Kinerja Obligasi Indonesia

Oleh : Tumpal Sihombing

Indonesia Bond Strategist - BondRI

Dalam ranah obligasi, ada ragam indikator umum sering digunakan oleh para pelaku pasar/investor dalam mengukur kinerja emisi (penerbitan) obligasi. Aspek tingkat penyerapan di fasa front-loading sering digunakan emiten, termasuk rasio oversubscribe, bid-to-cover, hingga jumlah investor. Benarkah hal itu layak dijadikan sebagai ukuran kinerja dalam ranah obligasi? Jawabannya, tidak! Indikator tersebut bukan ukuran efektivitas kinerja obligasi baik bagi emiten pemerintah maupun perusahaan.

Pasca emisi obligasi, selanjutnya adalah urusan kewajiban pelunasan utang emiten terhadap investor dan menghindari wanprestasi (emiten tak sanggup lunasi kewajiban kupon/pokok). Banyak berita bernuansa kegembiraan sering terpantau di ragam media jika emiten berhasil melakukan penyerapan dana triliunan dari masyarakat investor via emisi obligasi. Ini merupakan suatu persepsi yang salah kaprah dalam ranah kebijakan obligasi. Persepsi ini harus diubah. Jika tidak, pasar salah arah.

Untuk surat berharga negara, ada beberapa ukuran kinerja digunakan dalam suatu emisi (baik efek konvensional maupun non-konvensional). Hal penting yang perlu dicatat dalam mengukur kinerja obligasi pemerintah adalah kaitannya dengan ragam indikator seperti debt coverage ratio, debt-to-GDP ratio, rasio defisit anggaran, tax ratio, rating investasi, posisi negara dalam peta (kuadran +x/+y)untuk indikator debt-to-GDP/yield obligasi acuan dan indikator pertumbuhan ekonomi/laju inflasi, serta debt critical point ratio (3 yang terakhir adalah indikator BondRI).

Untuk debt-to-GDP ratio (absis) dan yield obligasi acuan 10-thn(ordinat), posisi pasar obligasi kita mirip dengan Vietnam, yield tinggi dengan debt-to-GDP ratio yang relatif kecil (ini bukan berarti favourable). Ekstrim berbeda dialami oleh Jepang, dimana figur debt-to-GDP ratio relatif besar dengan yield acuan yang relatif sangat rendah di pasar Asia. Kondisi moderat dialami Singapura, dimana yield obligasi acuannya jauh di bawah yield Indonesia sementara Debt-to-GDP ratio-nya jauh di bawah Jepang. Kinerja pasar obligasi Singapura terhitung mendekati figur rerata untuk pasar kawasan Asia. Dari perspektif makro, kinerja pasar obligasi negara kita juga bisa dinilai dari posisi negara dalam peta indikator pertumbuhan ekonomi (absis) dan laju inflasi (ordinat). Berdasarkan peta ini, Indonesia berada pada posisi yang dekat dengan India, growth nya di bawah figur beberapa negara ASEAN (Vietnam/Filipina/Malaysia) namun dengan laju inflasi lebih tinggi daripada ketiganya.

Secara umum, kinerja dan posisi kompetisi pasar obligasi Indonesia masih relatif rendah dibanding prestasi negara tetangga Asia. Pemerintah kita masih harus membenahi strategi dan kebijakan pengelolaan pasar obligasi domestik jika ingin tingkatkan daya saing. Ingat: MEA 2015 sudah dekat.

Related posts