Perkuat Industrialisasi Akuakultur Lewat Teknologi

Perikanan Budidaya

Kamis, 17/07/2014

NERACA

Kampar – Kawasan minapolitan yang telah lama dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kini mulai berangsur naik kelas menjadi kawasan industrialisasi perikanan. Salah satu kawasan minapolitan yang menuju sentra industri perikanan budidaya (akuakultur) terlihat di Desa Koto Mesjid dan Desa Pulo Gadang, Kecamatan Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Di kawasan ini, budidaya ikan dan pengolahannya berada di satu tempat, dengan komoditas utama ikan patin.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, di sela-sela kunjungan kerja mendampingi Anggota Komisi IV DPR RI mengatakan, budidaya ikan patin di kawasan minapolitan di wilayah Kampar, Riau, saat ini sudah meningkat menjadi daerah industrialisasi perikanan budidaya. Label industrialisasi ini didasarkan pada terbentuknya suplai bahan baku patin oleh para pembudidaya, sistem pengolahan, dan pemasaran yang dikelola dalam satu kawasan. Slamet berharap industrialisasi ikan patin di tempat ini semakin menyerap tenaga kerja, meningkatkan nilai tambah, dan memperkuat daya saing di sektor perikanan.

Ujung-ujungnya, kata Slamet, adalah pendapatan masyarakat dan kesejahteraan rakyat bisa meningkat. Namun demikian, tantangan ke depan di kawasan minapolitan atau industri perikanan adalah pemanfaatan lahan budidaya seefisien mungkin. “Ke depan tantangannya adalah bagaimana menggunakan lahan seefisien mungkin. Karena sekarang sudah banyak alih fungsi lahan. Bukan hanya di pertanian saja. Di perikanan juga banyak alih fungsi. Sehingga yang harus kita optimalkan adalah teknologi,” ujar Slamet kepada pers di Kampar, Riau, Selasa (15/7).

Di daerah Kampar penerapan teknologi budidaya ikan masih terbilang tradisional. “Kita perlu lakukan intensifikasi teknologi di budidaya patin ini. Bagaimana menggunakan pakan dengan cukup bagus. Masyarakat di sini sudah bisa menggunakan pakan secara mandiri. Ada supplemental fitness untuk mempercepat pertumbuhan. Bagaimana tingkat kepadatan tebarnya. Bagaimana sirkulasi air. Dan lainnya,” imbuh Slamet.

Yang juga penting, ujar Slamet, bagaimana budidaya perikanan khususnya patin bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Yaitu dengan sistem IMTA (integrated multi-trophic aquaculture), di mana budidaya patin diintegrasikan dengan jenis ikan lain seperti gurame dan nila. “Ke depan ini akan kita kembangkan sehingga bisa menambah pendapatan masyarakat dan lingkungannya bisa terjaga sebaik-baiknya,” jelasnya.

Di samping itu, KKP juga menerapkan keberpihakan pada lingkungan. Misalnya, pada pengolahan ikan patin dengan pengasapan, masih menggunakan kayu bakar. Bila tidak ada kesadaran lingkungan, penebangan kayu secara tidak terkontrol bisa membuat kerusakan lingkungan. “Saya kira ini masuk eco-friendly. Untuk pembakaran dari kayu, suatu saat akan terjadi penebangan kayu. Ini harus ada ke depan harus ada konversi energi. Bisa pakai batubara, briket batubara. Terus juga bisa dari pelepah kelapa sawit. Ini yang bisa kita kembangkan di daerah ini. Saya juga menyarankan ke depan, yang dari kayu ini perlu dikurangi,” jelasnya.

Pemilihan Minapolitan

Lebih jauh Slamet Soebjakto mengatakan, pemilihan kawasan minapolitan, termasuk di Kampar ini dimaksudkan untuk pengembangan ekonomi daerah. “Kita menginginkan daerah-daerah ini punya perekonomian maju yang berbasis pada perikanan. Sehingga timbul ke depan usaha-usaha yang mengarah ke sektor perikanan. Sehingga banyak bisnis dan banyak orang yang bekerja di perikanan,” terangnya.

Juga, tambah Slamet, dengan adanya minapolitan terjadi sinergitas antar kementerian dan lembaga. Seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) bekerjasama, sehingga bisnis berkembang begitu pesat. Rumah-rumah penduduk sudah pakai tembok, sudah lebih mampu. “Ini karena minapolitan yang sekarang menjadi industrialisasi,” paparnya.

Adapun bantuan-bantuan riil yang diberikan pemerintah dalam pengembangan budidaya perikanan seperti PUMP (Pemberdayaan Usaha Mina Pedesaan), mesin pelet, eskavator, bantuan induk unggul, bantuan benih unggul. “Di samping itu ada juga perbantuan, dana dari pusat yang dilakukan oleh daerah-daerah, dalam bentuk percontohan-percontohan. Dana dari pusat dalam bentuk percontohan kita kembangkan di daerah agar ditiru masyarakat,” kata dia.

Sementara mengenai keluhan para petambak yang mengalami kendala pemasaran, Slamet memberi solusi untuk mendorong rekayasa pengolahan. “Solusi pemasaran saya kira harus ada rekayasa pengolahan. Dengan pengolahan yang maju masyarakatnya akan maju. Dan kalau pengolahannya maju tidak hanya dipasarkan di Kampar atau di Riau saja, tapi juga bisa dijual ke daerah lain atau bahkan kita ekspor,” beber Slamet.