Bukopin Sebaiknya Caplok Aset Cipaganti - IMBAS KESULITAN MELUNASI UTANG

NERACA

Jakarta –Bisnis transportasi PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) menelan pil pahit atas kasus penggelapan dana koperasi Cipaganti oleh mantan Direktur Utamanya Andianto Setiabudi. Pasalnya, belum juga selesai mengganti dana nasabahnya, perseroan kini dihadapkan kesulitan membayar utang kepada PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) sebesar Rp 43,36 miliar.

Pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani mengatakan, antara Koperasi Cipaganti dengan PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) adalah entitas yang berbeda. “Seharusnya antara Koperasi Cipaganti dengan PT Cipaganti Citra Graha berbeda pengelolaan akan tetapi kenyataannya malah tumpang tindih pengelolaan. Ini yang salah,” kata Agus saat dihubungi Neraca, Selasa (15/7).

Dia menjelaskan, kemungkinan bayar oleh Koperasi Cipaganti sangat sulit karena kedua core usaha tersebut yang berbeda. “Meskipun ada sangkut pautnya dengan induk usaha yaitu Cipaganti, akan tetapi jika PT Cipaganti yang terdaftar di bursa efek mengganti rugi dari yang dialami oleh Koperasi Cipaganti maka akan banyak ditolak oleh para pemegang saham dari Cipaganti. Kalau Cipaganti membuat RUPS, maka saya kira akan banyak penolakan untuk membayar utang dari Koperasi Cipaganti,” tukasnya.

Meskipun pengelolaan antara Koperasi Cipaganti dengan PT Cipaganti berbeda, sambung Agus, akan tetapi para investor punya stigma bahwa kedua perusahaan tersebut mempunyai manejemen yang sama sehingga sulit untuk mendapatkan izin dari para pemegang saham PT Cipaganti.

Lebih jauh lagi, Agus mengatakan, jika Koperasi Cipaganti belum juga memiliki calon pemodal sementara batas waktu pengembalian utang sudah jatuh tempo maka bisa saja Bank Bukopin menyita aset dari Koperasi Cipaganti. “Akan tetapi perlu koleteral,” tambahnya.

Agus juga menyarankan agar pemerintah dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk ikut turut serta mengawasi kasus ini. “Artinya kedua lembaga tersebut hanya sebagai penghubung antara Bank Bukopin dengan pihak Cipaganti baik itu Koperasinya maupun perusahaannya. Jadi sifatnya kordinatif,” pungkasnya.

Sementara Corporate Secretary PT Cipaganti Citra Graha Tbk, Toto Moeljono mengakui, pihaknya tengah mencari pihak yang mau membayar kreditnya kepada PT Bank Bukopin Tbk (BBKP). Pasalnya, fasilitator utang tersebut, yakni Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada sedang menghadapi gugatan pailit.

Lanjutnya, hingga saat ini perseroan belum memiliki calon pemodal potensial dan perseroan mengharapkan kreditur baru nantinya harus berasal dari non perbankan nasional. Perseroan mendapatkan fasilitas kredit dari Bukopin dan digunakan untuk melunasi utang anggota koperasi sebesar Rp43,36 miliar,”Hingga saat ini Perseroan belum menerima komitmen tertulis maupun komitmen tidak tertulis dari pemodal/kreditur atau pihak lain yang bersedia mengambil alih (membayar) utang Perseroan secara tunai kepada Bank Bukopin," jelas Toto.

Seperti diketahui, Koperasi Cipaganti di ambang kebangkrutan lantaran kegagalan dalam bisnis pertambangan dan rental alat berat di sejumlah lokasi. Sejak 15 Mei 2014 Cipaganti harus menghadapi tuntutan pailit di Pengadilan Niaga Jakarta diakibatkan oleh koperasi Cipaganti yang sejak akhir 2013 lalu kesulitan membayar imbalan hasil bulanan para nasabah yang mencapai 8.700 orang.

Selain itu, Toto Moeljono pernah bilang, subbisnis transportasi yang digeluti perseroan paling terdampak kasus koperasi. Di mana penyediaan spare part dan service part dan service jasa, bahan bakar minyak mengalami hambatan,”Karena kekhawatiran supplier terhadap keberlangsungan perseroan akibat pemberitaan media massa,”ungkapnya.

Alhasil, akibat kasus ini telah mengganggu kelancaran aktivitas operasional unit-unit transportasi. Sebelumnya, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy pernah bilang, kasus penggelapan dana koperasi yang menimpa Cipaganti tentunya masih berdampak bagi pemegang saham perseroan dan tidak hanya lini bisnis perseroan.

Meskipun koperasi Cipaganti menawarkan pembayaran utang kepada mitra usaha melalui proses restrukturisasi pada perusahaan baru agar tidak terhindar dari pailit. Namun kondisi tersebut tidak serta merta mampu memulihkan kepercayaan investor dan termasuk pergerakan harga saham PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT). bari/bani

BERITA TERKAIT

Produktivitas Utang Negara

Persoalan utang luar negeri Indonesia tidak terlepas dari perjalanan siklus kepemimpinan dari masa ke masa. Pemerintahan Jokowi-JK akhirnya kini menanggung…

Utang Luar Negeri Naik 7% Jadi Rp5.220 Triliun

  NERACA Jakarta - Utang luar negeri Indonesia naik tujuh persen secara tahunan menjadi 372,9 miliar dolar AS per akhir…

Lunasi Utang - Taksi Express Jual Tanah Rp 112,15 Miliar

NERACA Jakarta - PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), melalui entitas anak usahanya, yaitu PT Ekspres Jakarta Jaya (EJJ) telah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

KEBIJAKAN BARU MASKAPAI PENERBANGAN DOMESTIK - Aturan Bagasi Berbayar Mulai Diterapkan

Jakarta-Pemerintah mulai hari ini (22/1) membolehkan maskapai penerbangan untuk mulai menerapkan bagasi berbayar, karena persiapan maskapai dinilai sudah cukup.  Diantaranya…

Tidak Sinkron, Koordinasi Lintas Lembaga Soal Mitigasi

NERACA Jakarta – Menjadi negara yang rawan akan bencana alam baik itu gempa, kebakaran hutan, banjir dan tsunami, sejatinya perlu…

BPJS Terapkan Urun Biaya untuk Tindakan Medis Tertentu

NERACA Jakarta-Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan urun biaya dengan peserta untuk tindakan medis tertentu. Penerapan skema ini khusus…