kali ini. Mereka menjadi sangat berkepentingan mengenai siapa yang harus memimpin negeri ini.

Pada akhirnya kemenangan sebesar-besarnya bagi Indonesia akan dituai setelah pemungutan suara pada 9 Juli 2014 dan 22 Juli 2014setelah pengumuman siapa calon yang terpilih, selanjutnya adalah hari-hari setelahnya berjalan dengan damai, penuh keteduhan, kematangan, dan kearifan. Kalau itu terwujud siapapun yang terpilih, apakah Prabowo atau Jokowi, menjadi tidak penting. Ya, karena siapapun yang terpilih akan tetap merupakan kemenangan besar bagi Indonesia.

Kita perlu mengucapkan selamat buat calon yang nantinya terpilih dan dipilih oleh rakyat sekaligus pendukungnya. Semoga apa yang diamanatkan dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat pada umumnya, dan kepada Tuhan YME pada khususnya.

Bagi capres dan cawapres sekaligus pendukungnya yang belum terpilih dan dipilih rakyat, bahwa tidak terpilih bukan berarti rakyat tidak menghendaki anda. Akan tetapi inilah demokrasi yang kita semua sepakat untuk dijunjung-tinggi bersama-sama.

Mari kita dukung bangsa Indonesia dengan mendukung siapapun yang nantinya akan terpilih dan dipilih oleh rakyat Indonesia. Meskipun dia bukan berasal dari calon yang kita usung, tidak kita pilih dan tidak kita dukung saat masa kampanye.

Bisa Membersihkan Korupsi ?

Korupsi menjadi biang keladi keterpurukan bangsa ini, korupsi sudah mengakar dan mendarah-daging di setiap sendi kehidupan berbangsa mulai dari level eksekutif Pusat, Daerah dan legislative sampai ke tingkat Kelurahan.Korupsi merupakan salah satu bukti bad governance. Sejarah bangsa telah membuktikan bahwa Indonesia telah melewati berbagai macam krisis yang datang bertubi-tubi. Orde Lama, Orde baru dan orde Reformasi.

Semua itu tergantung kepemimpinan nasional yang tegas dan berani mengatakan bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah.Sekilas tentang China dan peti mati, peristiwa politik yang terjadi tahun 1998 ketika perdana menteri baru China dilantik Zhu Rongji dengan lantang mengatakan “Berikan kepada saya seratus peti mati, sembilan puluh sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama”. Dari Pernyataan politik itu, dibuktikan sehingga berhasil dalam memberantas Korupsi.

Ia (Zhu) membuktikan tekadnya itu sehingga berhasil meraih tiga pilar kekuasaan di China yakni sebagai presiden, Ketua Partai Komunis China (PKC) dan Ketua Komisi Militer Pusat (KMP). Ketika tikus-tikus mati, maka kera-kera pun menjadi takut, dampaknya ekonomi China naik 9 persen dengan pendapatan domestic bruto lebih sebesar 1.000 dollar AS, dengan cadangan devisa 300 miliar dollar AS.

Dalam buku "The China Business Handbook" dilaporkan sepanjang tahun 2003 tidak kurang 14.300 kasus yang diungkap dan dibawa kepengadilan yang sebagiannya divonis hukuman mati. Sampai tahun 2007 Pemerintah China telahmenghukummati 4.800 orang pejabat negara yang terlibat praktik korupsi. Di China, dalam 5 tahun terakhir, terhukummati rata-rata 4.000 orang per tahun, sebagian besar koruptor. Jika dihitung rata-rata per bulan sekitar 200 orang koruptor dieksekusi mati. Atau rata-rata sekitar 7 orang koruptor per hari dihabisi hak hidupnya. Dampaknya luar biasa. Jumlah kasusk korupsit terus merosot.

Hukuman mati adalah tindakan tegas yang menandakan Darurat perang terhadap koruptor, karena “kegagalan dalam pemberantasan korupsi di level pejabat akan menjadi ancaman bagi masa depan ekonomi dan stabilitas politik China” (HaoMinjing). Itu sikap politik Pemerintah China dalam memberangus koruptor.

Ungkapan "Belajarlah walau harus ke Negeri China" sangat pas menggambarkan cara pemberantasan korupsi, ketika disandingkan dengan kasus dan praktik korupsi yang terjadi di Indonesia. Masa depan Indonesia harus dipastikan akan lebih baik, baik dari segi ekonominya, politiknya dan harga diri di mata dunia internasional.

Pak Jokowi dan Pak Prabowo, siapapun yang terpilih nantinya sebagai presiden harus peduli dengan Indonesia terutama dalam memberantas kasus korupsi. Presiden 2014-2019 harus berani meniru cara China dalam memberantas korupsi di Indonesia yaitu dengan membuat peti mati untuk kabinetnya yang korupsi termasuk untuk dirinya sendiri (presiden) jika terbukti korupsi. Kebijakan hukuman mati bagi yang korupsi menjadi cara alternatif yang diharapkan dapat memberantas korupsi di negeri Indonesia ini apabila cara lain dinilai kurang efektif.***