Banyak Tantangan di Tahun Politik - BNI Syariah Menjaga Tren Positif

NERACA

Tahun 2014 yang penuh tantangan disegala bidang namun BNI Syariah mencatat kinerja Perseroan di semester I 2014 secara umum memenuhi target. Per 30 Juni 2014 total aset perseroan mencapai Rp 17,35 triliun atau meningkat 33,5% dibanding tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah semua indikator keuangan berjalan sesuai rencana kami, baik dari segi aset, pembiayaan, DPK, NPF dan laba bersih,” papar direktur utama, Dinno.

Lebih lanjut Dinno menjelaskan, walaupun berada di dalam situasi politik yang turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara nasional, Alhamdulillah kinerja Perseroan di semester I 2014 secara umum memenuhi target. Per 30 Juni 2014 total aset perseroan mencapai Rp 17,35 triliun atau meningkat 33,5% dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh naiknya pembiayaan sebesar 39,7% pada periode yang sama, menjadi Rp 13,36 triliun.

Dari sisi pembiayaan, kontribusi terbesar per Juni 2014 bersumber dari segmen konsumer yang mencapai 52,8% dari total portofolio pembiayaan. Pembiayaan konsumer didominasi oleh pembiayaan Griya iB Hasanah. Disusul oleh pembiayaan ritel produktif cabang sebesar 22,1%, pembiayaan komersial sebesar 14,6%, mikro 7,3% dan kartu pembiayaan Hasanah Card sebesar 3,2%.

“Kontribusi segmen produktif baik komersial maupun ritel, serta mikro terus meningkat. Hal ini sejalan dengan arah pengembangan menjadi bank komersial sesuai dengan ketentuan BUKU oleh Bank Indonesia. Misal produktif ritel kami secara yoy tumbuh sebesar 51,6% dari Rp 1,94 triliun di Juni 2013 menjadi Rp.2,95 triliun di Juni 2014 sedangkan mikro tumbuh secara yoy sebesar 84,4% dari Rp.532,5 miliar menjadi Rp.982 miliar di Juni 2014,”ungkap Dinno.

Sedangkan pada sisi liabilities pertumbuhan ditopang oleh DPK sebesar Rp 13,51 triliun atau naik sebesar 30,1% dibanding tahun sebelumnya. Meskipun dalam kondisi ketat, perseroan berhasil menjaga komposisi dananya secara sehat. Giro dan Tabungan atau CASA rasio berada tingkat 49,13%. Komposisi neraca yang sehat membuat perseroan dapat membukukan laba sebesar Rp 66,5 miliar atau naik sebesar 22,2% dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp.54,4 miliar.

Angka-angka rasio keuangan pun menunjukkan kinerja yang terus membaik. NPF pada Juni 2014 sebesar 1,99%, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 2,11%. Perlu dicatat bahwa penurunan dimaksud lebih disebabkan perbaikan kualitas dalam proses pemberian pembiayaan maupun monitoring serta pemilihan target segmen yang tepat.

BERITA TERKAIT

Naik 16%, BNI Raup Laba Rp7,44 Triliun

      NERACA   Jakarta - PT. Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BNI) meraup laba Rp7,44 triliun di semester…

Skema KPBU Banyak Diminati Investor

      NERACA   Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut minat investor cukup tinggi untuk proyek dengan…

Antam Optimalkan Operasi Pabrik Chemical - Raih Peringkat B Positif

NERACA Jakarta – Mengantungi peringkat B positif dari S&P Global tahun 2018, mendorong PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…