Pembiayaan dan Aset Eximbank Lampaui Target

NERACA Jakarta - Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) Indonesia Eximbank di 2014 kini telah melampaui target. Dari segi aset Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) itu per 16 Juli lalu, telah mencapai Rp56,96 triliun dari target Rp54 triliun di 2014. Hal itu, dikatakan I Made Gde Erata, Direktur Utama Indonesia Eximbank di kantornya akhir pekan kemarin. "Aset kami sudah melampaui target lima tahun," ujar dia di hadapan awak media di Jakarta, Jumat (18/7) pekan lalu. Jika dibanding tahun lalu atau per Desember 2013, lanjut Erata, pertumbuhan aset Eximbank hingga kini telah mengalami pertumbuhan sebesar 23%, atau dengan kata lain aset Indonesia Eximbank tumbuh menjadi Rp56,96 triliun. Karena Desember tahun lalu aset mereka berada di angka Rp46,5 triliun. "Kami kira aset untuk pembiayaan sampai Desember masih mencukupi. Aset kita naik, di tahun lalu Rp46 triliun, sekarang tumbuh sekitar 23% menjadi Rp56 triliun," kata dia. Sedangkan dari segi pembiayaan ekspor, dikatakan Erata juga telah melampaui target. Dimana hingga 16 Juli kemarin Indonesia Eximbank telah menggelontorkan Rp47,25 triliun. Dari target sebesar Rp44,5 triliun. Karenanya, Erata optimistis kalau pembiayaan ekspor yang akan diberikan Indonesia Eximbank akan terus meningkat di masa mendatang. Karena dirinya telah melihat tren pembiayaan yang terus berkembang dari tahun ke tahun. "Kami melihat potensi pembiayaan kami akan terus berkembang ke depan," beber dia. Sementara itu, mengenai laba bersih perusahaan, Indonesia Eximbank menargetkan pertumbuhan sekitar 20%, atau senilai lebih dari Rp1 triliun di 2014, tahun sebelumnya laba bersih mereka mencapai Rp820 miliar. Tetap Pertahankan BLR Meskipun saat ini nilai tukar rupiah masih fluktuatif, Indonesia Eximbank tetap mempertahankan Base Landing Rate-nya di angka 9,25% untuk rupiah, dan 5,60% untuk valuta asing. Angka tersebut, kata Erata sudah dipertahankan Indonesia Eximbank sejak 2011 lalu. “Ya, Indonesia Eximbank memang akan mempertahankan suku bunga acuan tetap kepada para debiturnya dengan mengacu pada indikator-indikator yang ada, dan saat ini semua dinilai masih memungkinkan bagi Indonesia,” tukas Erata. Pasalnya, dana-dana yang diterbitkan oleh lembaga ini (Indonesia Eximbank) adalah berupa obligasi yang rata-rata bersifat jangka panjang, itu yang menyebabkan suku bunga tidak elastis dan lebih stabil. “Base lending rate(BLR) untuk Rupiah dan Valas kita pertahankan dari 2011 lalu. Tetapi semua itu tergantung perkembangan pasar nantinya," tutupnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Pemeliharaan Larona Canal - INCO Pangkas Target Bawah Produksi Nikel

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan adanya pemeliharaan Larona Canal Relining, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) merevisi target produksi nikel dari 76.000…

Saham CPRI dan HRME Masuk Efek Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menetapkan saham PT Capri Nusa Satu Properti Tbk (CPRI) dan…

KKP Permudah Pelayanan Perijinan Pakan dan Obat Ikan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) percepat pelayanan perijinan pakan dan obat ikan. Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pemerintah Harusnya Turun Tangan Bikin Bank Syariah

  NERACA   Jakarta – Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya menjadi kiblat ekonomi syariah dunia. Nyatanya…

OJK Komitmen Dukung Pembiayaan Berkelanjutan

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen untuk menjalankan program pengembangan pembiayaan berkelanjutan untuk mendorong kinerja…

BCA Dinobatkan The World's Best Banks 2019

      NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dinobatkan sebagai The World’s Best Banks 2019…