Dongkrak Penjualan, Trisula Akuisisi Mido Uniform

Investasikan Dana Rp 23 Miliar

Senin, 21/07/2014

NERACA

Jakarta – Sukses mengakuisisi merek G-2000, kedepan PT Trisula International Tbk (TRIS), operator merk baju lokal dan produsen pakaian jadi terkemuka bakal mengakuisisi merek baru guna meningkatkan penjualan. Namun sayangnya, perseroan belum bisa menyebutkan merek dimaksud lantaran masih dalam penjajakan.

Namun yang pasti, dalam waktu dekat perseroan berencana mengakuisisi 85% saham Mido Uniform Pte Ltd milik Trisula Corporation Pte Ltd yang berdomisili di Singapura. Nilai akusisi ditaksir sekira Rp23 miliar, “Dengan akuisisi ini, kita tidak hanya menambah portofolio, tetapi juga mendorong ekspansi bisnis di regional. Misalnya kita bisa masuk pasar Makau dan sekitarnya,”kata Direktur Direktur Ritel Trisula, Rudolf Simarmata di Jakarta,kemarin.

Nantinya kedepan, hingg akhir tahun Mido Uniform bisa menyumbang penjualan perseroan di kisaran 6%, atau Rp48 miliar dari total target penjualan 2014 yang sebesar Rp800 miliar. Sementara kontribusi ke kenaikan laba diperkirakan sebesar 10%, atau menjadi Rp35 milliar,”Kalau untuk 3 tahun ke depan, proyeksi kami atas kinerja Mido Uniform memang diharapkan terus membaik. Mungkin sama seperti orientasi perseatase 20% growt rate untuk semua lini bisnis," ungkap Rudolf.

Asal tahu saja, Mido Uniform Pte Ltd adalah perusahaan marketing yang memasarkan produk-produk pakaian seragam dan accessories untuk pasar Singapura dan regional. Selain akusisi Mido Uniform, TRIS juga mendapatkan hak sebagai exclusive distributor sebuah merek ternama yaitu “Hallmark” untuk produk “bed and bath” di Indonesia.

Kata Rudolf, Hallmark diakusisi dari bisnis yang sudah berjalan di Indonesia. "Hallmark sudah ada di market yakni di dua lokasi Metro Deprtement Store. Pengembangannya nanti mau dibawa ke indepenent shop, dan depatrmenen store," ujarnya.

Pengembangan Hallmark tahun ini, lanjut Rudolf, akan ada di 5 lokasi, selain dua lokasi yang sudah ada. "Dengan proses fix asset yang sudah ada, kmudian tambah lagi di 5 loksi, mungkin kita habiskan sekira Rp5-6 miliar, termasuk initial invest untuk take over Hallmark," tukas dia.

Rudolf menambahkan, sejauh ini Hallmark sudah hadir di pasar Malysia, Singapura, Vietman dan Taiwan dan akan menjajaki pasar di Indonesia. Kedepan, tidak tertutup kemungkinan masuk ke pasar regional. Sebagai informasi, hingga saat ini PT Trisula International Tbk berhasil merealisasikan penjualan di kisaran 50% dari total terget penjualan 2014 yang sebesar Rp800 miliar,”Kita belum bisa disclose hasil triwulan II, tetapi kalau secara persentase kurang lebih sudah 50% dari target penjualan kita hingga semester pertama,"kata Rudolf Simarmata

Momen Politik & Lebaran

Rudolf juga mengungkapkan bahwa ada fenomena yang menarik terkait penjualan TRIS sepanjang pesta demokrasi tahun ini. Ada perubahan signifikan dari tahun-tahun politik sebelumnya yang berdampak positif ke penjualan retail TRIS, menjadi berkurang di tahun ini,”Ada yang beda. Biasanya di tahun politik lebih banyak order dari instansi, korporasi. Sekarang berkurang. Mungkin takut dengan monitoring penegak hukum yang ketat," pungkas Rudolf.

Namun dia menegaskan, indikator tersebut tidak begitu berpengaruh ke total penjualan. Karena yang terjadi, kata dia, hanya pergeseran cutomer profile dari pemesanan uniform.

Begitu juga dengan penjualan selama Lebaran. Yang mana mans wear terlihat tinggi penjualannya di satu minggu sebelum Lebaran. Sebelumnya, grafik minggu pertama puasa didominasi penjualan pakaian anak-anak, dan di minggu kedua didominasi kebutuhan kelompok ladies,”Tidak ada terget khusus. Penjualan Idul Fitri-Natal sudah diperhitungkan dalam target penjualan Rp800 miliar," jelas Rudolf.

Sementara terkait fluktuasi nilai tukar, ada posisi berimbang terhadap penjualan TRIS, mengingat Perseroan mempunyai dua sektor yakni manufkturing dan retail. Manufacturing incomenya dalam bentuk dollar, tetapi retail yang ada produk impor yang penjualanya dengan rupiah tentu tidak untung,”Jadi kombinasi. Tetapi tentu ada dampak kenaikan harga jual di retail. Harga naik untuk jaga margin. Tetapi 70% purchasing lokal produk. Sehingga tidak terlalu memberatkan," tegas dia (bani)