Stop Isu Provokatif, Demi Masa Depan Indonesia

Oleh : Pujo Santoso, Alumnus Fisipol Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Senin, 21/07/2014

Pemberian hak konstitusional warga negara Indonesia, pemilihan umumPresiden dan Wakil Presiden secara demokratis dengan dipilih langsung olehrakyat telah dilaksanakan pada tanggal 09 Juli 2014 yang lalu, artinyabahwa rakyat Indonesia telah melaksanakan proses pemilihan kepala negarauntuk memimpin negara ini lima tahun yang akan datang. Tetapi prosestersebut masih menyisakan beberapa proses lagi hingga pengumuman pemenangproses pemilu ini sebagai kepala negara pilihan rakyat Indonesia.

Hiruk pikuknya pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden ini membuatseluruh rakyat melek politik, dalam ilmu komunikasi politik, pesan yangdisampaikan dengan tujuan mempengaruhi pemilih untuk memilih kandidat yangdi usung harus lah dilakukan dengan efektif dan efisien, agar kampanyetentang kandidat yang diusung bisa tersampaikan kepada seluruh masyarakat. Penyampaian pesan dengan mengunakan alat komunikasi sosial media merupakanlangkah komunikasi atau kampanye yang efektif dan efisien bagi pesertapemilu karena pada saat ini, alat komunikasi sosial media telah menjadikebutuhan bagi masyarakat.

Perkembangan ilmu pengetahuan pada hakikatnya penciptaan sesuatu yang baruatau modifikasi dari yang telah tersedia, sebagai upaya perbaikan tatanankehidupan manusia dimasa-masa mendatang. Perkembangan ilmu pengetahuanbidang informasi dan komunikasi berkembang sangat pesat dan terus dilakukanoleh pembaharuan oleh para Ilmuwan dibidangnya demi penciptaan komunikasiyang efektif dan diefisien ditengah masyarakat. Media sosial jugamerupakan alat komunikasi yang efektif dan efisien untuk menghubungkanseseorang dengan jejaringnya.

Selang waktu menjelang pengumuman hasil *real count* Presiden dan WakilPresiden oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia tanggal 22 Juli 2014 (besok),berbagai isu-provokatif yang berisikan hasutan, dengan salingmenjelekkan sesama peserta pemilu belakangan ini telah tersebar luas danmenjadi perbincangan ditengah masyarakat.

Isu provokatif yang disebarluaskan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab ini bertujuan untuk mengacaukan suasana pemilu tahun ini, isi daripada pesan yang disampaikanmelalui sosial media seperti Short Messagge Service (SMS), BlackberryMessagger (BBM), Facebook, Twitter, dan sosial media lainnya yang sering digunakan oleh masyarakat tersebut penuh hasutan dan adu domba serta akanada aksi anarkis dan kerusuhan besar-besaran yang terjadi jika salah satupasangan peserta pemilu tidak terpilih dan ada beberapa pesan lagiberisikan peringatan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk waspada bahwasiapa pun yang terpilih pada pemilu tahun ini akan ada aksi anarkisme dankericuhan secara besara-besaran yang akan terjadi, dan titik kericuhantersebut bisa terjadi dibeberapa kota.

Melihat kondisi seperti ini, seluruh masyarakat harus cerdas dan selektifdalam menanggapi isi pesan yang disampaikan, karena isu-isu provokatif yangseperti ini bisa saja menjadi gejala awal untuk memecahbelahkan persatuandan kesatuan masyarakat dan bangsa ini. Menurut kami, isu yang tidakbertanggung jawab seperti ini adalah luapan emosi pihak-pihak yangkepentingannya tidak terakomodir dalam proses pemilu ini, atau ini jugamerupakan ketidakpuasan pihak-pihak yang kalah dalam pemilu ini, dan yang paling eksterm adalah ini merupakan cara-cara pihak asing menginginkanperpecahan terjadi di Indonesia.

Karena itu, jika ada masyarakatyang menerima pesan singkat yang berisikan ajakan, hasutan yang provokatif sebaik jangan ditanggapi pesan tersebut dengan melakukan hal-hal yang tidak produktif dan berdampak tidak baik terhadap masa depan bangsa ini , dengan cara jangan menjadi oknum penyebarluasan pesan tersebut dengan meneruskan pesan tersebut kepada jejaring di sosial media, lakukan hal-hal yangbersifat klarifikasi, dan pencarian fakta dan kebenaran daripada pesantersebut dengan cara melaporkan kepada pihak yang dipercaya sebagaipenyelenggara dan pengawas pemilu, dengan cara melaporkannya kepadapengawas pemilu terdekat, atau melaporkan kepada pihak penegak hukum.

Kemudian penegak hukum bisa melakukan pelacakan siapa sumber dari penyebaranluasan pesan yang beredar ditengah masyarakat tersebut. Kemudian kepada pihak yang berkepentingan dan terlibat dalam proses pemilu ini, mari kitajaga tatanan demokrasi negara ini dengan senantiasa memberikan pencerdasan politik dengan berpolitik yang santun serta senantiasa menjadi negarawandalam proses berpolitik dan bernegara, karena yang terpenting dari prosespemilu ini adalah keutuhan NKRI, masa depan rakyat Indonesia, dan cita-citadaripada Undang-Undang Dasar 1945, menjadikan negara ini sebagai bangsa yang adil, makmur dan sejahtera.***