Pemerintah Mulai Terapkan Penggunaan Biodiesel 20%

Kurangi Impor BBM

Jumat, 18/07/2014

NERACA

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan uji coba dengan memanfaatkan biodiesel sebesar 20%. Padahal sebelumnya, pemerintah memberikan mandatory untuk pemanfaatan sebesar 10%. Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) melakukan Uji Jalan (Road Test) Pemanfaatan Biodiesel 20% (B20) untuk kendaraan bermotor dan alat berat.

Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan uji jalan pemanfaatan biodiesel 20% (B20) merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM). “Hari ini (kemarin) kita bergerak lagi untuk persiapan program pada tahun 2016, yaitu mencampur solar dengan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebesar 20%. Karena selama ini 10% sudah jalan, dan akan jadi 20%. Maka dari itu dites uji coba (road test),” ucap Jero di Jakarta, Kamis (17/7).

Pihaknya mencatat konsumsi BBM di Indonesia telah lebih dari kuota yang ditetapkan. Di lain sisi, padahal kemampuan produksi minyak bumi cenderung menurun dan kapasitas kilang BBM pun masih terbatas. “Beban kita impor BBM, impor premium dan solar termasuk crude karena produksi juga yang kurang, itu lah beban kita yang besar,” paparnya.

Ia mengatakan untuk mengurangi akan ketergantungan impor BBM adalah dengan menjalankan program mandatory BBN dari awalnya 10% menjadi 20%. “Biodisel menjadi 20%, hal-hal yang bisa dijalankan kita tes, karena mengandung teknologi/sistem dan mencakup masyarakat banyak. Makanya uji coba dulu, kalau sudah oke, sosialisasi baik dan masyarakat mengerti baru diterapkan. Hari ini kita uji coba B20, jika tesnya menghasilkan oke, artinya bisa, perfomance mesin enggak berkurang dan mesin ga rusak atau perlu modifikasi mesin itu, itu penting," paparnya.

Jero pun berterimakasih kepada instansi yang berkontribusi pada mandatory ini guna mengurangi impor yang besar. Menurutnya, niat baik saja tidak cukup tetapi harus ada program baik. “Kalau test ini sudah selesai, laporkan ke saya, siapa yang kontribusi dan enggak hadir laporkan ke saya, nanti tuhan akan catat siapa saja yang enggak berjuang negara, ini kita terhimpit karena impor BBM. Dengan resmi, saya luncurkan test drive atau uji tes penggunaan Biodiesel 20% pada tahun ini,” tukasnya.

Menghemat Devisa

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo menargetkan, dengan adanya penambahan mandatory Bahan Bakar Nabati (BBN) ini sesuai Permen ESDM Nomor 25 Tahun 2013 dapat menghemat devisa dua kali lipat dari penerapan mandatory BBN sebelumnya yang sebesar 10% atau menghemat USD3,11 miliar di tahun 2014. “Kita impor BBM solar, yang subsidi saja 16 juta kilo liter (kl), itu belum termasuk yang non subsidi. Jadi kalau 20% biodiesel dari 16 juta kl itu dicampur jadi 3,2 juta kl atau 2,3 miliar liter bisa dihemat,” ucap Susilo.

Namun dirinya tidak memastikan angka penghematan dari pencampuran biodiesel 20% karena masih tahap uji coba dan belum menentukan besaran produksi biodiesel yang akan dicampur. “Itu dikalikan dua saja,” singkatnya.

Susilo mengklaim, uji jalan dengan campuran biodiesel ini tidak pengaruhi perfomance mesin karena itu untuk angkutan umum dan alat-alat berat. “Target kita untuk bikin blending facility bisa ditingkatkan. Kita juga minta KPC untuk produksinya double, ujung kita di sana, di sana akan me-reduce,” paparnya.

Menurut Susilo, penerapan biodiesel ini sebagai energi masa depan dan diharapkan berhasil. Dirinya pun meminta kepada Aprobi untuk menyediakan biodiesel (B100) sesuai kebutuhan selama pengujian dan penerapan di lapangan. “Dan untuk masalah harga, sudah ditetapkan harga yang diganti impor solar sesuai dengan harga itu. Karena ini bahan bakunya ditanam di negara kita oleh petani kita, dan dampak positifnya akan signifikan,” tukasnya.

Ditambahkan oleh Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana, kegiatan kajian teknis pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) pada kendaraan bermotor dan alat besar diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan komitmen bersama dalam mendapatkan data dukung teknis pemanfaatan B20 untuk mempercepat dan meningkatkan mandatory pemanfaatan BBN dalam menggantikan BBM dan energi fosil lainnya. “Bukan untuk mendapatkan opsi apakah B20 akan dilaksanakan atau tidak pada tahun 2016,” ucap Rida.

Rida menambahkan, selain itu diharapkan dapat meminimalisir permasalahan ataupun keraguan yang timbul terkait dengan implementasi BBN di dalam negeri. “Yang ketiga mendorong kendaraan bermotor dan alat besar untuk menghasilkan teknologi mesin yang dapat menggunakan BBN dengan campuran di atas 20% hingga 100% (B20-B100)," paparnya.

Menurut Rida, pada hari ini dilaksanakan uji jalan (road test) pemanfaatan biodiesel (B20) pada kendaraan bermotor sejauh 40 ribu km dengan rute mulai BPPT Serpong sebagai basecamp I - tol Jagorawi - Puncak - Cianjur - Padalarang - Cileunyi - Bandung - Lembang basecamp II - Subang - Cikampek - Palimanan - Karawang - Cibitung dan kembali ke Serpong dengan jarak tempuh per hari sekitar 500 km.

“Rute ini dipilih dengan mempertimbangkan kondisi real jalan seperti highway, jalan beton, jalan naik dan turun, lalu lintas padat serta suhu dingin (puncak). Kami harapkan hasil uji jalan ini dapat mempresentasikan kondisi real di lapangan sehingga rekomendasi teknis yang diberikan pun tepat sasaran,” paparnya.