Indeks Risiko Cuaca

Jumat, 18/07/2014

Oleh: Kencana Sari MPH

Peneliti Balitbang Kemenkes

Hari itu Jakarta tiba-tiba menjadi sangat sejuk jika tidak bisa di bilang dingin. Temperatur cuaca tercatat 23 derajat celcius. Padahal sebelumnya, seperti biasa terik matahari terasa menyengat kulit. Di Australia setelah mengalami heat stroke hingga mencapai suhu 48 derajat celcius, belakangan mengalami pendinginan suhu udara. Berbagai negara di belahan dunia mengalami perubahan suhu yang tak menentu.

Dampak dari perubahan iklilm tidak bisa dianggap enteng termasuk pada ketahanan negara terutama dalam hal ketahanan pangan, pertanian, perikanan, perdagangan, industry bahkan sampai kepada pembengkakan kas negara. Dampak langsung bagi individu mulai dari flu, batuk, pernyakit bersumber serangga, penyakit bersumber makanan, hingga kematian.

Germanwatch mengeluarkan indeks risiko akibat perubahan iklim (Climate Risk Index) 2014 yang menyatakan Indonesia berada pada indeks 74.67, rangking ke 72 dari lebih dari 170 negara di dunia dengan risiko terbesar akibat perubahan iklim. Berdasarkan data tersebut Indonesia berisiko jumlah total 246 kematian, jumlah kematian 0.11/100.000 penduduk. Berpotensi mengalami kerugian sebesar 744.63 juta USD akibat menurunnya daya beli (purchasing power parity) dan kerugian per GDP sebesar 0.093 persen.

Maplecroft, sebuah firma konsultan strategis dan risiko global berdasarkan hasil kajian tahun keenamnya memprediksi pada tahun 2025, kota–kota di Indonesia akan mengalami ancaman kerugian akibat bencana iklim. Nilai kerugian tersebut ditaksir mencapai USD 44 triliun per tahun. Belum lagi jika dimasukkan kerugian yang ditimbulkan akibat angka kesakitan akibat perubahan iklim di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Sebagai antisipasi terhadap perubahan iklim, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan. Pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan kebijakan strategi adaptasi sektor kesehatan terhadap perubahan iklim dengan berbagai bentuk kegiatan mulai dari sosialisasi dan advokasi, pemetaan daerah rentan perubahan iklim, peningkatan sistem tanggap perubahan iklim sektor kesehatan, peningkatan akses pelayanan kesehatan dan sdm kesehatan dan pengendalian penyakit, kemitraan, pemberdayaan masyarakat dan surveilans.

Begitu juga Kementerian Pekerjaan Umum, memiliki strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tahun 2012-2020 yang begitu lengkapnya meliputi aspek air, jalan dan jembatan, keciptakaryaan, dan penataan ruang.

Tidak hanya dari sisi legal aspek, Indonesia juga berkomitmen dalam hal pembiayaan. Indonesia pun menyumbangkan 250 ribu USD melalui Green Climate Fund untuk penanganan perubahan iklim tahun 2013.

Namun tentu saja dari semua peraturan yang ada hendaknya di lihat kembali terutama bagaimana implementasinya. Sebagai pencegahan terhadap ancaman terhadap pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan masyarakat yang semakin nyata. Selain itu juga untuk memastikan bahwa proses pengentasan kemiskinan dan pembangungan negara tidak terhambat. Sebagai aksi langsung, sosialisasi tentang tips atau langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi perubahan cuaca yang tidak menentu ini harusnya cepat tersampaikan sebagai upaya pencegahan penyakit.

Selain itu, peraturan yang ada hendaknya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan global, karena pentingnya peran Indonesia terhadap iklim di dunia. Tetapi juga bisa menjadi contoh bagi dunia tentang komitmen dan konsisten menagih komitmen negara-negara maju dalam upaya mereka menghadapi perubahan iklim. Yang terpenting adalah bagaimana membuat masyarakat aman, sehat dan sejahtera di negerinya sendiri.