Transaksi Perdagangan Menggunakan Renminbi Minim

Indonesia-Tiongkok

Jumat, 18/07/2014

NERACA

Jakarta - Head of Global Trade and Receivables Finance HSBC, Nirmala Salli mengungkapkan, penggunaan Renminbi untuk transaksi ekspor-impor antara Indonesia dan Tiongkok masih minim karena pebisnis masih "wait and see" mengenai kebijakan tentang mata uang tersebut.

"Memang di Indonesia masih kecil sekali, padahal setahun lagi pada 2015, Tiongkok sudah mengimplementasikan kebijakan mengenai Renminbi dan penggunaannya bisa mengantisipasi risiko nilai tukar," katanya di Jakarta, kemarin.

Nirmala mengatakan selain sikap pengusaha yang masih "wait and see", nilai tukar rupiah yang cenderung tidak stabil beberapa waktu terakhir juga membuat mitra dagang kedua negara juga tidak antusias menggunakan Renminbi.

Selain itu, lanjutnya, mitra dagang di Tiongkok, juga beberapa diantaranya, masih ada yang menawarkan pembayaran dengan dolar AS.

"Untuk transaksi impor dari Tiongkok, tawaran diskon dari mitra dagang Tiongkok jika menggunakan renminbi juga sering terkendala implementasinya sehingga adang kembali lagi ke dolar AS" kata dia.

Namun dia mengingatkan beberapa tahun mendatang, mitra dagang dari Tiongkok akan semakin gencar mendorong mitra bisnisnya menggunakan Renminbi.

Masalah lainnya terkait minimnya penggunaan renminbi juga datang ketika tidak semua bank di Indonesia memiliki sistem penukaran renminbi, berbeda dengan mata uang asing lainnya yang tersedia.

"Hal ini patut disayangkan karena transaksi perdagangan kedua negara RI-Tiongkok besar sekali," ujarnya.

Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Di sisi lain, sejak beberapa tahun lalu, Pemerintah Tiongkok terus gencar menjadikan renmnibi menjadi mata uang perdagangan internasional, menyaingi euro dan dolar AS.

"Maka itu, kami ingin edukasi terus tentang Renminbi ini,supaya nanti pada 2015 ketika kebijakan semakin ketat, pebisnis tidak kaget," kata dia.

Jika tidak bersiap, Nirmala berujar, pebisnis Indonesia dikhwatirkan tidak dapat memabfaatkan potensi bisnis dengan Tiongkok, di saat negara-negara lain sudah beradaptasi dengan renminbi.

Nilai transaksi perdagangan yang dibukukan Tiongkok, kata Nirmala, dapat mencapai empat triliun dolar AS per tahun.

"Sayang, jika Indonesia tidak dapat memaksimalkan peluang di kue bisnis seperti itu," ujarnya.

Merujuk pada survei yang dilakukan Nielsen, dia mengatakan, di beberapa negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Perancis, Uni Emrirat Arab, Tiongkok dan wilayah administratif Hongkong, Taiwan, negara Singapura serta Australia, penggunaan renminbi cukup diminati dan diprediksikan pada lima tahun mendatang bakal menyaingi dolar AS.

Salah satu alasan penggunaan renminbi cukup diminati di beberapa negara itu adalah untuk mengurangi risiko nilai tukar dibandingkan dolar AS yang dianggap kurang stabil. [ardi]