Menanti Geliat Minat IPO Pasca Pilpres

NERACA

Jakarta – Meski terjadi perbedaan pendapat dalam perhitungan cepat atau quick count soal capres yang unggul oleh lembaga survei, kondisi ini tidak memberikan dampak signifikan terkait kepastian bagi pelaku pasar. Pasalnya, pasar sudah menyambut baik suksesnya pelaksanaan pemilu presiden (pilpres) yang aman, damai dan terkendali. Hal ini ditandai dengan melesatnya laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tembus level 5.000.

Lalu bagaimana dengan minat perusahaan yang akan menawarkan saham perdananya atau initial public offering, apakah akan tumbuh melesat juga. Menurut Kepala Ekonom Danareksa, Purbaya Yudhi Sadewa, pelaksanaan pilpres yang aman dan damai memberikan sentiment positif terhadap pelaku pasar terkait perkembangan politik dan ekonomi Indonesia,”Volatilitas Indeks Saham Diprediksi Tinggi Usai Pilpres, begitu juga dengan minat IPO,”ujarnya.

Dia menilai pelaku pasar keuangan dinilai akan lebih optimistis terhadap prospek pasar keuangan dan ekonomi Indonesia ke depan. Meski demikian kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang mendeklarasikan kemenangan memberikan ketidakpastian yang baru di pasar.

Menuru dia, investor telah menunggu perkembangan politik bahkan sejak pemilihan umum legislatif. Melihat kondisi itu, posisi underweight yang diambil oleh pasar pelaku pasar berpotensi besar menjadi inflow dalam beberapa waktu ke depan.

Sementara Direktur Penilaian BEI Hoesen menegaskan, paca pilpres minat perusahaan IPO tetap tinggi tahun ini. Terlebih, saat ini kondisi pasar cukup kondusif di tengah kontroversif perbedaan hitung cepat pilpres oleh lembaga survei, “Menguatnya indeks harga saham gabungan pasca pemilihan presiden membuat kita optimis target 30 emiten yang melantai di bursa tercapai pada tahun ini,”ungkapnya.

Hoesen menjelaskan, pada tahun ini BEI menargetkan akan ada 30 emiten dan sekarang sudah tercatat sebanyak 16 emiten. Sebelumnya, PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP) sudah mencatatkan saham perdana (listing) dan rencananya akan ada dua lagi yang segera listing,”Maka bila ditotalkan, sudah mencapai 18 emiten yang listing,”tuturnya.

Setidaknya sudah ada satu perusahaan yang masuk pipeline dan sisanya masih dalam proses. Dimana calon emiten yang balak listing memakai buku laporan keuangan Juni dan tinggal menunggu hasil audit, “Kalau audit laporan keuangan paling akhir bulan Juli. Calon emiten yang bakal listing, diantaranya sektor ritel, yang Toko Buku itu," pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad, secara umum untuk jangka menengah hingga panjang seluruh pihak optimis dengan kondisi perekonomian Indonesia. Paska pilpres, sentimen baru pun akan berkembang,”Saya berharap begitu (meningkatkan minat IPO). Mudah-mudahan paska pilpres bisa menumbuhkan sentimen baru, optimisme baru, sehingga kita bisa mulai bangun industri keuangan, terutama pasar modal kita. Terutama dengan meningkatnya confident para investor," kata Muliaman kepada pers, kemarin.

Penambahan jumlah perusahaan yang sahamnya ditawarkan ke publik melalui bursa saham tersebut dikatakan Muliaman akan dapat meningkatkan daya saing industri keuangan dan perusahaan di Indonesia.

Namun sayangnya hingga saat ini OJK tidak memiliki target spesifik terkait jumlah perusahaan yang berminat melakukan IPO pasca pilpres. Sebab, menurut dia penguatan IHSG banyak ditentukan faktor sentimen."Tidak ada secara spesifik. Kita sadar itu pengaruhnya banyak ditentukan sentimen atau fundamental," jelasnya.

Sedangkan anggota Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Budi Frensidy menilai, sektor infrastruktur diperkirakan paling diminati oleh investor seiring program-program kedua capres-cawapres yang berkomitmen mendorong pembangunan,”Saham sektor infrastruktur akan diminati investor dan akan diikuti saham sektor lainnya," ujarnya.

Dia juga meyakini target Bursa Efek Indonesia menjaring sebanyak 30 perusahaan melakukan IPO dapat tercapai. Dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tumbuh akan mendorong perusahaan ekspansi dan mencari modal, slah satunya melalui pasar modal."Minat saham IPO masih akan terus tinggi, dan pasar modal Indonesia masih berpotensi tumbuh ke depannya," kata Budi Frensidy.

Dia mengharapkan presiden mendatang dapat membenahi sistem birokrasi yang dinilai masih kurang nyaman bagi investor global dalam melakukan investasi di dalam negeri,”Birokrasi masih menjadi penghambat utama di bidang pembangunan Indonesia. Presiden RI mendatang harus bisa mengatasi itu," katanya. agus/bani

BERITA TERKAIT

KARENA TIDAK BERDASARKAN SURVEI KHL - KSPI Tolak Kenaikan UMP 2020 Sebesar 8,51%

Jakarta-Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menolak kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2020 yang ditetapkan pemerintah sebesar 8,51%.…

Idealnya, Kabinet Kerja Jilid II Diisi Figur Berkualitas

  NERACA Jakarta - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), Roni Tabroni mengharapkan tim Kabinet Kerja II idealnya diisi…

KUALITAS SDM INDONESIA PERLU DITINGKATKAN - Daya Saing Turun Akibat Biaya Logistik Tinggi

Jakarta-Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional /Kepala Bappenas Prof. Dr. Bambang PS Brodjonegoro menegaskan, tingginya biaya logistik di Indonesia berdampak pada…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Presiden dan Wapres Terpilih Hadapi Lima Tantangan Besar

NERACA Jakarta-Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024, Jokowi dan Ma'ruf Amin, akan menghadapi lima tantangan besar yaitu: pertumbuhan ekonomi…

USAI PELANTIKAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN RI PERIODE 2019-2024 - Sejumlah Negara Komit Bermitra dengan Indonesia

Jakarta-Sejumlah Kepala Negara sahabat menyatakan keinginan meningkatkan kerja sama ekonomi dengan Indonesia di pemerintahan Presiden Jokowi periode ke-2. Keinginan tersebut…

KARENA TIDAK BERDASARKAN SURVEI KHL - KSPI Tolak Kenaikan UMP 2020 Sebesar 8,51%

Jakarta-Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menolak kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2020 yang ditetapkan pemerintah sebesar 8,51%.…