Tower Bersama Siap Akuisisi BTS XL

Cari Pinjaman Dana

Kamis, 17/07/2014

NERACA

Jakarta – Ambisi menjadi leader market dalam bisnsi menara BTS, menjadi tekad bagi emiten menara telekomunikasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Tak ayal, guna menguasai pangsa pasar, perseroan tengah agresif melakukan akuisisi BTS milik perusahaan operator seluler. Teranyar, Tower Bersama tengah merencanakan untuk mengakuisisi menara BTS milik PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Direktur Keuangan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, Helmy Santoso mengatakan, tahun ini perseroan merencanakan akuisisi menara BTS milik XL, “Dana akuisisi tower itu didapat dari beberapa sumber, yakni dari pinjaman perbankan, melakukan penawaran umum berkelanjutan (PUB) tahap II, dan penerbitan obligasi global sekitar US$ 500 juta," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, pihaknya cukup serius melakukan aksi korporasi itu untuk mendukung pertumbuhan kinerja perseroan ke depannya."Selama harganya tepat, kami akan masuk dalam penawaran," ucapnya.

Lanjutnya, industri telekomunikasi saat ini bertumbuh relatif cukup agresif sejalan dengan peningkatan layanan seluler data. Kondisi itu mendorong industri telekomunikasi membutuhkan banyak menara baru ke depannya.

Sementara Direktur Utama TBIG, Herman Setya Budi menambahkan, langkah perseroan mengakuisisi tower itu cukup efisien dikarenakan sudah memiliki penyewa,”Kami juga masih mampu mengakuisisi menara dalam jumlah besar seperti tahun 2012, ketika kami mengakuisisi menara Indosat," kata Herman.

Sebagai informasi, per Maret 2014, TBIG memiliki 10.572 site telekomunikasi, terdiri atas 9.382 menara telekomunikasi, 1.040 "shelter only", dan 150 jaringan distributed antena system (DAS).

Hingga akhir 2014, perseroan akan membangun sebanyak 1.650--2.310 menara baru dan membidik 3.000--3.300 penyewa baru.

Pada kuartal pertama tahun ini, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 781 miliar atau tumbuh 26,5% dibandingkan priode yang sama tahun lalu. Kemudian EBITDA pada tiga bulan pertama tahun ini sebesar Rp641 miliar, bertumbuh 26,6% dari periode sama tahun lalu.

Sedangkan tahun lalu, pendapatan perseroan sebesar Rp2,69 triliun atau meningkat 56,4% dibandingkan tahun sebelumnya Rp1,72 triliun. Sementara laba bersih yang dapat diatribuskan kepada pemilik entitas induk meningkat 48% menjadi Rp1,25 triliun dibanding 2012 senilai Rp841,94 miliar.

Tercatat per 31 Desember 2013, total pinjaman (debt) TBIG, jika bagian pinjaman dalam dolar Amerika Serikat (USD) yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya sebesar Rp11,87 triliun dan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp7,96 triliun.

Dengan saldo kas yang mencapai Rp854 miliar, maka total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp11,01 triliun dan total pinjaman senior bersih (net senior debt) perseroan menjadi Rp7,11 triliun. Rasio pinjaman senior bersih (net senior debt) terhadap EBITDA kuartal IV yang disetahunkan adalah 2,94x dan rasio pinjaman bersih terhadap EBITDA kuartal IV yang disetahunkan adalah 4,55x. Itu berarti TBIG masih mempunyai ruang untuk pendanaan lebih lanjut berdasarkan rasio yang disyaratkan dalam perjanjian pinjaman perseroan serta obligasi berdenominasi dolar AS dan rupiah. (bani)