Pasar Obligasi Dinilai Tidak Likuid - Minim Transaksi dan Seri

NERACA

Jakarta –Meskipun pasar obligasi dalam negeri menawarkan kupon bunga yang mahal, namun faktanya dilapangan pasar obligasi Indonesia dinilai masih tidak likuid dibandingkan dengan pasar obligasi di negara tetangga.

Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Wahyu Trenggono mengakui, pasar obligasi dalam negeri tidak likuid dibandingkan dengan negara lain. Alasannya, karena dari 400-500 seri obligasi yang beredar ternyata hanya sekitar 5% saja yang selalu ditransaksikan, “Dari 5% yang ditransaksikan, sisanya yakni sekitar 95% jarang di perjual belikan di pasar sekunder. Salah satu penyebabnya adalah masih minimnya jumlah seri obligasi yang diterbitkan korporasi maupun pemerintah,”ujarnya di Jakarta, Senin (14/7).

Dia menuturnya, minimnya transaksi obligasi juga dipengaruhi karena minimnya seri obligasi dan variasi obligasi yang diterbitkan. Tercatat hanya terdapat 500 seri obligasi baik obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi bandingkan dengan seri obligas di negara tetangga yang mencapai 3.000 seri.

Selain itu, saat ini secara rata-rata satu seri obligasi diperdagangkan sebanyak tiga kali dalam satu tahun perdagangan, dengan volume Rp63 miliar. Kata Wahyu, agar likuiditas obligasi meningkat maka perlunya meningkatkan jumlah korporasi yang menerbitkan obligasi.

Dia menjelaskan, dengan semakin banyak seri obligasi yang diterbitkan maka akan semakin banyak pilihan bagi manager investasi untuk menambah supply,”Kalau sedikit pilihannya maka seri obligasi bagua akan di simpan sebab takut tidak ada pilihan lainnya,”tuturnya.

Di samping itu, variasi obligasi perlu di perbanyak, sebab selama ini 90 persen seri obligasi merupakan pendapatan tetap atau fix rate, bagi perusahaan sektor tertentu hal ini tidak menarik,”Misalkan untuk perusahaan perkebunan di mana panen 5 tahun ke depan sejak penerbitan obligasi. Variasi kupon juga yang seperti zero kupon," tutupnya.

Lanjutnya, untuk meningkatkan likuiditas pasar obligasi diperlukan fleksibilitas dalam penerbitan obligasi guna mendorong emiten menerbitkan obligasi,”Undewriter harus menjelaskan ke emiten ada penerbitan obligasi yang sifatnya fleksibel,”tandas Wahyu Trenggono.

Wahyu menjelaskan kalau felsibel akan memudahkan emiten menerbitkan obligasi. Sebab ada emiten yang melakukan ekspansi jangka 5 tahun baru menghasilkan,”Kayak perkebunan sawit yang mau nerbitkan obligasi bisa pakai zero kupon yang bisa bayar kupon pas 5 tahun bagi perkebunan sawit," katanya.

Dia menambahkan, ada lagi obligasi dengan sifat flotingan. Ini menurutnya cocok bagi eksportir dan importir, karena mereka tergantug dari kurs dan inflasi. Selain itu, lanjut Wahyu selama ini obligasi 95% bentuknya fix rate. "95% Fix rate obligasi karena pinjam bayar kupon, apakah 3 atau 6 bulan dan setahunan bayar kupon," jelasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Pasar Obligasi Diproyeksikan Bergerak Sideways - Menanti Sentimen The Fed

NERACA Jakarta - Pekan ini pasar obligasi domestik diperkirakan bergerak sideways. Pasalnya, para pelaku pasar masih akan menunggu pengaruh sentimen-sentimen…

Penggunaan Dolar dalam Transaksi Perdagangan Bilateral Dikurangi

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menerbitkan peraturan penyelesaian transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal (local…

ADHI Baru Serap Obligasi Rp 966,73 Miliar

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) baru menggunakan dana hasil penerbitan obligasi berkelanjutan II Tahap I Tahun 2017 sebesar Rp966,73 miliar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Targetkan Transaksi 500 Ribu Lot - Rifan Financindo Berjangka Optimis Tercapai

NERACA Surabaya - Meskipun Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) memangkas target transaksi 30% lantaran kondisi ekonomi…

Tingkatkan Layanan Digital - Taspen Kerjasama Sinergis Dengan Telkom

NERACA Jakarta - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bersama PT Taspen (Persero) bersinergi mengembangkan dan mengimplementasikan digitalisasi pelayanan pembayaran pensiun…

XL Hadirkan Asisten Virtual MAYA

Dinamisnya era digital mengharuskan perusahaan untuk terus melakukan inovasi teknologi agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. Tidak sebatas produk, layanan pelanggan…