Ekonomi Indonesia Masih Dihantui Risiko

NERACA

Jakarta – Berdasarkan rapat yang digelar Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) terkait dengan situasi perekonomian terkini. Telah mengambil berbagai kesimpulan. Dimana FKSSK mewaspadai beberapa faktor risiko yang perlu mendapat perhatian. Pertama dari faktor domestik, seperti defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), defisit transaksi berjalan ataucurrent account deficit, serta kondisi likuiditas perbankan.

"Kondisi terjaga dari sisi pasar uang yang juga sisi fiskal kemudian perbankan tetap ada risiko yang harus diperhatikan. Ini adalah yang berkaitan dengancurrent account, fiskal, juga misal persoalan mengenai likuiditas," kata Menteri Keuangan Chatib Basri yang sekaligus merupakan Ketua FKSSK di Jakarta, Kamis (17/7).

Perbaikancurrent account deficit, lanjut Chatib, terus diupayakan dalam waktu dekat. Targetnya adalah berada di bawah 3% pada akhir tahun ini.

"Caranya saya kira dengan volume konsumsi BBM (bahan bakar minyak) dipatok di 46 juta kiloliter, turun dari sebelumnya 48 juta kiloliter. Impor BBM pasti akan turun. Selain itu, Tiongkok yang pertumbuhan ekonominya 7,5% lebih baik dari diperkirakan sehingga mendorong ekspor," jelasnya.

Dari dalam negeri, yang juga mendapat sorotan adalah utang luar negeri pemerintah dan swasta yang nilainya mencapai US$ 283,7 miliar (per Mei 2014). Porsi terbesar adalah swasta dengan utang luar negeri US$ 151,5 miliar, tumbuh 15,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kemudian dari faktor eksternal, FKSSK juga memperhatikan sejumlah isu. Misalnya berlanjutnya penurunan harga komoditas.

Sebelumnya pemerintah bersama DPR sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) merubah target pertumbuhan ekonomi 6,0 persen yang dipatok dalam APBN 2014. Turun ke level 5,5%. “Melambat dari realisasi 5,8% pada 2013,” ujar Chatib

Sedangkan International Monetery Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014 berada sekitar 5,5%. Pada hal sebelumnya pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berdasarkan APBN sebesar 6% pada tahun 2014 ini. Dan melihat kondisi sekrang, Bank Indonesia (BI) mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dilevel 5,1% - 5,5% dari 5,5% - 5,9%.

"Kami prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dilevel 5,5%. Tapi tahun depan diperkirakan ada kenaikan hingga 5,8%," ujar Senior Resident Representative IMF, Benedict Bingham.

Diakui Benedict, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2014 memang melambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tercatat pada kuartal I-2014 ini, pertumbuhan ekonomi hanya 5,21% dan pada periode yang sama tahun lalu tumbuh 5,62%.

Dia menjelaskan, perlambatan ekonomi Indonesia ini memang dipengaruhi perlambatan ekonomi Tiongkok sehingga kinerja ekspor Indonesia melambat. "Memang melambat, tapi kami melihat walaupun melambat, ke depan ekspor Indonesia akan tetap tinggi," kata dia. [agus]

BERITA TERKAIT

Minat Perusahaan Untuk IPO Tetap Tinggi - Kondisi Ekonomi Masih Baik

NERACA Jakarta - Nilai tukar rupiah yang sempat mengalami depresiasi cukup dalam dan memberikan sentimen negaif terhadap kondisi indeks harga…

Tren IHSG Masih Berada di Zona Merah - Sentimen Negatif Perang Dagang

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (18/9) ditutup melemah 12,46 poin masih…

KOTA DEPOK - Pengoperasian Terminal Diharapkan Tumbuhkan Ekonomi Baru

KOTA DEPOK Pengoperasian Terminal Diharapkan Tumbuhkan Ekonomi Baru NERACA Depok, Jawa Barat - Wali Kota Depok Mohammad Idris berharap pengoperasian…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Naik Rp1,25 Triliun, Banggar Tetapkan Anggaran Subsidi Energi Rp157,79 Triliun

      NERACA   Jakarta - Rapat Panitia Kerja Badan Anggaran DPR menyetujui alokasi subsidi energi sebesar Rp157,79 triliun…

Operasi Pasar Beras Bulog Tak Diserap Maksimal

      NERACA   Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengakui bahwa beras yang digelontorkan melalui operasi…

Presiden Teken Perpres Defisit BPJS Kesehatan Ditutupi dari Cukai Rokok

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) mengenai penggunaan cukai…