Pengolahan Tingkatkan Nilai Tambah Budidaya Ikan

Minapolitan, Embrio Industrialisasi

Kamis, 17/07/2014

NERACA

Kampar – Budidaya ikan air tawar, khususnya jenis patin, di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, terlihat semakin berkembang. Untuk memberi nilai tambah pada hasil produksi budidaya, di kawasan ini juga tersedia unit pengolahan pasca panen yang mampu menghasilkan produk seperti ikan patin asap, kerupuk ikan patin, nugget ikan patin, pudung ikan dan bakso patin dengan jumlah produksi 242 ton.

“Semua ini dicapai pada tahun 2013 dan saya yakin pada tahun ini akan mengalami peningkatan seiring dengan terjadinya peningkatan produksi. Dukungan juga terjadi pada pengembangan Sumber Daya Manusia yang dihasilkan oleh SMK Perikanan di Desa Koto Tuo Kecamatan XIII Koto Kampar dan Desa Pantai Cermin Kecamatan Tapung,” kata Slamet pada saat kunjungan kerja di sentra industri ikan patin di Desa Koto Mesjid, Kecamatan Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Selasa (15/7).

Slamet juga mengatakan bahwa sebagai embrio dari industrialisasi perikanan budidaya, minapolitan telah memberikan landasan dalam hal pendekatan pengembangan suatu kawasan. Menurut dia, minapolitan sebagai suatu program nasional telah terbukti mampu mendorong terwujudnya sinergi lintas sektoral dalam pengembangan suatu wilayah. Kawasan yang memiliki potensi ekonomi berbasis perikanan budidaya dikembangkan dengan melakukan sinergi dan kerjasama dengan Kementerian atau Lembaga Pemerintah lain.

“Untuk kawasan minapolitan perikanan budidaya di Kabupaten Kampar, Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya telah membangun infrastruktur kawasan seperti jalan poros, drainase, rehab rumah layak huni, dan saluran. Sementara Dinas Pekerjaan Umum Kab. Kampar melakukan pembangunan jalan usaha tani, jalan desa, dan jembatan. Dukungan dari Dinas terkait juga muncul dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar Kab.Kampar yang melakukan pembangunan los pasar. Tidak ketinggalan adalah bantuan permodalan bagi pembudidaya ikan dari perbankan,” ungkap Slamet.

Tentunya, pengembangan suatu kawasan minapolitan menuju kawasan industrialisasi perikanan budidaya, diharapkan akan dapat meningkatkan produktivitas, nilai tambah produk serta meningkatkan daya saing dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Tentunya, sasaran utama industrialisasi perikanan budidaya adalah untuk peningkatan pendapatan kelompok masyarakat pembudidaya, pengolah, dan pemasar hasil perikanan. Bukti keberhasilan dari industrialisasi adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut dalam hal ini bersumber dari usaha perikanan budidaya,” jelas dia.

Guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemanfaatan sumberdaya alam serta sekaligus memberdayakan masyarakat di suatu kawasan, pengembangan kawasan pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan budidaya yang terintegrasi merupakan suatu hal yang harus dilakukan. Kawasan ekonomi terintegrasi dengan perikanan budidaya sebagai basis usaha ini tertuang dalam Konsep Minapolitan.

Minapolitan perikanan budidaya ditujukan untuk membangun kawasan ekonomi tersebut dan menjadikannya sebagai embrio kawasan industrialisasi perikanan budidaya. Kabupaten Kampar merupakan salah satu dari 5 kabupaten/kota di Provinsi Riau yang ditetapkan sebagai kawasan minapolitan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 35/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan. Kawasan Minapolitan di Kabupaten Kampar berlokasi di Desa Koto Mesjid dan Desa Pulo Gadang Kec. XIII Koto Kampar dengan komoditas utamanya adalah ikan Patin.

Slamet menambahkan, potensi perikanan budidaya yang terdapat di kawasan minapolitan Kabupaten Kampar cukup besar yang meliputi Kolam seluas 230 Ha dengan tingkat pemanfaatan 73,05% dan potensi karamba di waduk seluas 275 Ha dengan tingkat pemanfaatan 3,95% pada tahun 2013.

Pengembangan kawasan minapolitan perikanan budidaya di Kab. Kampar sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan sudah mengarah kepada kawasan industrialisasi perikanan budidaya. Hal ini terbukti dengan adanya dukungan Unit Perbenihan Rakyat (UPR) yang telah mampu menghasilkan benih sebanyak 7,63 juta ekor. Disamping itu juga tumbuh pabrik pakan mini mandiri sebanyak 25 unit dengan kapasitas produksi sebanyak 3.898 ton.

Produksi ikan di kawasan minapolitan/industrialisasi di Kabupaten Kampar juga terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2011 – 2013, dimana produksi perikanan budidaya kolam meningkat dari 5.437,24 ton pada 20111 menjadi 5.955,90 ton pada tahun 2013. Demikian juga dengan produksi perikanan budidaya di karamba yang meningkat dari 7.554, 01 pada 2011 menjadi 12.898,90 ton pada 2013. Komoditas utama yang dihasilkan di kawasan ini adalah Patin, Mas dan Nila.