Indonesia Kejar Jadi Eksportir Terbesar

NERACA

Jakarta – Berdasarkan data 2014 Indonesia menjadi negara eksportir nomer 3 untuk ikan hias di bawah Spanyol dan Jepang, dengan potensi ikan hias yang ada 240 jenis ikan hias laut dan 226 jenis ikan hias air tawar sangat memungkinkan Indonesia bisa menjadi negara produsen dan eksportir untuk komoditas ikan hias. Hanya saja memang harus ada management dan sinergitas antara pemerintah, pengusaha dan pembudidaya.

“Ikan hias ke depan dapat menjadi komoditas andalan baru bagi sektor kelautan dan perikanan. Besarnya animo masyarakat untuk menggeluti bisnis ini perlu menjadi perhatian serius KKP. Bisnis ikan hias tidak terbatas pada komoditas ikan hiasnya, tetapi juga menyangkut tanaman hias dan ornament pendukungnya, seperti aquarium, blower, dan lainnya. Kami meyakini bahwa bisnis ikan hias memiliki perputaran ekonomi yang luar biasa serta menjadi trend baru bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan,” kata Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP), Kementrian Kelautan dan Perikanan yang juga sebagai Ketua Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI), Suseno Sukoyono pada acara Focus Group Discussion (FGD) bertema “Bisnis Kaum Urban Melalui Ikan Hias“, di Jakarta, Selasa (15/7).

Untuk mengarah kesana, tentu saja perlu dukungan dari pemerintah, pengusaha, dan pembudidaya, tujuannya adalah agar didapatkan kesepakatan bersama terkait dengan produksi, dan market atau negara tujuan ekspor. “Selama ini, ikan hias Indonesia mendominasi di dunia, hanya saja masalahnya ekspor kita biasanya tidak langsung ke negara tujuan, sehingga diklaim oleh negara lain,” imbuhnya.

Melihat fenomena itu, dia mengatakan, pentingnya BPSDM KP merasa perlu untuk ambil bagian dalam mewujudkan bisnis ikan hias sebagai kekuatan baru ekonomi kelautan dan perikanan. Menurutnya, Indonesia hendaknya tidak terbatas sebagai “surga” ikan hias, tetapi juga sebagai “raja” ekportir ikan hias di seluruh dunia. “Makanya upaya yang harus dilakukan tentu saja dengan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman selain produksi juga dalam melakukan ekspor, oleh karenanya kami bersama dengan pelaku usaha di ikan hias akan memberikan pelatihan-pelatihan dan sosialisasi menyeluruh kepada masyarakat,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama Suhana, S.Pi, M.Si, dosen mata kuliah Ekonomi Politik Sumberdaya Alam, Program Studi Ekonomi dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan dari peneliti pada Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, mengatakan, lima negara utama eksportir ikan hias dunia tahun 2013 mengalami perubahan dari tahun 2009. Indonesia pada tahun 2009 belum termasuk eksportir ikan hias terbesar dunia, namun pada tahun 2013 Indonesia sudah termasuk kelompok 5 besar dengan menempati peringkat ketiga setelah Spanyol dan Jepang, yang kemudian diikuti oleh Malaysia dan Ceko di urutan keempat dan kelima. Untuk itu, salah satu rekomendasi Suhana adalah meningkatkan peran serta KKP melalui BPSDM KP dalam mendorong tumbuhnya pelaku bisnis ikan hias di Indonesia. “Sebenarnya masalahnya adalah selama ini ekspor kita melalui negara lain, padahal jika dilakukan langsung kenegara tujuan Indonesia bisa menjadi eksportir terbesar,” katanya.

Ungkapan itu dibenarkan oleh Hendra Iwan Putra, salah satu eksportir ikan hias di Indonesia yang mengatakan memang kebanyak dari pengusaha eksportir ikan banyak yang ekspor tidak langsung ke negara tujuan. Itu dikarenakan karena ongkos logistik yang mahal, disamping itu penerbangan dari Indonesia tidak ada yang langsung maka dari itu melalui negara lain. “Jika memang ikan menjadi yang terbesar, harapannya pemerintah mendatang mampu membereikan solusi adanya penerbangan langsung kenegara tujuan seperti Eropa, Amerika, dan Timur Tengah dan tentu dengan biaya yang lebih murah,” tegasnya. [agus]

Related posts