SMGR Mampu Efisiensi Rp 120 Miliar Pertahun

Bangun Pembangkit Gas Buang

Rabu, 16/07/2014

NERACA

Jakarta –Guna meningkatkan daya saing industri di tinggal nasional hingga regional, maka tuntutan efisiensi energi menjadi mutlak dilakukan dna tidak hanya sekedar ramah lingkungan. Cara inilah yang menjadi perhatian PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dengan pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan gas buang (Waste Heat Recovery Power Generation/WHRPG).

Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto mengatakan, pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan gas buang ini mampu menghemat listrik mencapai 152 juta kWh per tahun atau dengan biaya listrik sekitar Rp120 miliar per tahun,”Ini jadi strategi perusahaan untuk mengatasi naiknya tarif listrik yang kami beli dari Perusahaan Listrik Negara," ujarnya Jakarta, Selasa (15/7).

Dia menuturkan, pembangunan pembangkit listrik gas dengan kapasitas desain 30,6 megawatt (MW) ini merupakan hasil kerja sama dengan JFE Engineering Jepang (JFE). Dimana pembangkit listrik ini, diklaim bisa mengurangi penggunaan listrik di pabrik di Tuban.

Kata Dwi, penggunaan teknologi ramah lingkungan di pabrik Tuban tersebut, merupakan yang kedua di perseroan setelah sebelumnya diterapkan pada pabrik Indarung Padang dengan kapasitas 8,5 MW dan mulai beroperasi pada 2011,”Industri semen termasuk bisnis yang paling terkena dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk kelas industri di tahun 2014. Oleh karena itu, perseroan terus melakukan inovasi dan efisiensi di berbagai aspek, termasuk di bidang energi," jelasnya.

Pembangunan WHRPG di pabrik Tuban tersebut merupakan salah satu inisiatif perseroan untuk mengurangi ketergantungan energi yang bersumber dari PLN. Sekaligus mengurangi konsumsi batu bara oleh PLN. Terlebih penyesuaian TDL untuk industri akan terus dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengurangi beban subsidi energi.

Lanjutnya, WHRPG di pabrik Tuban akan dibangun di pabrik Tuban I, Tuban 2, Tuban 3, dan Tuban 4. Dengan begitu, ini merupakan kali pertama di Indonesia, dalam satu area seluruh gas buang dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik.

Asal tahu saja, pembangunan pembangkit listrik yang memanfaatkan gas buang ini menelan investasi sebesar Rp638 miliar dengan periode konstruksi sekitar 24 bulan, dihitung sejak kegiatan engineering sampai selesainya commissioning dan akan beroperasi pada akhir semester II tahun 2016. Dimana kandungan lokal dari proyek ini mencapai 52% dan sisanya merupakan kandungan impor yang dipasok JFE.

Selain itu, kata Dwi, pihaknya optimistis bisa mengatasi melambatnya permintaan (demand) semen di Indonesia. "Jadi kita memang harus antisipasi situasi itu. Kalau melemahnya kenaikan demand. Tidak turun, tapi kenaikannya melemah," ujar dia.

Lebih lanjut dia mengatakan, ketika semangat untuk membangun pabrik semen masih menggebu seperti sekarang ini, maka perusahaan plat merah ini akan kelebihan pasokan dalam 3-4 tahun ke depan,”Jadi untuk itu, maka ketika over supply, yang penting adalah daya saing. Seperti apakah kita menjadi perusahaan yang lebih efisien. Apakah kita punya jaringan distribusi yang sebaik-baiknya, ini yang kita siapkan," kata Dwi.

Bahkan dia meyakini, sejauh ini perseroan siap menghadapi persaingan. Tidak hanya itu, Semen Indonesia menurut Dwi, bisa menjadi leadership di cost, selain itu perseroan juga memiliki 22 jaringan packing plant di seluruh Indonesia yang bisa mendukung kompetisi di industri semen Tanah Air,”Kita Semen Indonesia bisa leadership di cost, kita punya jaringan packing plant yang 22 packing plant di seluruh Indonesia. Saya kira, itu menjadi modal saat persiangan meningkat,”tandasnya. (bani)