Pertamina Lubricants Target Jual 800 Juta liter Oli

Kamis, 17/07/2014

NERACA

Jakarta - Salah satu anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak dibidang pelumas atau oli yaitu PT Pertamina Lubricants mempunyai target penjualan pada periode 2018-2019 sebesar 800 juta liter. "Kita terus melakukan pengembangan dan kita telah mempunyai beberapa fasilitas penunjang. Maka dari itu, dalam roadmap di 2018-2019, target penjualan kita bisa 800 juta liter," ungkap Direktur Utama PT Pertamina Lubrcicants Supriyanto saat buka puasa bersama dengan wartawan di Jakarta, Selasa (15/7).

Ia menjelaskan target penjualan tersebut dibagi 2 yaitu untuk pasar ekspor dan domestik. Untuk pasar ekspor, pihaknya menargetkan bisa menjual 200 juta liter dan untuk pasar domestik ditargetkan mencapai 600 juta liter. "Untuk saat ini, ekspor oli Pertamina baru mencapai 50 juta liter atau kalau dirupiahkan mencapai Rp1 triliun sementara untuk pasar domestik mencapai Rp9 triliun. Jadi untuk pasar luar negeri masih 10%, namun kedepan akan terus ditingkatkan seiring dengan ekspansi yang dilakukan perusahaan," ujarnya.

Di pasar luar negeri, PT Pertamina Lubricants cukup aktif dalam mengembangkan bisnisnya. Pasalnya, Pertamina Lubricants dalam proses mengakuisisi salah satu perusahaan oli di Thailand. "Di Thailand, kita akan mengakuisisi perusahaan oli yang mempunyai fasilitas produksi 120 ribu liter. Kita akan beli untuk memenuhi pasar Thailand dan Indo China. Sejauh ini sudah tahap legal formal sehingga dalam waktu dekat kita sudah bisa mendirikan PT Pertamina Lubricants Thailand sehingga kebutuhan Thailand dan Indochina bisa dipasok dari sana," jelasnya.

Sejauh ini, lanjut Supriyanto, Pertamina Lubricants telah mengekspor oli ke 24 negara. Namun tidak semua negara yang melakukan permintaan oli secara rutin karena ada beberapa negara melakukan permintaan untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu. Ia menceritakan bagaimana awal mulanya Pertamina Lubricants menjajal pasar ekspor yang dimulai pada 2007 dengan menggandeng perusahaan eksportir oli asal Korea dengan tujuan Pakistan. "Saat itu, nama brandnya masih digabung antara Pertamina dan perusahaan Korea yaitu dikasih nama Zipex. Namun, pada 2008 kita sudah mendapat ilmunya dan pada akhirnya kita bisa melakukan ekspor sendiri dengan brand sendiri yaitu Fastron ataupun Enduro," katanya.

Di pasar luar negeri, pihaknya tengah fokus terhadap pasar Asia Pasifik. Karena konsumsi di Asia Pasifik mencapai 38% dari konsumsi oli dunia. "Untuk Asia Pasifik, kita fokuskan pada pasar Tiongkok. Karena konsumsi oli di Tiongkok mencapai 8 juta kiloliter pertahunnya atau 10 kali lipat dari Indonesia yang hanya 800 ribu kiloliter setiap tahunnya. Apalagi industri dan otomotif di Tiongkok sedang proses pertumbuhan, maka dari itu kita tengah fokus disana karena pasarnya cukup banyak," tambahnya.

Lebih jauh lagi, Supriyanto mengatakan bahwa pihaknya juga memfokuskan di pasar Jepang. Meskipun pasar oli di negeri sakura tidak terlalu berkembang, akan tetapi menurut dia, oli Pertamina harus mendapatkan pengakuan disana. "Ini sangat penting karena kita butuh pengakuan dari Jepang lantaran Jepang adalah salah satu produsen otomotif. Ketika sudah dipercaya disana, maka nantinya setiap produk otomotif Jepang bisa menggunakan oli dari Pertamina, itulah yang saat ini terus kita kembangkan disana," tuturnya.

Sementara untuk pasar Singapura, Pertamina Lubricants tengah ekspansi ke kapal-kapal. Karena jika memanfaatkan sektor industri dan otomotif, Singapura bukanlah negara yang jumlah industri dan otomotifnya banyak. Akan tetapi, kapal-kapal dari segala penjuru dunia hampir setiap hari singgah di Singapura. Untuk pasar Afrika, Supriyanto mengatakan bahwa Pertamina Lubricants juga berencana mengakuisisi perusahaan di Afrika dan untuk pasar Australia, pihaknya tengah fokus ke wilayah Perth karena wilayah disana merupakan pusat industri di Australia.

Untuk saat ini, Pertamina Lubricants telah mempunyai tiga pabrik yang ada di Jakarta, Surabaya dan Cilacap. Ketiga pabrik tersebut mampu memproduksi sebesar 550 juta liter oli per dua shift. “Untuk pabrik yang di Cilacap, tergolong masih rendah produksinya karena untuk memproduksi 100 ribu liter oli memakan waktu 6-8 jam sementara untuk yang di Gresik menggunakan teknologi inline blanding sehingga waktu produknya jauh lebih cepat. Untuk kapasitas yang sama, di Gresik hanya membutuhkan waktu 2 jam,” jelasnya.

Lebih jauh lagi, Supriyanto menguraikan bahwa saat ini kondisi industri di Indonesia lebih mementingkan dari service. “Jadi misalnya saat ini industri lebih ingin ketika dia membeli maka barangnya ada dan mereka tidak mau mempunyai stok oli. Selain itu, mereka juga mau dibebankan dengan oli bekas karena kalau membuang oli bekas itu adalah limbah. Maka dari itu, kami memberikan service bahwa oli bekas akan diurus oleh Pertamina Lubricants,” pungkasnya.