Partisipasi Generasi Muda Dalam Pembangunan

Masih Jauh Dari Ideal

Sabtu, 19/07/2014

Tingkat pendidikan yang rendah, pelatihan dan pelayanan kesehatan melalui infrastruktur yang buruk, serta mengalamiberbagai bentuk ketidaksetaraan danketerbatasan masih menjadipenghalang bagigenerasi mudauntuk berpartisipasi dalamprosespembangunan.

NERACA

Generasi muda di Indonesia dan di seluruh dunia merupakan sumber daya utama untuk pembangunan. Mereka dapat berperan dalam menjadi agen kunci perubahan sosial, pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi. Data sensus penduduk Indonesia pada 2010 mencatat setidaknya ada 62,3 juta anak muda berusia 16-30 tahun (rentang usia generasi muda yang digunakan pemerintah Indonesia). Angka ini mewakili lebih seperempat (26,2%) dari jumlah penduduk Indonesia. Meski proporsi generasi muda diprediksi menurun dalam beberapa dasar warsa ke depan, jumlah generasi muda diprediksi akan meningkat hingga 70 juta jiwa di tahun 2035.

Menyadari peran penting generasi muda dalam pembangunan Indonesia, Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNFPA) bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dan Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI), menyelenggarakan seminar dengan tema “Investing in Young People in Indonesia”. Kegiatan ini berlangsung sebagai bagian dari perayaan Hari Kependudukan Dunia yang jatuh pada 11 Juli, yang secara global mengangkat tema “Investing in Young People”.

Jose Ferraris, Kepala Perwakilan UNFPA untuk Indonesia menuturkan, generasi muda merupakan agen aktif atas diri mereka sendiri, yang memiliki hak dan tanggung jawab atas kehidupan yang bebas dari kemiskinan.

Namun, sambung dia, partisipasi generasi muda dalam pembangunan masih jauh dari ideal, terutama ketika 90% dari generasi muda di negara-negara berkembang hanya dibekali oleh tingkat pendidikan yang rendah, pelatihan dan pelayanan kesehatan melalui infrastruktur yang buruk, serta mengalami berbagai bentuk ketidaksetaraan dan keterbatasan.

“Faktor-faktor inilah yang masih menjadi penghalang bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan,” kata dia.

Sejumlah kebijakan harus ditingkatkan guna mengatasi kondisi ini, termasuk pendidikan pasca pendidikan dasar, pekerjaan, kesehatan, lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, konflik dan kejahatan, serta keterlibatan publik. Penerapan kebijakan dalam bidang-bidang tersebut merupakan bentuk investasi terhadap generasi muda, dan selanjutnya menjadi investasi bagi masa depan Indonesia.

“Salah satu strategi yang disusun adalah memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif kepada generasi muda dengan tujuan penundaan usia nikah, dan juga untuk mengurangi tingkat kelahiran melalui program GenRe (Generasi Berencana). Program ini diterapkan ke seluruh institusi pendidikan formal dan non formal, termasuk di perguruan tinggi, melalui “Konselor Teman Sebaya” di Pusat Informasi dan Konseling Remaja,” ujar Kepala BKKBN Prof. Dr. Fasli Jalal saat membuka seminar.

Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo mengatakan, generasi muda sedang menjalani masa transisi menuju dewasa. Selama masa transisi ini, generasi muda mengalami berbagai peristiwayang menentukan kesuksesan mereka di masa mendatang.

“Sebagai Pemerintahan Indonesia, sudah seharusnya kita bekerja sama untuk membuat kebijakan serta program yang didedikasikan bagi generasi muda untuk menjamin kesejahteraan mereka,” ujar Roy.

Untuk lebih memahami situasi generasi muda saat ini, kebutuhan pertumbuhan mereka, serta peluang bagi mereka untuk berpartisipasi dalam pembangunan, UNFPA bekerja sama dengan pemerintah Indonesia baru-baru ini menerbitkan laporan Youth Mapping dan Youth Monograph.

Laporan ini berisikan data demografis generasi muda dan isu-isu yang dihadapinya di Indonesia, yang bisa digunakan oleh para pengambil keputusan dalam membuat kebijakan dan program yang cocok untuk generasi muda di Indonesia.

“Generasi muda saat ini lebih mobile, terpelajar, tidak menikah di usia dini, dan memiliki tingkat partisipasi lebih tinggi di pasar tenaga kerja jika dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Meski demikian, fase transisi generasi muda merupakan fase yang sangat rentan. Kami berhadap informasi pada laporan Youth Mapping dan Youth Monograph dapat membantu para pengambil keputusan dalam membentuk kebijakan-kebijakan yang bisa memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan generasi muda Indonesia,” tambah Kepala Perwakilan UNFPA Indonesia Jose Ferraris.

UNFPA merupakan lembaga pembangunan internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berkomitmen untuk menjalankan visi dunia dimana setiap kehamilan diinginkan, setiap kelahiran anak berlangsung aman, dan potensi setiap orang muda terpenuhi. UNFPA bekerja sama dengan pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan sektor-sektor swasta dengan menyediakan keahlian teknis di bidang-bidang sesuai mandatnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.