Suku Bunga Tinggi Hambat UMKM Tumbuh

NERACA

Jakarta - Ketua Dewan Pengurus Pusat Persatuan Wirausaha Muda Indonesia (PWMI), Irfandi Romas, menyatakan tingginya suku bunga perbankan saat ini memukul k

eberadaan sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Dia berharap presiden baru dapat lebih memerhatikan perkembangan bisnis UMKM.

"Pemerintah harus mendorong agar para pelaku UMKM dapat meningkatkan kualitas dan daya saing menyambut era pasar bebas dan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015," kata Ketua DPP-PWMI, Irfandi Romas, di Jakarta akhir pekan kemarin.

Irfandi melanjutkan, pada akhir bulan lalu, perbankan kembali menaikkan suku bunga dasar kredit (SBDK), dan kenaikan ini terjadi hampir pada seluruh jenis kredit.

"Tingginya suku bunga perbankan dapat membebani dunia usaha terutama pelaku bisnis UMKM, karena laju pengembangan usaha ini cukup bergantung pada keberadaan modal usaha antara lain dari kredit perbankan," ujarnya.

Irfandi meminta perbankan memberi keringanan suku bunga kredit pada UMKM. Pasalnya, sektor ini sudah terbebani dengan kenaikan upah, tarif listrik, inflasi, dan biaya-biaya lainnya.

"Perbankan seharusnya dapat lebih menambah penetrasi pasar dengan menggenjot porsi kredit bagi sektor UMKM, karena usaha ini merupakan sektor yang punya prospek jangka panjang dan cakupan cukup besar," ujarnya.

Selain itu, dia menambahkan, pemerintah harus menambah program subsidi dan pelatihan bagi pengusaha kecil. Pendidikan kewirausahaan harus menjadi kurikulum wajib di setiap sekolah. Hal ini dipercaya dapat memajukan dunia UMKM di Indonesia, agar produk UKM bisa banyak masuk ke pasar modern dan global serta dapat meningkatkan kualitas SDM para pelaku bisnis.

"Ingat, UMKM dapat menopang peningkatan ekonomi masyarakat, serta memajukan perekonomian bangsa," paparnya.

Sedangkan menurut Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P. Roeslani mengatakan, kontribusi UKM bagi penguatan ekonomi daerah sangat besar sehingga semua pihak harus melakukan upaya-upaya penguatan UKM agar bisa meningkatkan produktivitas dan lebih berdaya saing. “Sektor UKM daerah sudah seharusnya dapat menjadi andalan penopang perekonomian nasional, terlebih lagi bagi UKM yang sudah bisa melakukan ekspor,” tutur Rosan dalam keterangan pers yang diterima Neraca.

Rosan juga menilai, dengan potensi yang ada, masa depan Indonesia ada di daerah-daerah. Di tingkat daerah, kata dia, potensi demikian beragam mulai dari pariwisata, pertambangan, pertanian hingga industri kecil-menengah, dan lain-lain. “Masing-masing daerah memiliki keunggulannya, kita harapkan pemerintah daerah juga bisa semakin menyadari dan mempraktekkan akan pentingnya kebijakan daerah yang business friendly,” jelasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Tempo 48 Jam, Pemerintahan Jokowi Bangun Jembatan Sementara Padang-Bukit Tinggi

Tempo 48 Jam, Pemerintahan Jokowi Bangun Jembatan Sementara Padang-Bukit Tinggi NERACA Jakarta - Sejak adanya informasi jembatan roboh di jalur…

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Asosiasi Dukung Penindakan Fintech Ilegal

      NERACA   Jakarta - Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH) mendukung penindakan hukum terhadap aksi perusahaan teknologi finansial (tekfin)…

Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Kredit 11,5%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen pada 2019 lebih rendah…

Adira Insurance Berikan Penghargaan 23 Kota - Sistem Tata Kelola Keselamatan Jalan

      NERACA   Jakarta - Asuransi Adira menyelenggarakan Indonesia Road Safety Award (IRSA) sebagai upaya untuk menyadarkan pentingnya…