Industri Benih Dalam Negeri Perlu Dikembangkan

Tingkatkan Daya Saing

Jumat, 18/07/2014

NERACA

Jakarta - Ketua Dewan Hortikultura Indonesia Benny Kusbini mengatakan industri benih dalam negeri harus terus dikembangkan. Hal itu untuk mendorong peningkatan daya saing produk hortikultura di pasar domestik maupun luar negeri. “Membatasi investasi di sektor hulu khususnya benih yang sarat riset dan teknologi hanya akan membuat produk hortikultura impor membanjiri pasar Indonesia dan mematikan petani,” kata Benny di Jakarta, Kamis (17/7).

Benny mengatakan hal tersebut menanggapi proses uji materi UU No. 13 tahun 2010 tentang Hortikultura khususnya pasal 100, yang mengatur pembatasan investasi asing maksimal 30%. Pemohon uji materiil adalah petani sayuran dan Asosiasi Perusahaan Benih Hortikultura (Hortindo) meminta pembatasan investasi tidak diberlakukan di sub sektor perbenihan karena akan sangat merugikan hak konstitusional petani sayuran.

Benny yang menjadi saksi ahli pada sidang uji materi UU tersebut mengatakan, UU Hortikultura sudah cukup bagus termasuk Pasal 100 tentang pembatasan investasi asing maksimal 30%. Namun, khusus untuk sektor perbenihan, hal tersebut justru akan merugikan kepentingan nasional yakni kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional.

Sebab kata dia, produksi hortikultura Indonesia saat ini masih jauh tertinggal dibanding negara-negara lain seperti Thailand dan India. Apabila tidak ada perbaikan dikhawatirkan Indonesia hanya akan menjadi pasar negara lain. “Agar dapat bersaing, produk hortikultura harus sesuai keinginan pasar. Sehingga sangat penting untuk melakukan riset dan investasi dibidang perbenihan agar dapat menghasilkan produk sesuai keinginan pasar,” kata Benny.

Menurut Benny apabila pasal tersebut diberlakukan produsen benih akan memilih merelokasi usahanya ke negara-negara lain yang saat ini berlomba menarik investasi di sektor riset dan pengembangan benih sehingga akan merugikan nasib jutaan petani hortikultura yang menggantungkan pada varietas unggul.

Benih Lokal

Sementara itu, Ikatan Produsen Benih Hortikultura (IPBH) menjamin pasokan kebutuhan benih hortikultura dalam negeri akan didominasi oleh benih lokal. Ketua Presidium IPBH Slamet Sulistyo mengatakan para petani kini mulai beralih ke benih lokal akibat daya adaptasi rendah dari kebanyakan benih impor yang tidak sesuai dengan iklim Indonesia.

Dia menilai para petani telah mengurangi ketergantungan terhadap benih impor atau hasil produksi perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia, karena menganggap kualitas benih produksi lokal lebih bermutu. “Produksi benih dari perusahaan yang tergabung dengan IPBH selama semester I-2014 telah melebihi dari total permintaan. Ini merupakan indikasi bahwa industri benih lokal mampu memenuhi kebutuhan benih hortikultura dalam negeri,” katanya.

Sulistyo menilai produksi benih hortikultura dalam negeri memiliki kualitas yang berdaya saing. Benih sayur dan buah seperti cabai, tomat, kacang panjang, melon, dan semangka mampu diproduksi di dalam negeri oleh 100% tenaga lokal. “Selama ini produsen benih Indonesia selalu dicitrakan tidak mampu memenuhi kebutuhan benih dalam negeri, nyatanya dalam 1 tahun terakhir kita mampu memenuhi kebutuhan benih hortikultura dalam negeri,” tutur Sulistyo.

Dia memaparkan produksi benih dari IPBH yang memasok 20% dari total kebutuhan nasional selama semester I-2014 telah mencapai 1.500 ton, dan terdiri dari sekitar 60 varietas. Menurut perhitungannya kebutuhan benih hortikultira nasional tahun ini akan meningkat dari 13.000 ton pada 2013, menjadi 14.000 ton.

Direktur Perbenihan Hortikultura Kementan Sri Wijayanti Yusuf menuturkan bahwa pihaknya mendorong swasta untuk berinvestasi di industri benih hortikultura mengingat mulai November 2014 penanaman modal asing dibatasi hanya 30 persen dari sebelumnya 100%. “Industri biji dan benih musiman ini seksi, keuntungannya besar, karena itu swasta mau masuk. Nah, di mana tempat yang swasta tidak mau masuk, di situ lah peran pemerintah,” katanya.

Sri menambahkan investasi harus lebih fokus pada teknplogi, penemuan varietas unggul untuk buah-buahan tropis dan tanaman obat. “Kita kan saingannya cuma Thailand, tetapi pemuliaan dan teknologinya masih kurang, kalau kita diamkan akan habis,” katanya.

Pernyataan tersebut menyusul Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura pasal 100 yang mengatur bahwa penanaman modal asing (PMA) dibatasi maksimal hanya 30%, padahal sebelumnya mencapai 100%. Perusahaan dengan investasi asing lebih dari 30% diberi batas waktu pelepasan modal sampai 2014, termasuk perbenihan hortikultura, budidaya hortikultura dan industri pengolahan hortikultura.

Sri menambahkan upaya lain yang bisa dilakukan adalah produsen lokal berinvestasi di luar negeri, seperti di Tiongkok untuk benih sawi hijau yang dimiliki PT Agri Makmur Pertiwi. “Kita mempunyai perusahaan swasta yang sudah linked (terhubung) ke teman-teman produsen di Tiongkok, jadi saling bertukar,” katanya.