Semester I, Laba Bukit Asam Tumbuh 33,33%

Dampak Optimaliasi Penambangan

Selasa, 22/07/2014

NERACA

Jakarta – Sampai dengan semester pertama tahun ini, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat kenaikan laba bersih sebesar 33,33% menjadi Rp1,16 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp870 miliar. Naiknya laba bersih tersebut didukung melonjaknya pendapat pada periode yang sama sekitar 18,41% menajdi Rp6,43 triliun dari semester I/2013 senilai Rp5,43 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk, Joko Pramono mengatakan, positifnya kinerja keuangan selama enam bulan pertama tahun ini dikontribusi dari optimasi operasi penambangan dan penjualan volume penjualan batu bara sebesar 8,83 juta ton atau bertambah 1,03% dibanding periode yang sama 2013 sebanyak 8,74 juta ton. Hal ini diikuti naiknya harga batu bara perseroan,”Dengan optimasi penambangan dan strategi tujuh brand batu bara, harga jual rata-rata tertimbang batu bara perseroan mengalami kenaikan,”ujarnya.

Harga batu bara perseroan mengalami kenaikan 16,88% menjadi Rp726,766 per ton dari periode yang sama tahun lalu Rp621,792 per ton. Sementara volume produksi naik 16% menjadi 7,70 juta ton dari 6,66 juta ton. Disebutkan, pembelian batu bara dari pihak ketiga oleh anak perusahaan mencapai 1,06 juta ton, sehingga volume produksi dan pembelian batu bara sebesar 8,76 juta ton atau meningkat 7% dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 8,21 juta ton.

Selain itu, perseroan juga menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Banjarsari akan rampung pada semester kedua tahun ini. Disebutkan, PLTU tersebut memiliki kapasitas 2x110 megawatt (MW) yang berlokasi di Lahat Sumatera Selatan.

Kata Joko Pramono, selesainya PLTU tersebut, maka selanjutnya siap dioperasikan untuk masuk ke dalam sistem interkoneksi Sumaera bagian selatan (Sumbangesel). Disamping pembangunan PLTU, nantinya peningkatan kapasitas Pelabuhan Tarahan dari 13 juta ton menjadi 25 juta ton per tahun juga akan selesai pada paruh kedua tahun ini,”Dengan selesainya pengembangan Pelabuhan Tarahan, selanjutnya pelabuhan akan bisa disandari dua kapasl sekaligus, satu kapal berkapasitas 80 ribu DWT (Panamax) dan kapal berkapasitas 200 ribu DWT dengan memanfaatkan dermaga baru,"ungkapnya.

Dia menambahkan, seiring meningkatnya kapasitas pelabuhan Tarahan, maka total kapasitas angkutan kereta api direncanakan bisa mencapai 17,9 juta ton. Dengan tibanya 600 unit gerbong baru pada tahun ini, maka jumlah gerbong yang dioperasikan PT KAI mencapai 3.071 unit gerbong, sehingga PT KAI pada tahun depan mampu mengangkut batu bara minimal 22 juta ton per tahun.

Transportasi Batu Bara

Sementara proyek pembangunan jalur baru transportasi batu bara dengan kereta api oleh anak perusahaan, PT Bukit Asam Transpasific Railway (BATR) dalam tahap restukturisasi pada anak perusahaan PT Bukit Asam Banko. Kemudian untuk proyek CBM di tambang Tanjung Enim, Sumatera Selatan dalam tahap penyelesaian pembuatan sumur bor nomor tiga untuk persiapan produksi gas.

Tahun depan, lanjutnya, proyek ini dijadwalkan mulai berproduksi dengan kapasitas 40 MMSCFD atau setara untuk pembangkit PLTG berkapasitas 200 MW. Proyek PLTU Banko Tengah 2x620 MW di mulut tambang dalam tahap financial closure dan akan selsai pada semester II/2014, kemudian dilanjutkan konstruksi EPC selama 3 tahun dan ditargetkan beroperasi pada 2017, dengan konsumsi batu bara dari tambang sebanyak 5,4 juta ton per tahun.

Adapun proyek PLTU Peranap 800-1.200 MW di mulut tambang sedang melakukan kajian hasil studi kelayakan. PLTU skala besar ini emanfaatkan batu bara dari tambang PTBA di Peranap, Riau dengan kebutuhan batu bara 8,4 juta ton per tahun.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya batu bara PTBA sebesar 7,3 miliar ton, perseroan dalam proses due diligence Ignitie Energy Resources di Australia. Bila hasilnya menunjukkan proses baik, maka PTBA berpeluang masuk dalam IER Ltd, yang memiliki hak paten tekonologi Cat-HTR dan menguasai 16 miliar ton batu bara di Victoria, Australia.

Dengan teknologi CAT-HTR, batu bara jenis lignite dioleh menjadi minyak mentah sintetis dan dapat diolah lagi menjadi minyak diesel, avtur dan bensin. Selain itu, teknologi ini dapat mengolah batu bara lignite menjadi batu bara kalori tinggi. (bani)