Pemerintah Diminta Percepat Stabilkan Harga Pangan

NERACA

Jakarta – Hari kian mendekati lebaran 2014, dalam beberapa hari ini dari pantauan pasar di Indonesia kenaikan harga barang kebutuhan pokok cenderung terus melonjak tajam. Situasi ini memang di latarbelakangi oleh aksi beli dalam skala besar oleh para konsumen guna memenuhi kebutuhan selama Ramadhan.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri,mengatakan Kecenderungan masyarakat kita berasumsi bila menjelang ramadhan pasti harga-harga akan naik. Asumsi inilah yang mendorong mereka untuk melakukan aksi beli dalam skala besar sebagai stok selama ramadhan. Situasi ini bila tidak di sikapi secara tepat oleh pemerintah, tentu akan menimbulkan ekses negatif. Tidak hanya bagi konsumen, namun juga kepada para pedagang pasar tradisional.

Pemerintah menyebutkan stok nasional cukup memenuhi kebutuhan hingga lebaran. Namun sayangnya, kami menilai pemerintah kurang aktif dalam mengawasi alur distribusi dan para spekulan yang mengambil untung dari situasi ini. Harusnya pemerintah dari daerah hingga pusat berperan aktif dalam memantau serta menjamin stabilitas harga dan ketersediaan barang di pasar-pasar.

“Pemerintah untuk melakukan upaya dan antisipasi atas kenaikan yang dalam beberapa hari ini terasa lonjakannya. Tentu saja perlu adanya percepatan stabilitas harga dan stok bahan agar tidak terjadi kepanikan,” katanya dalam keterangan tertulisnya Rabu (16/7).

DPP IKAPPI khawatir bila tidak terjamin stabilitas harga dalam beberapa hari kedepan, bisa terjadi migrasi pembeli dari pasar tradisional ke supermarket modern. Tentu ini akan sangat merugikan para pedagang pasar.

Ke depan, pemerintah hendaknya melakukan sosialisasi dan pemahaman secara menyeluruh kepada masyarakat. Terutama tentang asumsi dan pola konsumsi masyarakat setiap menjelang ramadhan. Hal ini penting agar lonjakan harga saat ramadhan yang selama ini selalu menjadi PR besar pemerintah bisa secara perlahan teratasi.

Menanggapi hal itu, pemerintah menyatakan bahwa isu kestabilan harga pangan akan menjadi fokus pada 100 hari terakhir pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Terutama pada saat menjelang Ramadhan ini, dimana kebutuhan melonjak dan harga-harga biasnya meningkat tajam.

"Pertama menjaga stabilitas harga. Itu yang saya koordinasikan dengan Pak Menko juga, karena kita mesti lihat bahwa logistik ini agar bisa jalan. Karena harga itu bukan hanya stok apalagi ketika Lebaran ini, masalahnya didistribusi juga. Makanya saya minta Pak Menko juga minggu depan kita mesti cek kesiapan lebaran," kata Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi

Dia menambahkan, pemerintah juga fokus menekan angka impor yang menyebabkan tingginya angka defisit neraca perdagangan. Untuk itu, salah satu yang akan dilakukan adalah dengan menggenjot angka ekspor.

"Kita juga nggak mau impor. Balance trade kan bahaya. Tapi habis ini yang mau saya kerjakan ke depan itu ada dua, stablisasi harga dan genjot ekspor. Nah habis ini saya akan genjot ekspor. Caranya macam-macam. Ada dengan trade diplomacy, saya harus promosi terutama kepada pasar-pasar non traditional," jelasnya.

Menurutnya, saat ini harga-harga pangan sudah mulai stabil dibanding awal minggu bulan Ramadhan yang terpantau masih tinggi. Diantaranya, harga daging sapi bentuk karkas sudah turun di angka sekitar Rp 32 ribu sampai Rp 34 ribu per kilogram.

"Rumusnya harusnya sampai ke masyarakat itu harganya tidak lebih dari Rp 90 ribuan, mestinya. Kalau lihat daging rendang di supermarket, yang sekarang kita bilang menurut data sudah Rp 99 ribu, itu mestinya antaranya itu Rp 90.900. Contohnya kalau kita lihat daging frozen di pasar moderen itu sudah Rp 77 ribu," jelasnya. [agus]

Related posts