Jaga Stabilitas Nilai Rupiah - KONDISI POLITIK DAN EKONOMI KONDUSIF

Jakarta – Apabila kondisi ekonomi dan politik pasca pengumuman Pilpres 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetap kondusif dan aman, maka fluktuasi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS setidaknya dapat terkendali dan membantu stabilitas moneter di dalam negeri. Sebaliknya tingkat kerentanan rupiah akan semakin dalam jika suasana masyarakat menjadi gaduh atas respon pesta demokrasi tersebut.

NERACA

Sejumlah pengamat ekonomi yang dihubungi Neraca secara terpisah akhir pekan lalu, mengakui bahwa pelemahan kurs rupiah terhadap US$ belakangan ini lebih disebabkan oleh faktor fundamental yaitu makin melebarnya defisit transaksi berjalan (current account) Indonesia.

Namun, ekonom memprediksi pelemahan rupiah akan terus berlanjut usai pelaksanaan pengumuman KPU, bukan semata pengaruh politik, melainkan akibat tingginya permintaan dolar AS dalam beberapa bulan mendatang karena pengaruh repatriasi dan neraca perdagangan Indonesia. Di sisi lain, pengaruh dinamika masyarakat terhadap hasil Pilpres 2014 setidaknya dapat membantu meningkatkan stabilitas ekonomi nasional untuk jangka pendek.

“Pemilihan Presiden (Pilpres) yang berjalan secara aman dan damai memang memberikan dampak terhadap stabilitas perekonomian, terutama dalam aspek penguatan nilai tukar Rupiah terhadap US$, apalagi pada 22 Juli 2014 akan diumumkan secara pasti siapa yang memenangkan Pilpres di Indonesia. Diharapkan pengumuman KPU nanti akan berjalan damai dan tidak terjadi konflik yang tidak diinginkan maka akan terjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ujar pengamat ekonomi yang juga Rektor Kwik Kian Gie School of Business Prof Dr Anthony Budiawan.

Meski rupiah nanti menguat, menurut dia, perlu dipantau apakah itu bertahan lama atau tidak. Untuk ke depannya bisa terjadi rupiah sedikit melemah, tapi rupanya masih dalam tahap wajar. Pelemahan rupiah ada potensi konsolidasi. Konsolidasi rupiah menuju proses penguatan, walau jangka pendek tetap akan melemah.

Anthony mengatakan, pemerintah harus tetap meneruskan pembangunan infrastruktur demi menjaga perekonoian Indonesia sehingga terjadi penguatan rupiah. Kecenderungan rupiah akan melemah akibat pembangunan infrastruktur tersebut memang suatu konsekuensi yang harus dihadapi.

“Meski rupiah mengalami penguatan dikarenakan situasi politik yang aman dan damai, tapi hal tersebut perlu terjadi secara berkepanjangan tidak hanya bersifat temporer atau sementara. Hal ini menjadi penting karena ada dampak terhadap penguatan fundamental perekonomian Indonesia pada masa mendatang,” ujarnya.

Anthony juga mengatakan untuk membantu nilai rupiah supaya tidak terjadi keterpurukan maka siapapun nanti yang menjadi presiden dan wakil presiden benar-benar membawa sebuah perubahan yang signifikan bagi Indonesia, terutama pada sisi perekonomiannya mengingat beberapa waktu ini perekonomian Tanah Air diterpa ketidakpastian. Presiden terpilih nanti diharapkan supaya membawa perekonomian Indonesia menjadi lebih baik, khususnya dalam penguatan rupiah.

“Mudah-mudahan saja siapapun yang menjadi presiden mampu membawa ekonomi Indonesia ke arah yang lebih baik lagi dan membawa pertumbuhan perekonomian yang menjadi lebih baik lagi,” tambah dia.

Dia pun menjelaskan faktor politik merupakan salah satu faktor penting dalam penguatan rupiah pada saat ini, namun perlu juga penguatan ekonomi secara keseluruhan dan tidak hanya tergantung kepada faktor politik saja, Faktor politik dalam situasi pasca pemilihan presiden telah menjadi pendorong optimisme pelaku pasar. Kondisi ini diperkirakan akan lebih baik lagi jika KPU tepat waktu mengumumkan hasil resmi Pilpres pada 22 Juli 2014.

“Kelak pasca-pengumuman KPU, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga akan terdorong naik sebagai sentimen positif dan nilai tukar rupiah pun akan ikut terkerek atau menguat,” kata Anthony.

Permintaan Tinggi

Pengamat ekonomi UI Lana Soelistianingsih menilai rupiah yang kembali melemah pasca penguatan kala hitung cepat pemilihan Presiden (Pilpres) lebih disebabkan faktor fundamental ekonomi. Menurut dia, faktor ketidakpastian hasil pilpres memang berpengaruh, namun faktor fundamental lebih memegang peranan pada pelemahan tersebut. "(Kondisi) rupiah sama (melemah seperti IHSG), tapi kondisi rupiah ada karena faktor fundamental," ujarnya.

Selain itu, Lana menjelaskan pelemahan rupiah lebih disebabkan karena permintaan akan valas dollar AS yang cenderung tinggi. Pada saat rupiah berada pada level tertentu, akan terjadi pembelian dollar AS yang cukup besar. "Saat rupiah di kisaran Rp 11.500-an kebutuhan akan dollar AS tinggi. Tapi kalau misalnya rupiah ada di kisaran Rp 11.400, pasar malah menunggu, kalau-kalau ada penguatan lebih lanjut," ujar dia.

Sebenarnya, menurut dia, permintaan terhadap US$ akan cenderung tinggi pada Agustus hingga September. Akan tetapi, ketika saat ini rupiah dipandang telah mencapai level yang stabil, pasar membeli dolar AS untuk digunakan pada bulan-bulan tersebut. "Sehingga, saya memandang kondisi rupiah sifatnya fundamental. Setelah bulan September mungkin akan lumayan, tapi kisaran tetap tidak jauh dari Rp 11.500," ungkapnya.

Namun begitu, kata dia, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pasca pengunguman dari KPU soal pemilihan presiden maka itu membuat tekanan rupiah semakin dalam. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah bisa ikut menjaga stabilitas politik dan keamanan karena itu juga berkaitan terhadap niali tukar rupiah. Pemerintah, kata dia, harus memastikan tidak akan ada kerusuhan dalam pemilihan presiden mendatang. "Ya, meskipun sementara, ternyata isu politik cukup berpengaruh," kata Lana.

Namun, Lana memprediksi, meski pemerintah mampu menjaga pemilihan presiden dengan kondusif, rupiah masih akan tetap lemah hingga kuartal III 2014. "Kebutuhan terhadap dolar AS masih akan tinggi untuk membayar utang luar negeri," kata dia

Ketua Program Kebijakan Publik FEUI Telisa Aulia Falianty mengatakan, keputusan pemenang Pilpres terhadap rupiah masih menunggu dari situasi keamanan nasional. Jika pasca pengumuman berjalan aman, maka rupiah bisa turun meski temporer karena euforia kemenangan sementara. Tapi sebaliknya, jika situasi keamanan nasional terganggu maka rupiah akan terdepresiasi. "Jika aman maka ada dampak positif terhadap rupiah, tapi kalau tidak maka akan berdampak negatif," kata dia.

Karena dilihat dari ketatnya persaingan kedua pasangan pilpres, tidak menuntut kemungkinan bakal terjadi konflik. Jika terjadi hal demikian, maka akan sangat sulit rupiah menguat terhadap dollar AS. "Ekspektasi investor biasanya melihat stabilisasi kondisi politik negara, jika keamanan terganggu maka akan berdampak negatif dari investor, tapi jika aman maka akan berdampak positif dan baik buat rupiah karena banyak dana asing masuk," ujarnya.

Meski demikian, jika memang kondisi pasca pengumuman aman baik untuk rupiah, tapi perlu disadari itu hanya sementara karena penguatan rupiah tidak terlepas dari fundamental ekonomi sendiri. Dimana secara fundamental masih belum sepenuhnya membaik jadi rupiah masih berpotensi akan menurun. "Melihat kondisi riil, rupiah akan terasa sulit bisa di bawah Rp 11.000 terhadap US$, proyeksi saya akan dikisaran Rp 11.800 sampai dengan akhir tahun ini," ujarnya.

Itu pun, jika pemerintah mendatang mau mengambil kebijakan tegas dan berani untuk bisa menekan impor, tidak menambah utang luar negeri, dan berani melakukan transaksi dengan rupiah jika itu bisa dilakukan maka ada kemungkinan rupiah membaik meski tidak signifikan. "Memang bicara membangun fundamental ekonomi yang kuat tidak instan, tapi setidaknya dalam jangka pendek pemerintah terpilih yang baru nanti berani dan mampu mengambil kebijakan tegas tidak berlama-lama melakukan pesta kemenangan. Jika itu dilakukan, maka rupiah minimal stabil tidak terjun makin terdepresiasi," tegasnya. agus/mohar/bari

Related posts