Antisipasi Inflasi Musiman

Rabu, 16/07/2014

Oleh: Imaduddin Abdullah

Peneliti Indef

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi pada bulan Juni 2014 sebesar 0,43%, laju inflasi tahun kalender sebesar 1,99% dan tingkat inflasi year on year sebesar 6,70%. Keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga barang di tengah memanasnya kompetisi politik di dalam negeri memang perlu diapresiasi. Akan tetapi, sesungguhnya masih ada tugas besar yang harus dipersiapkan pemerintah yaitu mencegah inflasi di bulan Juli.

Ancaman inflasi di bulan Juli tidak terlepas dari momen bulan puasa serta hari besar Idul Fitri. Tidak dapat dipungkiri bahwa kedua momen tersebut selalu menyebabkan munculnya inflasi musiman di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari data beberapa tahun terakhir. Misalnya, pada tahun 2013, inflasi di bulan Juli dan Agustus mencapai 3,29% dan 1,12%. Sedangkan pada tahun 2011 dan 2012, inflasi pada bulan puasa (Agustus) masing-masing mencapai 0,93% dan 0,95%.

Melihat data di atas, tidak berlebihan jika pemerintah segera mengambil ancang-ancang untuk mengantisipasi inflasi ramadhan karena dalam kurun tiga tahun terakhir inflasi di bulan tersebut selalu tinggi (di atas 0,9%). Terlebih, pada tahun ini terdapat beberapa faktor lain yang berpotensi ikut memberikan andil terhadap tingginya inflasi di bulan puasa. Beberapa faktor lain yang ikut mendorong inflasi antara lain adalah kenaikan tarif dasar listrik (TDL).

Kenaikan harga TDL ini akan memicu kenaikan inflasi dari sisi harga yang diatur oleh pemerintah (administered price). Selain kenaikan harga TDL, bencana El Nino juga diprediksi dapat ikut memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga pangan. Seperti yang terjadi pada bulan April 2014, bencana El Nino menyebabkan kekeringan dan menganggu produktivitas beberapa komoditas pangan terutama komoditas beras. Bila El Nino kembali melanda di bulan Juli, maka dapat dipastikan akan memberikan andil terhadap kenaikan harga komoditas pangan.

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, sumber utama inflasi berasal dari kenaikan harga pangan dan bahan makanan. Data dari Bank Indonesia (2014) menunjukkan bahwa aneka daging, aneka bumbu dan beras merupakan komoditi pangan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi ramadhan pada tiga tahun terakhir. Merujuk pada pola tersebut, maka inflasi ramadhan ini akan sangat memukul golongan masyarakat miskin karena 52% dari total pengeluaran masyarakat miskin digunakan untuk konsumsi pangan. Di saat inilah pemerintah harusnya menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka hadir untuk membantu meringankan beban hidup masyarakat miskin.

Mengingat inflasi musiman ini berasal dari sisi penawaran maka fokus pemerintah harus pada menjaga pergerakan harga komoditas terutama komoditas pangan. Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa paket kebijakan. Paling dasar adalah menjaga pasokan kebutuhan pokok. Dalam hal ini, perlu koordinasi antara Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Bulog dalam memastikan pasokan kebutuhan pokok. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menjamin kelancaran distribusi pasokan kebutuhan pokok.

Pemerintah pusat juga dapat memfokuskan pada beberapa daerah di Indonesia yang mengalami inflasi yang tinggi di beberapa tahun belakang. Menurut data dari Bank Indonesia (2014) inflasi di bulan puasa disumbang oleh kota-kota di Jawa seperti Depok dan Bekasi. Akan tetapi, perlu dicermati juga bahwa beberapa kota di kawasan Sumatera dan kawasan timur Indonesia mencatat inflasi yang lebih tinggi seperti Samarinda, Balikpapan, dan Bengkulu.