Peran Besar Berbagai Tokoh: Menangkal Hasutan dan Provokasi Menyesatkan - Oleh: Wisnu Adi Pamungkas : Pemerhati masalah politik, aktif pada Kelompok Diskusi Kedaulatan Rakyat

Munculnya dua versi hasil Quick Count dalam Pemilihan Presiden RI 2014 memberikan dampak cukup besar dalam dinamika berdemokrasi di Indonesia. Berbagai spekulasi terus bermunculan, masyarakat pun masih ribut memperdebatkan siapakah yang sebenarnya layak untuk menduduki kursi RI 1, Prabowo-Hatta ataukah Jokowi-JK. Semua memiliki pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu memahami kerumitan demokrasi ini pun pada akhirnya menjadi korban konflik tersebut. Hal ini diperparah dengan berbagai pemberitaan media partisan yang tak jarang dapat meprovokasi masyarakat khususnya para pendukung masing-masing capres, tak terkecuali juga maraknya berita-berita hoak (palsu) dimedia sosial, maupun BBM dan SMS yang mendiskriditkan pihak-pihak tertentu khususnya aparat keamanan yang dituduh tidak profesional menjalankan tugasnya, padahal kita semua tahu bahwa saat pencoblosan pada 9 Juli 2014 berlangsung aman , lancar dan tertib, dimana kondisi tersebut tak lain berkat aparat keamanan yang profesional menjalankan tugasnya. Untuk itu kita perlu menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya atas hasil tersebut. Ke depan kita harapkan semua tahapan Pilpres dapat berlangsung tetap aman dan lancar.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Politik adalah upaya untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, sehingga berbagai usaha pun akan dilakukan untuk meraihnya. Imbasnya, Deklarasi Pemilu Damai yang diutarakan oleh Kedua Kandidat Presiden RI menjadi bias dan mengalami penyempitan makna atau arti. Kandidat Presiden mungkin mampu menahan diri untuk tidak bersikap “konyol” dengan tindakan anarkis dan lainnya. Namun, hal ini bisa saja tidak berlaku bagi para simpatisan kedua kandidat. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, mencorengkan wajah demokrasi yang telah lama terbangun di Tanah Air Indonesia. Untuk itu kita berharap agar seluruh komponen bangsa untuk menahan diri dan tetap menjaga situasi yang tenang dan aman. Mari kita hormati suara rakyat yang telah memberikan suaranya dengan baik, jangan nodai dengan segala upaya yang dapat merusak tali persatuan antar anak bangsa, jangan menyebar fitnah dan berita-berita palsu yang dapat memperkeruh keadaan seperti maraknya SMS yang beredar ditengan masyarakat tentang berita telegram BIN (Badan Intelijen Negara) yang berisi “ada skenario kerusuhan massa yang didukung pihak asing,dengan menebar penembak gelap yang selama ini berkeliaran dihutan Papua untuk mendukung Papua Merdeka. Ingat Gerakan Papua didukung pihak asing dan menginginkan Jokowi menang agar terlaksanannya referendum seperti yang dialami Timor Leste”.

Berita-berita yang disebar melalui berbagai cara salah satunya SMS tersebut, jelas dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab, yang ingin mengambil keuntungan dari situasi perkembangan politik di tanah air yang justru merupakan teror terhadap rasa aman masyarakat.

Jika kita cermati kebelakang, sejak jelang Pilpres , seyogyanya para Pengamat Politik Indonesia telah memberikan pendapatnya bahwa pada Pilpres 2014 ini potensi chaos sangat besar. Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pun telah memberikan arahan kepada pihak berwajib (Polisi dan TNI) untuk meningkatkan kewaspadaannya. Dengan harapan agar tidak ada gejolak yang cukup signifikan di masyarakat.

Terkait besarnya potensi chaos tersebut setidaknya terdapat tujuh instruksi Presiden SBY kepada Polri dan TNI ;

1. Pertama saya minta jajaran Polri dan TNI tidak menganggap ringansituasi, tidak under estimate. Lebih baik siap menghadapi kemungkinanapapun yang akan terjadi. Bahwa situasinya aman terkendali kitasyukuri, tapi kalau ada gangguan tiba-tiba maka negara siap dan Polridibantu TNI siap mengatasi keamanan dalam negeri kita.

2. Sebelum tanggal 9 Juli 2014 hingga beberapa hari setelah itu atauhingga situasi benar-benar dinyatakan aman maka jajaran Polri danjajaran TNI siap dan siaga. Operasi dan kegiatan keamanan yangdilakukan Polri dan TNI terus dilakukan. Saya tidak mendengar alasanketidaksiapan, ketidaksiagaan, terhadap apa pun yang terjadi.

3. Saya berharap di samping penyelenggara pemilu, jajaran kepolisiandibantu TNI untuk mencegah dan menindak semua pelanggaran hukumberkaitan dengan pilpres ini. Misalnya aksi-aksi kekerasan, perusakanpembakaran yang mungkin bisa terjadi dari siapa pun yang dilakukanoleh pihak mana pun. Kita harus adil, harus netral tapi tidakmemberikan toleransi terhadap perilaku seperti itu

4. Polri mesti membantu penyelenggara Pemilu jika ada pelanggaranterhadap aturan pemilu apalagi kejahatan seperti politik uang,intimidasi atau paksaan uang terhadap penduduk yang mestinya merdekamenggunakan hak pilihnya. Tidak boleh dibiarkan, aturan sudah jelastinggal dijalankan tidak pandang bulu. Dengan negara tidak melakukanpembiaran maka kita bisa mencegah masyarakat tidak main hakim sendiri.

5. Saya meminta Polri dibantu TNI untuk melakukan koordinasi denganjajaran KPU, jajaran Bawaslu pusat dan daerah, jajaran pemerintah dandaerah, pers dan media massa yang juga akan menyiarkan semua kegiatanpemilihan presiden tahun 2014 ini. Koordinasi sangat penting agar apapun yang dilakukan oleh kita semua tidak merugikan masyarakat luas.

6. Saya menginstruksikan Menko Polhukam untuk memimpin danmengendalikan langsung semua operasi pengamanan yang dilakukan olehjajaran Polri bersama jajaran TNI.

7. Saya Presiden RI akan memantau terhadap proses pemungutan suara danhari-hari setelah itu. Dan apabila negara perlu melakukan tindakanbagi keamanan tanah air saya akan memberikan instruksi

Beberapa pristiwa-pristiwa yang berpotensi menciptakan situasi konflik ditengah masyarakat seperti berbagai pemberitaan media yang kebablasan, beredarnnya tabloid-selebaran fitnah yang memprovokasi, pengepungan kepada kantor TV One dan PKS Karawang, Pembakaran Banner Jokowi-JK di Jogja, Publikasi karikatur yang mendiskriditkan Islam oleh Jakarta Post, Hasil Quick Count dengan dua versi yang berbeda. Semua ini adalah potensi-potensi konflik yang dapat terjadi, sedangkan penyebaran-penyebaran berita-berita palsu atau hoak melalui media sosial, SMS dan BBM sangat berpotensi menjadi teror ditengah masyarakat yang berdampak pada rasa tidak aman dan ketakutan masyarakat. Namun kita semua berbangga dan memuji sikap masyarakat yang saat ini sudah bijak dan cerdas untuk tidak terpengaruh dengan provokasi-provokasi serta hasutan-hasutan yang tidak bertanggung jawab tersebut, selanjutnya kita harapkan hingga pengumuman resmi pada 22 Juli 2014 oleh KPU masyarakat tetap tenang dan menjaga situasi yang tetap aman serta dapat menerima keputusan KPU dan selanjutnya bersatu kembali guna mendukung kepemimpinan presiden terpilh mensukseskan program-program kerjannya.

Kita semua mengetahui bahwa sistem pemilu di Indonesia yang sudah rumit ini, pada Pilpres 2014 semakin diperkeruh oleh sikap-sikap para politisi, pengamat, akademisi, dan berbagai tokoh, tak terkecuali tokoh agama dan lainnya yang memberikan pernyataan atau statement-statement ke arah provokatif. Sikap tersebut dapat dilihat dari meningkatnya pernyataan-pernyataan tentang potensi chaos. Sepintas pernyataan tersebut terlihat biasa saja dan menjadi landasan bagi pihak keamanan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan. Akan tetapi di sisi lain, semakin sering dibahas justru potensi konflik semakin besar. Para pengamat cenderung justru melegitimasi terjadinya konflik di masyarakat. Sehingga ketika terjadi chaos, justru menjadi hal yang biasa dan mungkin pasti terjadi sesuai prediksi para pengamat tersebut. Sebagai contoh, Kantor JSI yang di teror bom molotov oleh orang tak di kenal. Tindakan tersebut menjadi pesan dan bukti bahwa benar terdapat potensi chaos.

Para politisi, pengamat, akademisi, dan berbagai tokoh, tak terkecuali tokoh agama dan lainnya baik tingkat nasional maupun tingkat daerah , seharusnya dan dituntut dapat berperan mengarahkan masyarakat untuk tetap tenang, dan tidak terpancing hasutan maupun provokasi berita-berita palsu baik SMS, BBM dan di Media Sosial lainnya serta dapat legowo dan menerima apapun hasil perhitungan suara yang dilakukan KPU pada 22 Juli 2014 mendatang. Berikan pemahaman kepada masyarakat tentang arti penting menghormati keputusan rakyat. Karena pada dasarnya kita mengharapkan adanya perubahan yang mendasar dalam wajah Indonesia untuk lima tahun ke depan. Siapapun Presiden yang terpilih, semuanya tentu memiliki tujuan yang sama, yaitu mewujudkan mimpi dan harapan masyarakat akan lahirnya Indonesia baru yang bermartabat, berdaulat, adil dan makmur. Sambut keputusan resmi Pilpres 2014 dengan suasana kegembiraan, tunjukan bahwa kita bangsa Indonesia merupakan negara besar yang menjungjung nilai-nilai demokrasi dengan nafas dan jiwa Pancasila yang menghargai perbedaan. Mari bersatu songsong Indonesia Baru dengan semanat kebersamaan membangun Indonesia yang lebih baik dan dicita-citakan.***

Related posts