BPD Diminta Tingkatkan Modal dan Tata Kelola

Selasa, 22/07/2014

NERACA

Jakarta - Seiring dengan kondisi perkembangan perekonomian regional dan global saat ini, industri perbankan nasional, termasuk Bank Pembangunan Daerah (BPD), dipandang perlu meningkatkan ketahanan daya saing, diantaranya melalui peningkatan permodalan BPD yang saat ini masih relatif kecil dan peningkatan tata kelola bank yang baik (good corporate governance).

Pasalnya, hingga kini kondisi permodalan BPD seluruh Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang tidak ringan. Jumlah permodalan BPD relatif kecil dibandingkan dengan perbankan secara nasional sehingga diharapkan BPD dapat meningkatkan permodalan dengan dukngan penuh dari para stakeholder.

Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah, Eko Budiwiyono, mengatakan bahwa BPD di seluruh Indonesia terusberkomitmen untuk tampil sebagai pemimpin di daerahnya masing-masing. “Komitmen tersebut semakin kuat sejak dicanangkan BPD Regional Champion (BRC) oleh Bank Indonesia melalui 23 paket kebijakan di bidang moneter dan perbankan pada tanggal 21 Desember 2010 yang lalu, BPD terus-menerus membenahi diri agar dapat lepas dari bayang-bayang perbankan nasional dan menjadi motor bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” ungkapnya di Jakarta, Senin (21/7).

Eko, yang juga Direktur Utama PT Bank DKI menjelaskan, ada tiga pilar yang menjadi fokus perhatian BRC, yakni pilar pertama ketahanan kelembagaan yang kuat. Dia mengatakan bahwa BPD berkomitmen untuk meningkatkan permodalan, meningkatkan efisiensi guna mencapai tingkat profitabilitas yang memadai didukung sehingga dapat memberikan kredit denga suku bunga yang kompetitif kepada masyarakat.

Untuk diketahui, hingga Maret 2014, pencapaian untuk pilar pertama adalah 16BPD telah memiliki modal inti Rp1 triliun, 25 BPD telah memiliki rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di atas 15%, 19 BPD telah memiliki rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) di bawah 75%, 22 BPD telah memiliki return on assets (ROA) di atas 2,5%, dan 2 BPD telah berhasil mencapai net interest margin (NIM) kurang dari 5,5%.

Pilar kedua, lanjut Eko, dalam perannya sebagai agent of regional development, BPD menargetkan porsi yang lebih besar untuk kredit pada sektor-sektor produktif dan meningkatkan fungsi intermediasi, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui kerja sama dengan BPR, baik melalui linkage program maupun menjadi APEX bank.

Untuk pencapaian pada pilar Kedua ini, hingga Maret 2014, 10 BPD berhasil mencapai pertumbuhan kredit minimum 20%, 7 BPD berhasil mencapai proporsi kredit produktif minimum 40%, 22 BPD berhasil mencapai LDR di atas 78%, 4 BPD berhasil mencapai DPK di luar dana Pemda min 70%, dan 10 BPD sudah menjadi APEX BPR.

Pilar ketiga, sebagai bentuk peningkatan kemampuan melayani kebutuhan masyarakat, BPD akan memiliki program standardisasi dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang ditunjang perluasan jaringan kantor untuk mendukung terwujudnya sistem keuangan yang inklusif (financial inclusion) dengan meningkatkan akses seluas-luasnya ke masyarakat setempat melalui penciptaan produk dan jasa yang semakin variatif dan unggul. [bari/ardi]