Dana Obligasi Antam Terserap 94%

Capaian Hingga Akhir Juni

Rabu, 16/07/2014

NERACA

Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) hingga akhir Juni tahun ini telah menyerap sekitar 94% dana hasil Obligasi Berkelanjutan I Antam Tahap I Tahun 2011 senilai Rp3 triliun. Hal tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (15/7).

Disebutkan, hingga akhir Juni dari hasil bersih obligasi berkelanjutan senilai Rp2,99 triliun telah digunakan sebesar Rp2,81 triliun. Dimana dana sebesar itu seluruhnya digunakan untuk ekspansi. Investasi rutin dialoaksikan sebesar Rp672,05 miliar dan baru terealisasi sekitar 86,69% atau sekitar Rp582,6 miliar.

Investasi rutin terbagi untuk unit bisnis pertambangan nikel Sulawesi Tenggara dialokasikan Rp161,58 miliar dan baru terealisasi 92,39% atau Rp149,28 miliar, unit bisnis pertambangan nikel di Maluku Utara sebesar Rp261,22 miliar dan terealiasi 70,46% atau Rp184,06 miliar. Sedangkan alokasi untuk unit bisnis pertambangan emas Rp249,25 miliar sudah terserap semua.

Sementara alokasi untuk pengembangan usaha mencapai Rp2,32 triliun, di mana sebesar Rp2,03 triliun telah digunakan untuk renovasi dan modernisasi pabrik feronikel di Pomalaa, pembukaan tambang nikel di Maluku Utara dan atau Sulawesi Tenggara dan atau tambang bauksit di Kalimantan Barat terpakai Rp190,03 miliar atau 66,57% dari alokasi Rp285,46 miliar.

Dengan demikian, sisa dana obligasi perseroan senilai Rp184,88 miliar ditempatkan dalam bentuk deposito senilai Rp179,5 miliar di Bank Permata dan dalam bentuk giro senilai Rp5,38 miliar di Bank Mandiri. Sebagai informasi, kinerja keuangan PT Aneka Tambang Tbk tidak sekilau emas yang diproduksi dan di jual. Pasalnya, sampai dengan kuartal pertama tahun ini, perseroan masih mencatatkan rugi bersih Rp 272,6 juta dan pendapatan sebesar Rp2,3 triliun.

Disebutkan, pada periode tersebut, penjualan perseroan turun dari periode yang sama 2013 sebesar Rp3,33 triliun. Padahal beban pokok penjualan sebesar Rp2,2 triliun dari Rp2,6 triliun. Namun laba bruto perseroan turun drastis menjadi Rp44,2 miliar dari Rp664,7 miliar. Kemudian untuk beban usaha sebenarnya menurun menjadi Rp140 miliar dari Rp237,7 miliar.

Maka dengan demikian rugi laba bersih mencapai Rp95,7 miliar dari Rp427,06 miliar. Kemudian dengan pajak penghasilan Rp31,5 miliar maka rugi mencapai Rp272,6 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun 2013 perseroan masih mengalami keuntungan Rp407,6 miliar.

Selain itu, penurunan juga terjadi pada total aset menjadi Rp21,4 triliun dari Rp21,8 triliun dan demikian juga dengan total liabilitas turun menjadi Rp9,02 triliun dari Rp9,07 triliun. Sebelumnya, perseroan diganjar penurunan peringkat korporasi perusahaan oleh tiga lembaga pemeringkat, diantaranya oleh Moody’s Investors Services dari Ba3 menjadi B2 dan dari B+ menjadi B– dari Standard and Poor’s Ratings Services. Peringkat obligasi perusahaan juga berubah menjadi idA dari sebelumnya idAA–oleh perusahaan pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). (bani)