Antam Cari Pinjaman Rp 1,74 Triliun

Selasa, 22/07/2014

Guna mendanai ekspansi bisnis tahun depan, PT Aneka Tambang (persero) Tbk (Antam) tengah menjajaki fasilitas kredit dari beberapa perbankan senilai US$ 150 juta atau sekitar Rp1,74 triliun. Rencananya, pengunaan dana pinjaman tersebut untuk mendanai pengembangan Proyek Perluasan Pabrik Feronikel Pomalaa (P3FP) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Direktur Keuangan Aneka Tambang, Djaja Tambunan mengatakan, hampir 80% dari kebutuhan pendanaan pada tahun depan atau sekitar US$ 120 juta akan digunakan untuk percepatan proyek Pomalaa, maklum perseroan menargetkan pada kuartal empat tahun 2015, pabrik tersebut sudah dapat full operation,”Mengacu pada harga nikel saat ini, dan juga kebutuhan ekspansi Pomalaa, tahun depan kita membutuhkan dana sekitar US$ 150 juta,”ujarnya di Jakarta, kemarin

Secara keseluruhan proyek Pomalaa membutuhkan investasi sekitar US$ 600 juta. Sebelumnya, perseroan telah menerbitkan surat utang senilai US$ 300 juta, dimana sekitar US$ 200 juta digunakan untuk proyek Pomalaa. Kemudian perseroan juga telah merogoh kas internalnya sebanyak US$ 150 juta juga untuk Pomala. Disebutkan, dari penggunaan tersebut, perseroan sudah menghabiskan dana sekitar US$ 450 juta, yang berarti pada tahun depan Pomalaa kebutuhannya sekitar US$ 150 juta.

Kendati belum merinci pihak perbankan mana yang akan di gandeng untuk membiayai penyelesaian proyek P3FP tersebut, Djaja mengatakan kalau perseroan akan tetap menjaga rasio keuangannya tetap positif. Hal ini terbukti dengan posisi gearing ratio dan debt to equity ratio (DER) perseroan yang masih berada di bawah 1 kali.

Hingga Maret 2014, proyek P3FP perseroan sudah mencapai 40%, dan pada Mei sudah mencapai 53%. Sementara itu, untuk proyek pengembangan Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan, Djaja mengakui, untuk proyek tersebut sudah fully finance. Dari total proyek senilai USD450 juta, pendanaan dari Japan Bank International Coorporation (JBIC) mendominasi struktur permodalan proyek tersebut, ditambah ada juga fasilitas dari Mitsubishi Bank senilai US$ 150 juta dan kas internal.“Jika proyek Pomalaa sudah selesai, kapasitas produksi nikel perseroan akan meningkat secara drastis, dan ini akan berpengaruh positif terhadap kinerja Antam,”ungkapnya. (bani)