Tower Bersama Bidik 3.500 Tenant Baru

NERACA

Jakarta – Ditengah memanasnya dunia politik ditanah air, tidak membuat bisnis PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) ikut terkoreksi. Bahkan sebaliknya bisnis Tower Bersama makin agresif dengan rencana mengakuisisi menara BTS milik XL. Tidak hanya itu, tahun ini perseroan juga menargetkan menambah sebanyak 3.300-3.500 penyewa (tenant) baru. Hingga akhir tahun lalu perseroan memiliki sebanyak 16.000 tenant.Artinya, sampai akhir tahun tenant milik TBIG akan mencapai sebanyak 19.300-19.500 tenant.

Direktur PT Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman menjelaskan bahwa pada semester pertama tahun ini perseroan telah berhasil untuk menambah sekitar 1.500 tenant baru sehingga pada Maret 2014 sudah ada 17.500 tenant,”Kuartal-I kita tambah 750 tenant.Kuartal 2 juga sekitar itu 750 tenant. Tidak jauhlah, mungkin lebih sedikit. Target 3.00-3.500 tenantdan sampai tengah tahun sudah 1.500 lebih tenant," jelasnya di Jakarta,kemarin.

Menurut Helmy, perseron berharap pertumbuhan jumlah tenant ini akan dapat diperoleh dari pertumbuhan secara organik dengan membangun tower sendiri dibandingkan mengakusisi,”Kita lebih senang organik growth karena lebih murah, tapi kalau akuisisi harga terjangkau dan masih profit kita ambil. Tapi, kalau mahal banget mendingan kita organik growthsaja. Karena organik growth kita juga bisa tambah 3.000 maksudnya bukan berarti kita tidak akuisisi kita tidak bisa growth. Misalkan, tambah 3.000 tenant not badbegitu. Jadi, kita akan meneruskan pertumbuhan organik growth sebagai backbone kita," ujarnya.

Helmy menguraikan pihaknya tidak akan melewatkan kesempatan yang ada untuk melakukan pembangunan tower jika ada permintaan."Kalau ada pesanan baru kita tetap bangun. Organik tidak akan stop. Kalau ada order kita sapu semua. Kalau buat akuisisi kita lihat-lihat dulu," urainya.

Namun, Helmy mengatakan pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan akuisisi."Kalau akuisisi ini buat jika ada kesempatan kita ikut, tapi harganya harus sesuai dengan kalkulasi kita dan yang penting harganya harus profitable gitu," tukasnya.

Disamping itu, kata Helmy, kenaikan listrik setiap dua bulan untuk dua golongan pelanggan diyakini tidak akan memberikan dampak siginifikan terhadap kinerja perseroan,”Kenaikan tarif listrik tidak terlalu berpengaruh ke kita karena pembayaran listrik itu lebih besar operator penyewa dibandingkan kita," katanya.

Helmy mencontohkan hal ini terjadi pada penyewa (tenant) seperti Telkomsel. Menurutnya, hal ini membuat perseroan untung."Listrik naik itu begini. Sebagian besar listrik ditanggung operator, tapi kita juga bayar. Tapi, tidak besar. Meski kita bayar, kita masih tetap profit. Masih ada sedikit (profit)," jelasnya.

Lebih lanjut, Helmy menuturkan perseroan tidak terganggu dengan terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Malahan, pada kuartal-I 2014 lalu perseroan mencatatkan kenaikan laba yang signifikan sebesar 87,36% dari Rp 281,08 miliar jadi Rp 526,65 miliar yang disebabkan oleh pelemahan rupiah. Hal ini terlihat dari laba selisih kurs yang mencapai Rp 266,24 miliar dari rugi selisih kursa pada periode yang sama tahun sebelumnya Rp 20,98 miliar. Pendapatan perseroan juga tumbuh 26,48% dari Rp 617,63 miliar jadi Rp 781,23 miliar. (bani)

Related posts