Animo Bernvestasi Reksa Dana Meningkat - Fundamental Ekonomi Baik

NERACA

Jakarta – Meskipun di tahun politik, dana asing yang masuk ke pasar modal cukup tinggi. Hal ini menjadi indikator bila keyakinan investor asing sudah pulih. Alhasil, dampak positifnya minat masyarakat berinvestasi dipasar modal juga tinggi, tidak hanya berinvestasi saham tetapi juga reksa dana.

Bahkan menurut analis Commonwealth Bank Indonesia, anak perusahaan Commonwealth Bank Australia Group mengatakan animo masyarakat terhadap produk reksadana masih cukup tinggi,”Dana kelolaan reksa dana kami sekitar Rp4,8 triliun, akhir tahun diharapkan tumbuh sekitar 15-20% seiring dengan kondisi pasar modal yang cukup kondusif,”kata Direktur Wealth Management dan Produk Commonwealth Bank Indonesia Rian Kaslan di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, animo masyarakat terhadap produk pasar modal Indonesia masih tinggi, hal itu seiring dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang juga masih cukup kuat sehingga menambah sentimen yang baik meski dibayangi gejolak politik di dalam negeri,”Kami yakin kondisi politik di Indonesia berjalan aman, kita lihat nanti hasil pengumuman hasil pilpres pada 22 Juli," ucapnya.

Selain itu, menurut dia, tinggi animo masyarakat terhadap produk pasar modal juga tidak lepas dari kegiatan edukasi yang dilakukan perusahaan secara berkelanjutan. Pada semester II/2014, kata Rian Kaslan, Commonwealth Bank Indonesia merencanakan untuk meluncurkan produk reksa dana baru,”Kami sudah mengajukan izin peluncuran reksa dana baru itu ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini masih dalam proses mendapatkan persetujuan," katanya.

Terkait penyaluran kredit, ia memaparkan bahwa hingga semester I tahun 2014 mencapai Rp14,5 triliun atau meningkat sekitar 27,27 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp11,51 triliun. Kendati demikian, lanjut dia, sejalan dengan arahan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perusahaan akan menjaga pertumbuhan kredit tahun ini dikisaran 15-17%,”Targetnya 17% pada tahun ini sesuai dengan arahan OJK dan BI. Kalau untuk pertumbuhan kreditkan seiring dengan pasar juga," ucapnya.

Di sisi lain, Rian Kaslan mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat membuat perusahaan melakukan inisitif-inisiatif untuk memperketat pertumbuhan kredit,”Bukan kami saja mengerem kreditnya tapi bank-bank lain juga," katanya.

Sebagai informasi, sampai dengan semester pertama tahun ini, total dana kelolaan reksa dana tercatat sebesar Rp200,14 triliun. Jumlah itu turun sekitar Rp480 miliar atau 0,24% dibanding posisi akhir Mei sebesar Rp200,62 triliun. Disebutkan, turunnya dana kelolaan reksa dana hingga akhir Juni 2014 berkebalikan dengan naiknya jumlah unit penyertaan. Pada bulan lalu, jumlah unit penyertaan reksa dana naik sekitar 600 juta menjadi 124,76 miliar dibanding posisi bulan sebelumnya sebanyak 124,16 miliar.

Kata analis Riset PT Infovesta Vilia Wati, turunnya dana kelolaan industri reksa dana pada Juni dibanding bulan sebelumnya akibat terkoreksinya bursa saham dan obligasi pada periode tersebut,”Akibatnya, nilai pasar portofolio reksa dana berbasis saham dan obligasi secara rata-rata mengalami penurunan yang berimbas pada dana kelolaan reksa dana secara total,”ujarnya. (ant/bani)

Related posts