Genjot Produksi, Laba Phapros Tumbuh Rp 5 Miliar

Kamis, 17/07/2014

NERACA

Jakarta – Perusahaan farmasi plat merah, PT Phapros Tbk berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp5 miliar pada semester pertama 2014, “Pencapaian laba bersih sebesar Rp5 miliar dengan pendapatan sebanyak Rp196 miliar semester 1 2014, merupakan prestasi bagi perseroan,”kata Direktur Utama PT Phapros Tbk, Iswanto di Jakarta, Rabu (16/7).

Selain pertumbuhan laba bersih, perseroan juga berhasil meningkatkan produksi obat sebesar 17%. Diman peningkatan produksi ini telah mendukung pendapatan perseroan diatas rata-rata industri farmasi yang tumbuh hanya 13%-14%.

Kata Iswanto, realiasisasi belanja modal pada semester satu mencapai Rp30 dari modal sebesar Rp623 miliar. Dimana realisasi belanja modal telah digunakan perseroan untuk biaya biaya promosi. Sementara untuk produksi obat generik pada semester pertama ini tumbuh 25% atau sebanyak 100 juta tablet.

Sebelumnya, Direktur Keuangan PT Phapros Tbk, Budi Ruseno mengatakan, peningkatan kapasitas produksi sejalan dengan kehadiran pabrik baru di Semarang yang mulai dibangun akhir tahun ini,”Saat ini produksi obat dalam bentuk tablet sebanyak 2 miliar tablet per tahun. Kemudian dalam bentuk ampul 200 juta pices per tahun pices,”ujarnya.

Dia menuturkan, untuk obat sirup juga ditargetkan menjadi 60 juta set per tahun. Hal ini didasarkan seiring dengan pembangunan pabrik baru di Semarang yang memiliki kapasitas produksi lebih besar. Perseroan sendiri masih fokus produksi obat tablet dan ditargetkan mampu memproduksi hingga dua kali lipat atau sebesar 6 miliar tablet dari produksi saat ini 4 miliar tablet.

Menurutnya, peningkatan kapasitas produksi yang tinggi dari pabrik baru oleh karena Phapros menerapkan sistem teknologi tinggi untuk obat generik yang tinggi pula permintaanya, terutama melayani kebutuhan obat BPJS Kesehatan. Otomatis penerapan mesin berteknologi akan menekan biaya produksi. "Pabrik baru dominan produksi obat generik. Kita tekan biaya produksi dengan menerapkan sistem kerja mesin yang sudah komputerisasi dengan teknologi baru, sehingga lebih efisien karena man power-nya bisa berkurang hingga 300. Dengan efisensi, harga obat kita lebih kompetitif di pasar karena lebih murah," ujar Budi.

Khusus untuk Antimo, lanjutnya, Phapros akan memproduksi hinggga 5 miliar tablet mulai tahun ini. Produksi obat anti mabuk ini memang sangat akrab dengan masyarakat, dan tak heran sejauh ini Antimo memimpin pasar obat anti mabuk hingga 98%. "Dari total penjualan kita, produk Antimo menyumbang 15% ke total penjualan. Tahun ini target penjualan kita Rp620 miliar," kata Budi.

Untuk mendukung ekspansi pabrik baru tersebut, Phapros mematangkan niat mencari pembiayaan melalui pasar modal dengan mekanisme IPO. Ini sekaligus memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal Phapros lebih dekat, kata Budi.

Adapun dengan rencana melepas saham IPO sebesar 10-20% saham dari total modal disetor, Phapros berharap bisa meraup dana segar dari publik hingga Rp500 miliar. "Saat ini kita telah menunjuk perusahan sekuritas BUMN sebagai penjamin emisi dalam rangka IPO nanti," kata Budi tanpa menyebut sekuritas BUMN yang dimaksud.

Kemudian mengikuti jejak kesuksesan Antimo, Phapros juga ingin memperkenalkan produk vitamin neurotropiknya yakni Bioneuron. Pasalnya sejauh ini, pasar neurotropik di Indonesia masih cukup besar. Data survey industri farmasi mencatat pasar neurotropik di Indonesia mencapai Rp400 miliar per tahun, dengan catatan pertumbuhan tahunan sebesar 10%. "Bioneuron ditargetkan bisa mulai mengambil pasar neurotropik 1%, itu sudah bagus," kata Yudi Dwi Harjo, Product manager PT Phapros Tbk. (bani)