Perkuat Industrialisasi Akuakultur Lewat Teknologi - Perikanan Budidaya

NERACA

Kampar – Kawasan minapolitan yang telah lama dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kini mulai berangsur naik kelas menjadi kawasan industrialisasi perikanan. Salah satu kawasan minapolitan yang menuju sentra industri perikanan budidaya (akuakultur) terlihat di Desa Koto Mesjid dan Desa Pulo Gadang, Kecamatan Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Di kawasan ini, budidaya ikan dan pengolahannya berada di satu tempat, dengan komoditas utama ikan patin.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, di sela-sela kunjungan kerja mendampingi Anggota Komisi IV DPR RI mengatakan, budidaya ikan patin di kawasan minapolitan di wilayah Kampar, Riau, saat ini sudah meningkat menjadi daerah industrialisasi perikanan budidaya. Label industrialisasi ini didasarkan pada terbentuknya suplai bahan baku patin oleh para pembudidaya, sistem pengolahan, dan pemasaran yang dikelola dalam satu kawasan. Slamet berharap industrialisasi ikan patin di tempat ini semakin menyerap tenaga kerja, meningkatkan nilai tambah, dan memperkuat daya saing di sektor perikanan.

Ujung-ujungnya, kata Slamet, adalah pendapatan masyarakat dan kesejahteraan rakyat bisa meningkat. Namun demikian, tantangan ke depan di kawasan minapolitan atau industri perikanan adalah pemanfaatan lahan budidaya seefisien mungkin. “Ke depan tantangannya adalah bagaimana menggunakan lahan seefisien mungkin. Karena sekarang sudah banyak alih fungsi lahan. Bukan hanya di pertanian saja. Di perikanan juga banyak alih fungsi. Sehingga yang harus kita optimalkan adalah teknologi,” ujar Slamet kepada pers di Kampar, Riau, Selasa (15/7).

Di daerah Kampar penerapan teknologi budidaya ikan masih terbilang tradisional. “Kita perlu lakukan intensifikasi teknologi di budidaya patin ini. Bagaimana menggunakan pakan dengan cukup bagus. Masyarakat di sini sudah bisa menggunakan pakan secara mandiri. Ada supplemental fitness untuk mempercepat pertumbuhan. Bagaimana tingkat kepadatan tebarnya. Bagaimana sirkulasi air. Dan lainnya,” imbuh Slamet.

Yang juga penting, ujar Slamet, bagaimana budidaya perikanan khususnya patin bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Yaitu dengan sistem IMTA (integrated multi-trophic aquaculture), di mana budidaya patin diintegrasikan dengan jenis ikan lain seperti gurame dan nila. “Ke depan ini akan kita kembangkan sehingga bisa menambah pendapatan masyarakat dan lingkungannya bisa terjaga sebaik-baiknya,” jelasnya.

Di samping itu, KKP juga menerapkan keberpihakan pada lingkungan. Misalnya, pada pengolahan ikan patin dengan pengasapan, masih menggunakan kayu bakar. Bila tidak ada kesadaran lingkungan, penebangan kayu secara tidak terkontrol bisa membuat kerusakan lingkungan. “Saya kira ini masuk eco-friendly. Untuk pembakaran dari kayu, suatu saat akan terjadi penebangan kayu. Ini harus ada ke depan harus ada konversi energi. Bisa pakai batubara, briket batubara. Terus juga bisa dari pelepah kelapa sawit. Ini yang bisa kita kembangkan di daerah ini. Saya juga menyarankan ke depan, yang dari kayu ini perlu dikurangi,” jelasnya.

Pemilihan Minapolitan

Lebih jauh Slamet Soebjakto mengatakan, pemilihan kawasan minapolitan, termasuk di Kampar ini dimaksudkan untuk pengembangan ekonomi daerah. “Kita menginginkan daerah-daerah ini punya perekonomian maju yang berbasis pada perikanan. Sehingga timbul ke depan usaha-usaha yang mengarah ke sektor perikanan. Sehingga banyak bisnis dan banyak orang yang bekerja di perikanan,” terangnya.

Juga, tambah Slamet, dengan adanya minapolitan terjadi sinergitas antar kementerian dan lembaga. Seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) bekerjasama, sehingga bisnis berkembang begitu pesat. Rumah-rumah penduduk sudah pakai tembok, sudah lebih mampu. “Ini karena minapolitan yang sekarang menjadi industrialisasi,” paparnya.

Adapun bantuan-bantuan riil yang diberikan pemerintah dalam pengembangan budidaya perikanan seperti PUMP (Pemberdayaan Usaha Mina Pedesaan), mesin pelet, eskavator, bantuan induk unggul, bantuan benih unggul. “Di samping itu ada juga perbantuan, dana dari pusat yang dilakukan oleh daerah-daerah, dalam bentuk percontohan-percontohan. Dana dari pusat dalam bentuk percontohan kita kembangkan di daerah agar ditiru masyarakat,” kata dia.

Sementara mengenai keluhan para petambak yang mengalami kendala pemasaran, Slamet memberi solusi untuk mendorong rekayasa pengolahan. “Solusi pemasaran saya kira harus ada rekayasa pengolahan. Dengan pengolahan yang maju masyarakatnya akan maju. Dan kalau pengolahannya maju tidak hanya dipasarkan di Kampar atau di Riau saja, tapi juga bisa dijual ke daerah lain atau bahkan kita ekspor,” beber Slamet.

BERITA TERKAIT

Di Singapura, Kemenpar Promosikan Wisata RI Lewat Grab

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melakukan co-branding dengan Grab untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Selain Grab, Kemenpar juga turut menggandeng Traveloka."Pasar Singapura ini…

Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

Oleh: Djony Edward Tren penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot…

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kementan Salurkan 1.225 Sapi Indukan ke Peternak

NERACA Jakarta – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan menyalurkan sapi indukan jenis Brahman Cross sebanyak 1.225…

Jerman Dukung Penuh Sawit Berkelanjutan di Indonesia

NERACA Jakarta – Pemerintah Jerman mendukung pembangunan kelapa sawit berkelanjutan yang mengacu kepada mekanisme Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang…

Kemenperin Rancang Insentif, Indeks dan Inovasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 untuk kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0. Peta jalan…