Pemerintah Harap Ekspor Furnitur Capai US$5 Miliar

Kamis, 17/07/2014

NERACA

Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian berharap agar adanya peningkatan ekspor furnitur dalam negeri. Pada tahun 2013, tercatat ekspor furnitur dalam negeri mencapai US$1,7 miliar dan di harapkan dalam waktu lima tahun kedepan bisa meningkat menjadi US$5 miliar. Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto di Jakarta, Selasa (15/7).

“Furnitur adalah industri yang kita dorong terus, saya kira untuk lima tahun kedepan ekspor bisa mencapai US$5 miliar, dan angka tersebut merupakan angka yang realistis,” kata Panggah. Ia menjelaskan Republik Rakyat Tiongkok dan Malaysia mampu menjadi produsen furnitur yang besar, dan oleh sebab itu, Indonesia harus mampu mencapai target tersebut dalam waktu lima tahun kedepan. “Capaian harus diupayakan, itu sangat realistis terlebih jika melihat Tiongkok dan juga Malaysia yang bisa melakukan hal tersebut,” ujar Panggah.

Menurut Panggah, pemerintah sendiri telah memberikan andil besar dalam industri furnitur dalam negeri, salah satunya melalui adanya pelarangan ekspor bahan mentah yang belum diolah agar bisa diproduksi untuk memberikan nilai tambah. “Paling tidak peran pemerintah sudah membentengi agar bahan metah tidak diekspor sebelum diolah, kita mendengarkan aspirasi pelaku industri furnitur dalam negeri,” ujar Panggah.

Pada 2013, total ekspor produk furnitur Indonesia mencapai nilai US$1,7 miliar, menempatkan Indonesia sebagai eksportir produk furnitur ke-18 dunia, dengan pangsa pasar 1,12%. Kinerja ekspor Indonesia tersebut masih dibawah kemampuan ekspor mebel Vietnam yang mampu mencapai nilai US$5,4 miliar dan menduduki peringkat eksportir ke-7 terbesar dunia.

Selama periode 2009-2013 ekspor produk mebel Indonesia mengalami tren positif 0,38%. Untuk periode Januari-April 2014 nilai ekspor produk mebel mencapai US$626,5 juta atau mengalami peningkatan 1,24% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Tren positif juga dialami oleh ekspor produk kerajinan Indonesia yang tercatat sebesar 4,61% pada periode 2009-2013. Nilai ekspor produk kerajinan Indonesia pada tahun 2013 mencapai US$669,1 juta, dengan negara tujuan ekspor utama Amerika Serikat, Jepang, Hong kong, Inggris, dan Jerman.

Pada periode Januari-April 2014, nilai ekspor kerajinan mencapai US$229,5 juta, atau meningkat 2,75% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pemerintah sendiri menargetkan ekspor produk hasil hutan Indonesia, termasuk furnitur pada tahun 2014-2015 tumbuh sebesar 5,5-6,5% dengan target nilai ekspor sebesar US$9,4-9,5 miliar. Beberapa negara yang menjadi target peningkatan ekspor produk hasil hutan Indonesia adalah RRT sebesar 19,6%, Jepang 1,47%, Amerika Serikat 10,1%, Korea Selatan 10,5%, Malaysia 0,27%, Australia 3,96%, Taiwan 7%, Arab Saudi 4,1%, India 17,2%, dan Inggris 5,3%.

Upaya Promosi

Dengan penyelenggaraan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2015, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak mengatakan hal ini menjadi kesempatan untuk mempromosikan produk kayu berkelanjutan asal Indonesia dimana untuk produk tersebut telah mengantongi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). “IFEX merupakan platform efektif bagi promosi produk kayu berkelanjutan di Indonesia serta menjadi sarana kampanye potensi produk kayu berkelanjutan kita kepada dunia. Untuk itu bagi kami, perolehan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) adalah sebuah keharusan," katanya.

Nus mengatakan, legalitas produk kayu tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya saing, menekan pembalakan liar (illegal logging), mencapai pengelolaan hutan produksi lestari, serta pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "SVLK juga sekaligus menjawab tantangan adanya tren dalam perdagangan kayu internasional yang memerlukan bukti legalitas," kata Nus.

Perdagangan dunia saat ini tengah bergerak ke arah perdagangan yang adil dan berkelanjutan, dimana permintaan akan produk-produk berkelanjutan mengalami peningkatan, termasuk produk mebel. Hal tersebut memaksa produsen produk kayu di Indonesia untuk menggunakan bahan baku yang terlacak legalitas asal usulnya serta menghasilkan keuntungan sosial dan ekonomis bagi lingkungannya.

Nus mengatakan, tantangan tersebut tidak hanya datang dari luar negeri, melainkan juga datang dari dalam industri mebel nasional. oleh karena itu, industri mebel dan kerajinan nasional harus meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitasnya. “Melalui IFEX 2015, industri mebel dan kerajinan Indonesia diharapkan dapat terus tumbuh. IFEX 2015 juga mendorong inovasi serta kreativitas perajin serta produsen dalam negeri agar dapat menghasilkan produk-produk unggulan bernilai tambah,” ujar Nus.

IFEX 2015 akan digelar dengan tema 'Merging Local Traditions with Modern Touch' dimana target transaksi IFEX 2015 sebesar US$400 juta pada saat pelaksanaan, dan sebesar US$800 juta untuk follow up order dari 600 peserta dengan jumlah 7.000 buyer.

Pameran tersebut akan diselenggarakan di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta pada 12-15 Maret 2015 mendatang, dan pada pameran pertama pada 11-14 Maret 2014 lalu berhasil meraup transaksi sebesar US$1 miliar. Jumlah peserta IFEX 2014 adalah 400 perusahaan termasuk 39 perusahaan dari 12 negara asing (RRT, Taiwan, Belgia, Prancis, Amerika Serikat, Italia, Singapura, Afrika Selatan, Malaysia, Korea, Belanda, dan Austria), sedangkan buyer yang hadir sejumlah 6.113 orang.